Berbagi Berita Merangkai Cerita

Nikah Berkali-kali, Istri Keenam Laporkan Oknum ASN Kejari Praya ke Kajati NTB

149

FOTO. Inilah kantor Kejari Praya, Lombok Tengah yang merupakan tempat SZ (52 tahun) bekerja setiap harinya. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Seorang oknum pegawai di Kejaksaan Negeri Praya berinisial SZ (52 tahun) dilaporkan oleh istri keenamnya karena menikah lagi.

SZ yang bekerja sebagai Pegawai Tata Usaha di Kejaksaan Negeri (Kejari) Praya, Lombok Tengah, memiliki tujuh istri. Tiga telah memiliki akta nikah dan empat istri lainnya dinikahi secara siri.

Selain tujuh istri, SZ juga memiliki satu kekasih yang belum dinikahi. Dia diduga tinggal serumah dengan kekasihnya berinisial HM (40).

Buntut aksinya tersebut, Koalisi Perlindungan Perempuan dan Anak NTB mengadvokasi istri ke-enam SZ dengan melaporkan SZ ke Kejati NTB dan Kejari Praya.

Aktivis Koalisi Perlindungan Perempuan dan Anak, Yan Mangandar Putra, mengatakan pada tahun 1990 SZ menikah dengan perempuan berinisial W dan dikaruniai empat anak.

“Saat SZ menikah dengan W, dia juga menikahi tiga istri lainnya (inisial BC, PZ dan PL) secara siri,” ujarnya, Rabu (1/9).

Kemudian pada 2004, SZ menceraikan istri pertamanya secara agama tanpa melalui proses cerai di Pengadilan Agama.

“Seharusnya saat ini istri pertama berhak memperoleh pembagian gaji termasuk hak anak-anaknya,” ujarnya.

Uniknya, SZ menikahi istri kedua dan ketiga secara siri di hari bersamaan. Dia menikah dengan BC pada siang hari dan menikahi PZ pada malam hari.

SZ menikahi BC dengan tidak membuahkan anak. Sementara dengan istri ketiga memiliki dua anak. Namun belum lama pernikahan mereka, SZ kembali menceraikan PZ.

“Kemudian pernikahan dengan istri keempat (berinisial PL) mendapatkan satu anak. Tapi perkawinan tersebut tidak berlangsung lama karena SZ menalak secara sepihak istri keempatnya,” kata Yan.

Sementara dengan istri kelima berinisial BA dinikahi oleh SZ secara agama. Dia mengaku pada BA telah menceraikan semua istrinya. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai dua anak.

“Namun SZ menceraikan BA. Sehingga saat ini BA bekerja di Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan anaknya,” ujarnya.

Tidak sampai di situ, SZ lagi-lagi menikah. Kali ini dengan GA seorang mualaf dan tinggal di rumah dinasnya bersama istri pertama.

“Pada Maret 2021 SZ lagi-lagi bercerai. Dia menjatuhkan talak ke GA tidak secara langsung. Tapi melalui bibi istrinya (GA),” katanya.

SZ juga tinggal serumah dengan HM yang merupakan calon istri ketujuh. Tapi hingga saat ini belum menikah.

Alih-alih menikahi HM, SZ justru menikah dengan perempuan lain berinisial WD asal Gerunung Lombok Tengah. Dia menjadi istri ketujuh.

“Pernikahan dengan istri ketujuh secara sah di KUA. Sementara istri pertama statusnya belum cerai,” ujarnya.

Kasi Penkum dan Humas Kejati NTB, Dedi Irawan, membenarkan adanya laporan tersebut. Namun ia mengatakan masih dalam proses klarifikasi.

“Itu memang benar (laporannya). Tapi masih diklarifikasi,” ujarnya.

Dedi mengatakan yang bersangkutan bukan jaksa, namun PNS yang bekerja di kejaksaan. Sehingga sanksi disesuaikan dengan peraturan aparatur sipil negara (ASN).

“Nanti ada putusannya. Bukan sanksi etik, karena dia bukan jaksa tapi pegawai tata usaha di kejaksaan,” katanya.

Jika terbukti benar SZ menikah dengan tujuh istri tanpa prosedur yang sesuai ketentuan, maka akan dikenakan sanksi.

“Nanti akan diputuskan apakah sanksi ringan, sedang dan berat sesuai PP Nomor 55 (tentang ASN),” tandasnya. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.