Menu

Mode Gelap

Dinamika · 12 Sep 2022 17:20 WITA ·

Menelusuri Jejak-jejak Kerentanan Anak di Desa


					Kemiskinan mnjadi sumber kerentanan anak.ian Perbesar

Kemiskinan mnjadi sumber kerentanan anak.ian

Bola matanya memandang kosong. Tubuhnya mencoba merapatkan diri di ketiak neneknya yang duduk di atas bangku kayu. Anak-anak berusia 6 hingga 9 tahun itu – dua diantaranya kembar — hanya bisa terdiam memandangi orang-orang yang masuk melihat-lihat isi rumah panggung tua yang rapuh itu.
Sang nenek membiarkan para tamunya memasuki ruang tempat mereka tidur sekaligus ruang keluarga. Tidak ada benda-benda mewah. Hanya beberapa perabotan kebutuhan makan dan pakaian. Selebihnya adalah harapan berjumpa dengan orang-orang dermawan.
Anak-anak itu memang tinggal di rumah neneknya sejak beberapa tahun lalu. Di desa yang jauh dari perkotaan, Desa Pelat, Kecamatan Unter Iwes, Kabupaten Sumbawa, mereka menikmati hidup apa adanya. Tanpa pekerjaan, kecuali sesekali waktu sebagai penyakap kebun jagung — sehingga uluran tangan keluarga dekat dan orang lain menjadi harapan.
Terdapat lima orang cucu masing-masing berusia TK dan sekolah dasar yang terpaksa dia tanggung karena kedua orangtuanya pergi merantau. Sang ibu jadi TKW di Arab Saudi, sedangkan sang ayah pergi ke Kalimantan. Keduanya mencari pekerjaan. Tidak ada yang tahu alamat jelas keduanya. Namun, sang nenek tetap setia mengasuh empat cucunya.
Sempat sang cucu hendak dibawa ke panti asuhan, akan tetapi si nenek tidak berkenan dan ingin setia mengasuh cucunya apapun yang terjadi.
Persoalannya, ketika terjadi ketidaan makanan, anak-anak itu sering berkeliaran di jalan. Kadang dengan tatapan menghiba mendatangi setiap orang tanpa berkata sepatah kata pun. Orang-orang faham dan mengulurkan tangan. Si anak kemudian berlari meninggalkan orang yang memberinya sesuatu, pun tanpa sepatah kata.
Novi Yuliansari merasa trenyuh menyaksikan keadaan itu. Kader Desa Pelat ini mengamati lebih seksama bahwa mereka anak-anak yang diterlantarkan kedua orangtuanya. Kondisi mereka yang rapuh, kian memilukan karena diasuh oleh dua orang sepuh yang juga tidak berdaya.
Hal itulah yang ditangkap Novi ketika Boat Desa Pedi Tode ketika hendak digelar Boat Desa Pedi Tode di Desa Pelat. Para kader desa bersama Forum Anak, mendata warga di sekitarnya yang dikatagorikan rentan. Tidak ada kesulitan untuk mengidentifikasi mereka mengingat kedekatan kader dengan warga desa setempat.
Berkat pendataan yang dilakukan, keluarga si nenek menerima berbagai bantuan seperti sembako, pakaian, uang, dan lain-lain. Sebanyak tiga cucunya yang masih sekolah dasar pun dibebaskan dari segala biaya, termasuk biaya pakaian seragam.
Menurut Novi yang juga peraih penghargaan dari Gubernur NTB pada Hari Anak Nasional provinsi ini, masih banyak anak-anak dengan kondisi yang bahkan lebih memprihatinkan dibandingkan yang dialami kelima anak tadi. Sebutlah beberapa anak yang tinggal dengan saudara-daudaranya yang hidup serba kekurangan.
“Ada juga anak disabilitas yang ibunya juga tidak bekerja yang tidak sempat terlayani, tetapi lokasinya jauh diatas bukit,” tuturnya.
Persoalan jarak antardusun di desa yang cukup jauh menjadi salah satu tantangan dalam penjangkauan. Apalagi kondisi Desa Pelat yang berbukit. Kerentanan itu tersimpan di sana. Sebaliknya mereka yang mengalami kerentanan itu, tidak memiliki sumber daya untuk menjangkau layanan.
Novi menuturkan, kerentanan anak sering kali dijumpai secara tidak sengaja. Contohnya, seorang anak yang dijumpainya di jalan lagi memulung sampah rongsokan. Usut punya usut, ternyata anak itu ditinggal merantau oleh ibunya ke luar negeri, sedangkan ayahnya sudah kawin lagi.
Berkat akses yang dimiliki Novi, anak itu dikembalikan lagi ke sekolah untuk melanjutkan pendidikan. Sedangkan kebutuhan lain seperti sepatu dan pakaian dicarikan melalui relasi yang dimilikinya.
“Alhamdulillah anak itu sekarang sudah sekolah lagi,” ujarnya.
Kasus-kasus kerentanan masih banyak dijumpai di desa tersebut yang masih perlu dilakukan penjangkauan. Karena itu, Novi tetap berkoordinasi dengan Dinas Sosial setempat untuk melaporkan jika menjumpai kasus-kasus serupa agar segera tertangani.
“Saya laporkan kondisi anak itu dan saya foto, setelah itu tinggal Dinas Sosial melakukan apa yang harus mereka lakukan,” katanya.
Novi mengatakan bahwa penjangkauan lebih mudah dalam layanan kepada mereka yang bersekolah. Salah satu contoh, membantu pengurusan kartu identitas anak. Hal itu cukup dilakukan forum anak terhadap teman sebayanya. Nah, dalam soal ini, Forum Anak Desa Pelat sudah mengajukan 300 an nama yang tak lama kemudian sudah punya KIA.
Akan tetapi, hal yang lebih urgen adalah anak-anak yang putus sekolah disebabkan kemiskinan yang menderanya. Walau sudah dilakukan layanan terintegrasi kerentanan anak Boat Desa Pedi Tode, mereka masih ada di lokasi-lokasi terpencil di desa itu.

