Berbagi Berita Merangkai Cerita

Menakar Keuntungan Kebijakan Ekspor Benih Lobster

75

SELONG, DS – Lembaga Kajian Kebijakan dan Transfaransi (LK2T) Lombok Timur, menggelar diskusi dengan Tema Permen KP nomor 56 tahun 2016 vs Permen KP Nomor 12 tahun 2020, Jumat (17/07/2020). Diskusi ini bertujuan untuk menakar keuntungan dan kerugian penerapan kebijakan ekspor benih lobster berdasarkan penerapan kedua peraturan tersebut.

Informasi yang dihimpun menyebutkan Permen Kelautan dan Perikan (KP) nomor 56 tahun 2016, merupakan kebijakan pelarangan ekspor benih lobster yang di keluarkan oleh Menteri KP terdahulu, Susi Pudjiastuti. Sedangkan, Permen KP nomer 12 tahun 2020, membuka keran ekspor benih lobster, yang dicetuskan oleh Mentri KP, Edy Prabowo.


Dalam pandangannya, Pembina Lobster Asociation, Mahnan Rasuli mengatakan baik buruknya sebuah kebijakan bisa dilihat dari aksi dan reaksi yang muncul saat kebijakan tersebut dikeluarkan. Keluarnya Peremen KP nomer 56 di tahun 2016 lalu, mebimbulkan aksi penentangan besar-besaran oleh nelayan lobster karena dinilai merugikan nelayan.


“Kalau kita lihat Permen KP 56, nelayan tidak berdaulat. Sementara, Permen KP 12, rohnya sangat baik bagi kehidupan nelayan kedepan. Karena adanya kepastian harga maksimum dan minimum,” ucap Mahnan.


Selain itu, pemegang kuota ekspor juga diwajibkan untuk melakukan budidaya lobster atau tidak hanya fokus pada ekspor sementara.


Hal senada juga disampaikan oleh nelayan milenial, Nasrullah. Ditegaskannya, Permen KP 56, jelas tidak menguntungkan nelayan. Berbeda dengan Permen KP 12, yang menguntungkan nelayan karena bersifat pemberdayaan.


“Dari 12.000 nelayan lobster seluruh Indonesia hampir semua kuota dapat. Kami juga bisa berperan, tidak perlu lewat perusahaan. Kita punya BUMDes, dana desa ada,” ucapnya seraya menambahkan, ratusan nelayan yang belum mendapat izin akan diupayakan untuk teregister.


Sementara itu, Kadis Kelautan dan Perikanan Lombok Timur, Haryadi Surenggana menyebutkan benih Lobster yang sudah terkespor hingga saat ini telah mencapai 100 ribu ekor. Dengan perkiraan nilai jual mencapai Rp. 1 miliar.
Setiap nelayan pun mempunyai kesempatan yang sama untuk terlibat dalam ekspor benih lobster, dengan mendaftarkan dirinya di dalam kelompok. “Sekarang yang menjadi PR kita menambah kuota saja. Setiap nelayan hanya punya kuota 1500 benih per tahun, sehingga kita anggap itu sangat sedikit,” kata dia. Dd

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.