Berbagi Berita Merangkai Cerita

Mantan Bupati Lotim Bernostalgia, Sempat Ditampar Kepala Sekolah namun Tetap Hormat pada Sang Guru

650

Selong,DS-Mantan Bupati Lombok Timur, Dr.H.Moch.Ali bin Dachlan, bernostalgia tentang kisahnya dimasa kecil, tepatnya waktu saya SMP pada tahun 1963. “Saya dipukul kepala sekolah dihadapan ratusan murid yang sedang apel pagi,” katanya sebagaimana dilansir pada laman facebook miliknya, Jumat (10/9).

Hal itu disebabkan setiap hari Sabtu atau yang disebut sebagai hari krida pada masa itu, sebanyak dua kali ia tidak masuk sekolah. Namun, peristiwa itu dirahasiakannya.”Saya tidak sampaikan hal itu pada ayah saya,karena takut ditampar lagi,” ujarnya.

Pada suatu hari di tahun 1978, tutur Rektor UGR ini, ia bertemu guru yang menamparnya itu. Ternyata pada tahun itu Ali sama sama satu kantor dengannya. Lantas apa yang terjadi?

“Saya menyalami beliau dan mengatakan bahwa bapaklah yang menampar saya pada waktu saya jadi murid.Terima kasih bapak,karena bapaklah sehingga saya dapat sekolah sampai perguruan tinggi,” ujar Ali seraya mencium tangannya, Dalam soal ini, Ali mengatakan merupakan hal yang jarang dilakukan pada orang lain. “Saya bisa membaca Al Quran, juga karena guru ngaji di kampung,” ujar Ali.

Tentang guru, ada yang membuat heran Ali terutama pada guru ngaji. Keheranannya disebabkan honor sebagai guru ngaji tersebut sebulan hanya Rp,30.000, Hebatnya, profesi itu terus dijalani selama 12 tahun lamanya. Alasannya bertahan mengajar pun luar biasa, yakni mau mendapat pahala.

“Pada umumnya mereka yang mengajar di pondok pondok pesantren adalah orang pilihan yang memlih surga dari dunia,”katanya.

Dari cerita itu Ali ingin menghubungkan pengabdian guru dengan cara-cara yang dilakukan guru terhadap muridnya yang sebenarnya bertujuan baik.

“Jika ada seorang guru menjewer muridnya,pasti tujuannya baik.Hanya mungkin caranya saja yang (perlu) didiskusikan,” ujarnya.

Lantas bagaimana jika ada orang tua melaporkan ustaz (guru ngaji) kepada polisi untuk ditindak hukum hanya karena melakukan caranya yang dianggap keliru? “Maka hal tersebut sangat mengejutkan,” cetus Ali.

Persoalannya lagi, aparat hukum tidak berusaha mendamaikan kedua belah pihak.

“Itu juga sebabnya banyak penjara di Indonesia kelebihan penghuni,karena penegak hukum kita tidak senang menyelesaikan dengan cara damai, padahal hal tersebut juga bagian dari penegakan hukum,” katanya seraya menambahkan hal ini perlu dikaji dengan baik agar tidak terulang lagi dikemudian hari. ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.