Tentang Kerentanan Anak

 Kerentanan anak  merupakan faktor resiko yang bisa menyebabkan terancamnya kehidupan anak kini dan masa datang. LPA NTB mengidentifikasi keberadaan mereka melalui resiko-resiko yang kemungkinan besar mengancam mereka dalam pemenuhan hak-haknya sebagai anak.
 Beberapa yang dijadikan indikator adalah anak yang tidak memiliki akta kelahiran, anak putus sekolah, anak tinggal dengan satu orang tua atau tinggal di famili lain, anak gizi buruk atau stunting, anak disabilitas, anak tidak memiliki KTP, dan tidak memiliki BPJS atau Kartu Indonesia Sehat. 
  Anak-anak dengan resiko itu terancam kehidupan dan hak-haknya dimasa mendatang. Kenyataannya, jumlah mereka terbanyak berada di desa-desa yang selama ini dianggap sebagai pemandangan biasa. 
 Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan oleh Perangkat desa, PATBM dan Forum Anak Desa, diperoleh data dengan berbagai kerentanan itu masing-masing :

Di 5 desa Kabupaten Lombok Utara sebanyak 1.860 anak.
Di 5 desa Kabupaten Lombok Tengah 711 anak.
Di 5 Kabupaten Sumbawa 643
Diperolehnya data tersebut menunjukkan adanya tingkat pemahaman perangkat desa, PATBM dan Forum Anak terhadap deteksi anak rentan di desanya. Dari hasil pendataan terdapat 3.214 anak rentan masing-masing anak laki-laki 1.601 dan perempuan sebanyak 1.613 anak yang tersebar di 15 desa sasaran SAFE4C (Strengthening Safe and Friendly Environment for Children ).
Keberadaan anak rentan tidak lepas dari sumber-sumber pemicu seperti masalah kemiskinan dan perkawinan anak. Kemiskinan membuat para orangtua mencari pekerjaan ke luar negeri meninggalkan anak-anak yang dititipkan di famili lain. Sedangkan perkawinan anak selain menciptakan ancaman kemiskinan juga ancaman kesehatan.
Mereka masih berada di lokasi-lokasi yang belum terjangkau dan memerlukan keterlibatan semua pihak dalam melayaninya. Karena itu, Novi berharap sistem layanan ini tetap ada dan dipertahankan walau secara seremonial sudah berjalan.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Peserta Triathlon Ironman 70.3 Lombok 2022 Berdatangan

6 Oktober 2022 - 21:55 WITA

LPPM UGR Teliti Potensi Budidaya Porang di Lotim, Begini Potensi dan Ancamannya

5 Oktober 2022 - 19:14 WITA

Kesejahteraan Tumbuh dengan Pendekatan Budaya

4 Oktober 2022 - 15:52 WITA

Ironman Triathlon Lombok 8 Oktober 2022, Begini Penjelasannya

3 Oktober 2022 - 21:14 WITA

Jadi Tokoh Politik, Manfaatkan Beasiswa NTB

3 Oktober 2022 - 14:11 WITA

Ketua MK Kunker ke Bima

1 Oktober 2022 - 19:39 WITA

Trending di Dinamika