Berbagi Berita Merangkai Cerita

Mengapa Ali BD Menentang Istilah Wisata Halal? Oleh: Mujahid Doni Supanra

0 22

Istilah wisata halal dan syariah ditujukan kepada wisatawan Muslim dunia. Namun istilah ini adalah bentuk sebuah hillah atau rekayasa hukum dari manusia untuk menjadikan kegiatan wisata yang dipandang “sesuai dengan hukum atau syariat Islam”. Karena sesungguhnya kegiatan wisata lebih mengarah pada bersenang-senang dengan menghamburkan uang.

Istilah ini sebenarnya tidak keliru jika menjadi konsumsi ummat Islam sendiri. Tetapi jika berbicara tentang pariwisata seara global dan umum, istilah wisata Syariah dan wisata halal sebagai brand wisata Lombok/NTB bisa menjadi kontraproduktif. Sebab, itu mengidentikkan NTB sebagai tempat wisata yang cocok hanya bagi ummat Islam. Sementara itu berapa banyak sih ummat Islam dunia yang melakukan kegiatan wisata? Mau mengharapkan ummat Islam dari Timur Tengah?…Boleh saja tetapi jumlahnya sedikit karena umumnya orang-orang kaya Timur Tengah justru memilih Eropa dan Amerika sebagai “surga dunia”… Buktinya Raja Salman sendiri lebih memilih Bali daripada NTB yang sudah meraih gelar tujuan wisata halal dan tujuan bulan madu halal dunia.
Saya ikut memberikan suara untuk Lombok sebagai pilihan sebelum keputusan panitia di Dubai diambil melalui survey di internet. Sedangkan kriteria yang lain ditentukan oleh GMTI.

Global Muslim Travel Index (GMTI) telah membuat kriteria yang apik untuk standarisasi wisata halal dunia. Kementrian Pariwisata juga memakai kriteria yang disusun GMTI ini.     Dalam membuat peringkat destinasi wisata halal dunia, GMTI membuat kriteria sebagai berikut:
1. Ramah Keluarga.

Pada umumnya wisatawan Muslim berwisata bersama keluarga. Sehingga, kriteria ini menjadi syarat utama . Tempat wisata seyogyanya juga ramah anak muslim.
2. Keamanan.

Tidak seorangpun mau bepergian ke tempat yang tidak aman. Bebas kejahatan, bebas terorisme, dan jaminan keamanan lain menjadi sangat penting.
3. Jumlah Kunjungan Muslim.

Dalam membuat peringkat, GMTI juga melihat seberapa banyak kunjungan muslim ke tempat itu.
4. Jaminan Kehalalan Makanan dan Banyaknya Pilihan. Makanan merupakan hal paling berhubungan dengan soal halal-haram. Jaminanan kehalalan dan variasi makanan yang ada menjadi kebutuhan pokok.
5. Fasilitas Sholat.

Adanya masjid dan petunjuk tempat dan waktu sholat adalah kebutuhan sehari-hari seorang muslim di mana saja.
6. Fasilitas Bandara.

Cerita tentang sulitnya mencari tempat sholat di bandara mungkin makin mengecil. Pasalnya, banyak bandara yang sekarang menyediakan tempat sholat bagi pelancong muslim.
7. Pilihan Akomodasi.

Pesawat, hotel, dan akomodasi lain perlu memberikan jaminan kehalalan jika ingin menjadi destinasi wisata halal.
8. Kesadaran Kebutuhan Wisatawan Muslim dan Upaya Memenuhinya
9. Kemudahan Komunikasi
10. Kemudahan Visa
11. Transportasi Udara
Sekarang bagaimana Anda menilai poin poin tersebut terkait daerah kita? Yang diinginkan pak Ali BD adalah terpenuhinya syarat-syarat GMTI terlebih dahulu meski tidak memakai istilah “halal atau syariah”. Karena lokasi wisata yang meskipun tidak bernama “syariah” tetapi memenuhi GMTI otomatis jadi “halal” tanpa harus gembar-gembor.

NTB jangan sekedar punya brand “halal” tetapi membuat malu karena mereka menemukan masjid dengan toilet kotor, jalan-jalan kota dipenuhi kotoran kuda, pemerasan dan perampasan masih terdengar menimpa turis, dsb…

Leave A Reply