Berbagi Berita Merangkai Cerita

Menangkal Pandemi Global dengan Sumber Daya Lokal

103

Saopiah, KWT Akar Desa Toya, ketika membuat kripik buah ( Foto : Kusmiardi, Ahad 28/11/2021)

Ketika pandemi Covid 19 mewabah, dunia usaha mengalami hantaman berat. Namun, berbagai pembatasan itu tidak menyurutkan UMKM di Kabupaten Lombok Timur untuk terus bergerak walau dengan keterbatasan. Berbagai problem disikapi dengan mematuhi protokol kesehatan dan pola usaha yang fleksibel dan kreatif hingga situasi berangsur pulih.

Bagi manajemen Chilal Colection, pandemi Covid 19 mesti dihadapi dengan tenang dan karyawan tetap bekerja seperti biasa. Untuk menjaga stamina agar kondisi kesehatan stabil, formula yang dikedepankan adalah tetap mengacu kepada protokol kesehatan seperti penggunaan masker, cuci tangan dan menjaga stamina tubuh.

“Semua karyawan Chilal Colection sudah disuntik vaksinasi Covid 19 sebanyak dua kali,” kata H. Hudri, pemilik perusahaan tersebut, Senin (22/11). Kata dia,  wabah ini memang terasa namun tidak begitu memengaruhi usahanya.  Kok, bisa? Hudri mematuhi prokes dalam mempekerjakan karyawanya. Disamping itu, pemenuhan produksi hanya menggunakan bahan baku yang mudah didapatkan.

Omzet Sempat Menurun

Menurut Hudri, jumlah pesanan pakaian serta peserta kursus sempat berkurang akibar pandemi. Warga Desa Bagik Nyaka Santri ini pun  mengambil langkah cermat dengan mengatur jam kerja dan pembatasan personal ataupun hal lain yang berhubungan dengan aktifitas di perusahaannya. Hal ini dimaksudkan agar  karyawan dapat tetap bekerja untuk mempertahankan ekonomi keluarganya.

Hingga kini, sebanyak 12 karyawan tetap bekerja dengan sistem kerja borongan. Mereka memproduksi seragam sekolah, seragam dinas, seragam organisasi, dan seragam olah raga.

Selain itu, pelatihan yang dibuka pun terus berjalan. Para peserta pelatihan tidak hanya berasal dari Lombok Timur, melainkan juga Lombok Utara bahkan dari Dompu. Namun, sebagian besar peserta berasal dari sejumlah sekolah. Khusus peserta yang datang dari jauh, pihaknya mencarikan solusi tempat kost selama masa pelatihan guna menghindari kontak langsung dengan pihak luar.

Melalui protokol kesehatan yang ketat, usaha konveksi  yang dikelola H.Hudri sejak puluhan tahun lalu itu hingga sekarang tetap berjalan memenuhi permintaan masyarakat. Hebatnya, tidak dijumpai adanya karyawan yang terkena Covid 19.

Geliat usaha Hudri merupakan salah satu kontribusi dalam perkonomian di Lombok Timur khususnya dalam penyerapan dan perluasan tenaga kerja. Dengan daya tahan yang cukup tangguh menghadapi wabah global pandemi, setidaknya UMKM menjadi benteng perekonomian masyarakat Lombok Timur.

Hal itu tidak hanya berlaku bagi Hudri yang bergelut dalam usaha konveksi, melainkan usaha berskala lokal lain. Sebutlah bagi Saopiah, Ketua Kelompok Wanita  Tani (KWT) Akar Desa Toya. Fakta itu dimungkinkan oleh UMKM yang dikelolanya memanfaatan bahan bahan baku lokal. Usaha dengan bahan baku nangka, pisang dan ubi untuk membuat jajanan, yang sempat mengalami penurunan omzet dengan cepat bangkit lagi.

“Sekarang sudah mulai bangkit, kembali mulai normal. Pemesan kripik buah sudah mulai normal. Kalau pada saat Covid 19 sedang merebak pendapatan dari bisnis kripik jatuh di titik 1/4 dari normal yaitu mungkin hanya Rp 250.000 bahkan kosong. Kalau sekarang bisa hingga Rp 2 juta per minggu,” terangnya. Saopiah mengaku pihaknya ikut suntik vaksin Covid 19 sehingga anggota KWT  tidak ada yang terserang Covid 19 dan  tetap melakukan aktivitas keseharian.

