Berbagi Berita Merangkai Cerita

Mataram Canangkan Target Turun Level 2 Covid-19

63

FOTO. I Nyoman Swandiasa. (FOTO. RUL/DS)

MATARAM, DS – Pemkot optimistis Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kota Mataram akan turun dari level tiga saat ini ke level dua. Dari evaluasiyang dilakukan, skenario penanganan pandemi Covid-19 selama level tiga memberikan hasil cukup baik.

“Kami optimistis akan turun menjadi level dua atau zona kuning Covid-19 di Mataram,” ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Mataram I Nyoman Swandiasa di Mataram, Selasa (24/8).

Menurut Swandiasa, beberapa perkembangan upaya pencegahan Covid-19 selama level tiga antara lain, keterisian tempat tidur atau BOR (bed occupancy rate) di Kota Mataram turun signifikan menjadi 27 persen dari sebelumnya 40 persen.

“Hal itu menjadi salah satu tolok ukur bahwa skenario penanganan pandemi Covid-19 di Kota Mataram cukup bagus, sehingga kita berhadap bisa turun ke level dua,” kata dia.

Selain itu, cakupan vaksinasi di Kota Mataram sudah di atas 50 persen dengan realisasi 56,33 persen untuk dosis pertama, sedangkan dosis kedua mencapai 31,32 persen dari target sasaran vaksinasi sekitar 300.000 jiwa atau 70 persen dari jumlah penduduk Kota Mataram.

Sementara terkait dengan temuan kasus positif baru Covid-19, katanya saat ini masih fluktuatif, namun tingkat kesembuhan juga naik hingga sekitar 90 persen.

Berdasarkan data tim kewaspadaan Covid-19 Provinsi NTB, menyebutkan tambahan pasien Covid-19 untuk Kota Mataram sebanyak 47 orang dan 61 pasien Covid-19 dinyatakan sembuh pada Minggu (22/8) lalu.

“Dengan demikian, jumlah pasien yang masih isolasi sebanyak 436, sembuh 5.815 dan 209 orang meninggal dunia dari total kasus 6.459,” ucap Swandiasa

Ia mengatakan apabila Kota Mataram turun menjadi level dua maka pemerintah kota kembali akan menyesuaikan regulasi PPKM sesuai dengan PPKM level dua.

Misalnya, untuk kegiatan ekonomi yang kini dibatasi hanya boleh 25 persen, setelah level dua mungkin bisa disesuaikan menjadi 50-75 persen dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Dengan demikian, penurunan level itu berimbas pada persoalan ekonomi dan sosial kemasyarakatan secara umum,” tandas Nyoman Swandiasa. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.