BSK Samawa

Masih Ramai Perkawinan dan Kerentanan Anak, Aik Bukak Rangkul Anak Bersosialisasi

Sosialisasi Forum Anak di Desa Aik Bukak. ian

Loteng,DS-Desa Aik Bukak, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, masih menjadi penyumbang kerentanan anak seperti perkawinan anak. Karena itu, Pemdes maupun tokoh masyarakat setempat merangkul anak-anak yang terlibat dalam Forum Anak untuk menekan kasus-kasus kerentanan tersebut.

Dalam sosialisasi Forum Anak yang digelar Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB di desa setempat, Rabu (1/6), belasan anak yang tergabung dalam Forum Anak Desa Aik Bukak, menerima pembekalan dari LPA NTB. Mereka terdiri dari pelajar yangmasih duduk di bangku SMP dan SMA.

Sekretaris LPA NTB, Sukran Hasan, memaparkan berbagai problem anak dan hak-hak anak yang mesti diperoleh sebagai kewajiban negara memenuhinya seperti akta kelahiran. Pasalnya, masih banyak anak yang belum memiliki identitas hukum tersebut karena kerentanan keluarga.
“Anak yang menikah bisa melahirkan kemiskinan baru,” ujarnya.

Untuk itu, ia berharap Forum Anak mulai peduli dengan lingkungan melalui upaya identifikasi rekan-rekan di sekililingnya dan kemudian melaporkan untuk diajukan sebagai penerima pelayanan. Sukran pun meminta anak-anak memberi masukan kawan-kawannya yang tidak bersekolah agar bisa difasilitasi kembali menempuh pendidikan.

Anggota PTBM Desa Aik Bukak, Rudiono, mengapresiasi langkah yang dilakukan LPA NTB di desa itu dalam menekan kasus-kasus kerentanan di sektor pendidikan, kesehatan maupun sosial ekonomi. Kendati belum terhimpun data pasti, khusus perkawinan anak diperkirakan mencapai 2-3 kasus per dusun dalam setahun dari 13 dusun di Aik Bukak.

Menurut Rusdiono, langkah pendampingan yang dilakukan LPA NTB sangat membantu pemerintah desa dalam membangun masyarakat. Sebutah masalah stunting tersebar di beberapa dusun yang memerlukan perhatian. Sementara masih banyak persoalan anak yang terkendala hingga sekarang.

“Mudahan adanya forum anak bisa membantu kerja-kerja mengatasi kerentanan anak,” cetusnya. “Bagaimana kerentanan itu kita tekan besama-sama dengan melakukan sosialisasi supaya masyarakat sadar apa dampaknya jika menikahkan anak diusia dini,” lanjutnya. ian

Facebook Comments Box

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.