Mursito

Pemanfaatan bahan baku lokal yang membuat usaha rada kebal dari dampak pandemi dirasakan pula oleh Mursito, salah seorang penjual jamu bermerek “Serbat Rinjani”.  Dengan bahan baku seperti beras kencur, temu lawak, kunir asem, dan cabe puyung, usaha Mursito bisa bertahan. Tidak banyak alur yang harus dilalui dalam mencari bahan lokal sehingga memperbesar peluangnya mempertahankan diri.

Ia mengaku bisnisnya sempat seret pada masa pandemi namun  tetap beraktivitas meskipun dalam kondisi kurang normal. Sebutlah untuk mengakses pelanggan harus dengan protokol kesehatan. “Alhamdulillah keluarga tidak ada yang tertimpa Covid 19,” katanya.

Kini dampak pandemi berkurang seiring dengan semakin intensnya program suntik vaksinasi Covid 19 dari pemerintah. Imun tubuh pun semakin membaik, terlebih banyak warga di lingkungannya meminum racikan jamu yang dibuatnya. “Saat ini kondisi  semakin membaik, mudah-mudahan covid  makin menjauh,” harapnya.

Pemanfaatan Bahan Baku Lokal

Terdapat sebanyak 21.612 UMKM di Kabupaten Lombok Timur yang tercatat resmi oleh pemerintah. Menghadapi pandemi, para pelaku UMKM diarahkan untuk pemanfaatan bahan baku lokal yang ada di sekitarnya, baik yang bergerak dibidang kuliner, kerajinan tangan dan lain-lain.  Pasalnya, dampak yang  signifikan akibat andemi di sektor  usaha adalah menurunnya taraf perekonomian masyarakat karena menurunnya produktifitas.

 “Pemanfaatan bahan baku lokal sangat bermanfaat dalam menjaga mutu dan  kwalitas produk, lebih- lebih dimasa pandemi ini,” kata Kepala Bidang Pemberdayaan UMKM Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lombok Timur, Yunus, S.Sos.

Yunus mencontohkan, ketika bahan baku berasal dari daerah Sumbawa — karena tidak boleh dikirim ke Lombok — maka yang harus dilakukan agar tidak memacetkan kebutuhan masyarakat setempat adalah memanfaatkan bahan baku lokal. Kalau hal tersebut tidak dilakukan, justru akan memperburuk keadaan dan macetnya kebutuhan masyarakat.

“Hal terbaik dilakukan adalah  pemanfaatan bahan baku lokal, sebagai salah satu langkah positif mengiringi aktivitas dengan senantiasa mengikuti protokol kesehatan,” terang Yunus.

UMKM pun diharap mampu menyiasati bahan-bahan alternatif yang ada di sekitarnya untuk memangkas alur distribusi guna menghindari kontak langsung dengan orang banyak. Ia mencontohkan produk yang menggunakan lontar sebagai bahan baku pada beberapa jenis barang kerajinan. Mengingat sebagian besar lontar hanya ada di Pulau Sumbawa, dimasa pandemi kebutuhan lontar menjadi sangat sulit didapatkan sehingga harus disiasati dengan cara kreatif menggunakan bahan baku alternatif.

 Dinas Koperasi dan UMKM Lotim telah melakukan pendampingan dan edukasi lewat pelatihan dan keterampilan pengembangan produk, pemasaran serta fasilitasi legalitas produk  maupun legalitas pelaku usaha itu sendiri. Para  pelaku UMKM mengembangkan usaha yang digelutinya seperti hasil kerajinan, konveksi, pengolahan kuliner dan lainnya.

“Di samping itu, pemerintah memasilitasi UMKM  dalam hal bantuan penguatan modal usaha,  baik dari pemerintah Pusat, provinsi maupun pemerintah kabupaten lewat dana APBD,” terang Yunus, “Itu sudah kita lakukan agar keberadaan UMKM daerah ini senantiasa eksis, berkembang  dan produktif,” kata Yunus.

Setidaknya,  UMKM menjadi benteng ekonomi ditengah wabah Covid 19. Ketika Sirkuit Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah diwarnai kegiatan internasional seperti World SuperBike (WSBK),  UMKM bisa berperan aktif. Sebanyak 10 pelaku usaha yang ada di Lotim ikut serta memperkenalkan produk-produknya sekaligus bukti bahwa mereka memiliki daya tangkal hebat dari pandemi. kusmiardi

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.