Berbagi Berita Merangkai Cerita

Masih Tinggi Swing Votters di Mataram, Pengamat Harap Paslon Fokus Jual Program Bukan Saling Menjatuhkan

44

MATARAM, DS –  Pengamat politik dari Universitas Islam Negri (UIN) Mataram, Agus MSi, berharap di pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 di Kota Mataram, diwarnai penyampaian program unggulan saat kampanye.

“Jadi pilkada harus jual program bukan saling menjatuhkan. Apalagi kampanye hitam yang cenderung provokatif harus dihindari. Semangatnya harus pilkada damai,” kata Agus pada wartawan, Selasa (27/10).

Agus mengaku kampanye bersifat negatif mulai bermunculan saat ini meski tidak segencar pada masa pilkada sebelumnya ataupun Pilpres 2019 lalu.

“Media sosial di dunia maya menjadi senjata melakukan serangan ke kubu lawan. Polisi bisa mengambil tindakan tegas akan hal ini. Mereka kan punya tim siber yang berpatroli di dunia maya,” kata mantan Komisioner KPU NTB itu.

Dia khawatir kegaduhan di dunia maya tersebut dapat memicu keributan di dunia nyata jika polisi tidak merespon cepat setiap dinamika politik yang terjadi.

Apalagi, Pilkada Mataram yang di ikuti empat paslon, agar tidak terjadi pembelahan rakyat untuk memilih, maka masing-masing paslon harus membuat inovasi dalam kampanye mereka pada masyarakat.

“Saya berharap rakyat semakin dewasa dan cerdas. Dalam demokrasi berbeda pilihan adalah hal yang wajar. Siapa pun yang terpilih harus didukung karena itulah hasil dari sistem pemilu yang kita sepakati,” timpal Agus.

Ia memprediksi hingga akhir pencoblosan pada 9 Desember mendatang akan terjadi persaingan sengit antar masing-masing paslon. Mengingat, figur empat paslon tersebut memiliki kemampuan personal yang berbeda-beda.

“Dari tujuh kabupaten/kota di NTB. Yang saya lihat merata kekuatan paslonnya adalah di Kota Mataram. Maka, kemampuan personal di pelaksanaan debat yang dilakukan KPU akan menjadi penentu pilihan masyarakatnya,” tandas Agus.

Ia berharap pihak penyelenggara pemilu, baik KPU dan Bawaslu setempat agar tetap bekerja dengan profesional, serta tidak memihak ke paslon manapun. Mengingat, Kota Mataram adalah ibukota provinsi NTB, dimana masih banyak pemilih yang melek hurufnya sangat tinggi.

Namun, justru dari sejumlah rilis survei manapun angka swing votters di Mataram ada sekitar 30-40 persen hingga saat ini.

“Itu artinya masih banyak masyarakat yang belum menentutkan relatif sangat tinggi. Jadi, pelaksanaan debat yang mengeksplor kemampuan personal paslon harus lebih banyak disuguhkan oleh KPU pada masyarakat. Termasuk, iklan dan APK guba sosialisasi program paslon juga mesti diperbanyak oleh pihak penyelenggara,” ungkap Agus. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.