Berbagi Berita Merangkai Cerita

Nakes Terpapar Corona, Dirut RSUD NTB Akui Sudah Terapkan Standar Covid-19

14

MATARAM, DS – Sejumlah tenaga kesehatan (Nakes) di RSUD Provinsi NTB terkonfirmasi positif corona. Mereka diduga terpapar dalam perjuangannya merawat pasien corona yang dirujuk ke RS tersebut.

Namun, bukan berarti RSUP Provinsi NTB kemudian rawan corona. Pihak manajemen melakukan sejumlah langkah untuk meminimalisir penyebaran corona dengan memperketat protokol Covid-19.

“Benar ada dokter, perawat, tenaga kesehatan dan staf manajemen yang kena. Tapi semua sudah ditangani dengan baik,” ujar Direktur RSUD Provinsi NTB, H Lalu Hamzi Fikri, Kamis (28/5).

Hamzi menjelaskan, para nakes yang terpapar sudah di-off-kan dari tugas, dan saat ini sudah menjalani isolasi perawatan di RS Darurat NTB di Asrama Haji. “Sudah kita off-kan, rekan-rekan ini sudah dibawa ke Asrama Haji dan alhamdulillah kondisi baik. Tracing juga sudah kita lakukan dan uji swab sehingga cepat diketahui penyebarannya dan eksekusi penanganan juga lebih cepat,” katanya.

Hamzi mengatakan, pelayanan di RSUD Provinsi NTB sudah menerapkan standar Covid-19. Para tenaga medis selalu menggunakan APD standar, selama menangani pasien berisiko, termasuk merawat pasien corona di instalasi isolasi.

Menuut dia, RSUD juga sudah sangat ketat dalam menjalankan protokol Covid-19 dan penggunaan APD di semua tempat di RSUD. “APD itu kebutuhan pertama dan utama bagi Nakes. Mereka tidak akan mau melayani tanpa APD, sebelum Covid pun kami sudah sangat ketat,” ucapnya.

Namun, tambah dia, Nakes juga manusia biasa. Apalagi RS merupakan tempat orang sakit dan risiko para petugas memang sangat tinggi. “Di RS  besar di Jakarta, RS Sarjito, RSCM dan masih banyak RS lain, Nakes-nya juga ada yang positif. Yang terpenting pelayanan tetap jalan sesuai standard,” paparnya.

Terkait pelayanan di RSUD Provinsi NTB, Hamzi mengatakan, pihaknya mengatur kembali strategi pelayanan, dengan penyesuaian proporsi beban kerja.

Selain itu, untuk memutus mata rantai corona, RS juga mewajibkan seluurh pengunjung menggunakan masker. Jika tidak maka tidak akan dilayani.

Physical distancing tetap harus dilakukan, termasuk pemeriksaan suhu tubuh bagi masyarakat yang berkunjung. “Pasien juga tidak boleh dibesuk. Penjaga pasien juga kita dibatasi. Jadi yang non pasien pun discreening, karena saat ini yang tanpa gejala pun punya resiko. Istilahnya, anda punya resiko menularkan ke saya dan saya punya resiko juga menularkan ke anda. Sehingga masker menjadi sangat penting,” tandasnya.

Hamzi mengungkapkan, selain fokus menangani Covid-19, RSUD NTB juga harus berjibaku melayani pasien dengan penyakit non Covid-19. Hal ini menyebabkan, pelayanan harus tetap berjalan dengan baik. Agar jangan sampai Covid-19 terlayani, sementara non Covid-19 justru bertambah angkanya.

Menurutnya, saat ini yang sangat dibutuhkan oleh para tenaga medis yang berjuang di garda terdepan, ialah support dan doa dari semua pihak dan masyarakat.

“Tolong support kami, support tenaga kesehatan. Karena saat ini ada kelelahan fisik dan psikis yang harus dihadapi. Peperangan belum berakhir. Tapi kami optimis dan semangat, suatu saat ini akan berakhir,” tukas Hamzi.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr Nurhandini Eka Dewi mengatakan, secara komulatif hingga Rabu (27/5) sebanyak 67 tenaga kesehatan di enam rumah sakit dan satu Puskesmas di NTB terpapar corona.

Tapi bukan soal Nakes terpapar itu yang menjadi point terpenting. Point pentingnya adalah bagaimana masyarakat benar-benar mau dan terus disiplin mengikuti anjuran pemerintah, jagak jarak, rajin cuci tangan dan selalu gunakan masker. “Pesan moral dari banyaknya Nakes yang positif adalah, Nakes yang sudah pakai alat pelindung level 2 dan 3 saja masih bisa jebol pertahanannya, apalagi masyarakat yang abai dan lalai memakai pelindung untuk mereka seperti masker dan lainnya,” jelas dokter Eka.

Menurut Eka, peningkatan kasus corona di NTB ini menjadi pesan agar kewaspadaan semua masyarakat lebih memingkat. Untuk melindungi diri dan keluarga lebih ketat sehingga tidak terpapar oleh virus corona. “Jalan terbaik adalah di rumah saja,” tandas Eka. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.