Berbagi Berita Merangkai Cerita

MUI NTB : Isu Kepemimpinan Perempuan Ganggu Kestabilan Politik Berbangsa dan Bernegara

0 11

MATARAM, DS – Ketua MUI Provinsi NTB, Prof. H. Saiful Muslim meminta isu menyangkut kepemimpinan perempuan di satu wilayah jangan lagi diperdebatkan. Mengingat, persoalan kepemimpinan perempuan sudah klear, serta tidak ada perdebatan apapun sejak era Presiden kelima Hj. Megawati Soekarno Putri yang menggantikan Almarhum Presiden KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur

“Bagi saya isu pemimpin perempuan itu hanyalah permainan sekelompok orang yang ingin menjegal calon tertentu. Padahal, itu sebatas hanya perbedaan prinsip yang tidak layak lagi dipertentangkan di Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Saiful menjawab wartawan melalui telpon selulernya, Kamis (12/12).

Ia menegaskan isu kepemimpinan perempuan tak ubahnya hanya sebatas isu politik yang berdampak pada ketidak stabilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, isu kepemimpinan itu akan bisa menjadi liar, manakala ada sekelompok tertentu yang berkeinginan membuat kegaduhan dalam iklim perpolitikan, khususnya menjelang kontestasi Pilkada seperti saat ini. Apalagi, kata Saiful, tujuannya untuk menyampaikan hajatnya agar calon tertentu kalah sebelum bertanding.

“Baiknya, isu kayak gini jangan dibawa kemana-mana. Karena ingin, hajatnya tercapai, lantas isu-isu yang enggak perlu lantas diungkit kembali. Ini bahaya, di tengah kultur masyarakat kita di Indonesia seperti saat ini. Nanti, biarlah ada fatwa yang bicara, jangan yang dilapangan bicara seenaknya, terus mereka viralkan dengan mudah ke ruang publik,” tegas Prof Saiful menjelaskan.

Dalam kontestasi Pilkada saat ini. Menurut dia, sejatinya hal-hal yang haram akan bisa di halalkan. Termasuk, yang haram juga akan bisa menjadi halal sepanjang hal itu dilakukan semata-mata untuk memuluskan keinginan jago yang diusungnya akan bisa memenangi pertarungan politik itu.

Meski demikian, perhelatan Pilkada di wilayah lainnya di Indonesia. Salah satunya, di Jawa Timur, dimana Gubernur terpilih adalah Khofifah Indar Parawangsa, memang isu-isu menjatuhkan kepemimpinan perempuan acap kali muncul.

Namun lantaran, para Kyai sudah mulai sadar, maka isu-isu akhirnya bisa di lokalisir. Mengingat, banyak kepemimpinan perempuan yang justru berhasil di Indonesia, mulai level Gubernur hingga bupati dan wali kota saat ini.

“Untuk Pilkada di NTB, saya minta jangan sampai ada isu-isu kepemimpinan perempuan itu akan muncul lagi. Karena, bahayanya akan bisa membuat umat Islam akan terbelah akibat sikap fanatisme yang berlebihan kayak gitu. Padahal, bukti sudah jelas di banyak tempat jika pemimpin perempuan banyak yang berhasil membawa kesejahteraan pada masyarakatnya,” jelas Prof Saiful.

Terkait Pilkada Mataram 2020, kendati masih menunggu tawaran gagasan dan program yang ditawarkan para calon wali kota yang akan muncul untuk membangun Kota Mataram yang lebih baik, Prof Saiful berharap agar slogan Kota Mataram yang sudah relegius akan bisa ditingkatkan lagi menjadi Kota Halal. Hal itu menyusul di beberapa wilayah dan negera di dunia, predikat Kota Halal itu sangat membantu kepastian pada wisatawan yang datang terkait akomodasi, makanan dan lokasi menginap mereka.

Oleh karena itu, para pakar dan ahli yang mendampingi para calon wali kota agar bisa membuat formula pada calon yang diusungnya untuk bisa mengusung tema Kota Halal itu.

“Insya Allah, kalau sudah kata Halal itu, maka wisatawan akan bisa betah berlama-lama untuk menghabiskan liburannya. Mengingat, kepastian terkait ketersedian yang dikehendakinya tergaransi ada di wilayah yang dimaksud,” tandasnya.

“Saya enggak ingin, jangan sampai masjid jumlahnya banyak tapi perilaku orangnya enggak halal di Mataram,” sambung Prof. H. Saiful Muslim. RUL.

Leave A Reply