Berbagi Berita Merangkai Cerita

Makan dan Tidur di Tenda Demi Amankan Wilayah Pengamat : Kapolres Bima Bisa Jadi Panutan dan Teladan Seorang Pemimpin

1.509

MATARAM, DS – Beredarnya foto seorang Kapolres di NTB, yang melakukan aktifitasnya, seperti makan dan tidur di tenda, merupakan sebuah peristiwa menarik. Apalagi, yang dilakukan oleh Kapolres Bima, AKBP Gunawan Trihatmoyo SIK tidak lain dalam rangka melakukan pengamanan wilayah atau desa yang sedang dilanda konflik horizontal.

“Sikap Kapolres Bima itu adalah contoh panutan yang layak ditedani,” ujar Dosen Program Doktor STIK PTIK, Dr. Sidratahta Mukhtar dalam  keterangan tertulisnya, Senin malam (3/8)

Sidratahta yang juga tenaga pengajar SKSG UI dan UKI mengatakan, langkah Kapolres Bima tersebut penting untuk melihat sebagai metode penanganan konflik dalam masyarakat yang kerapkali terbelah karena beragam kondisi.

“Tentunya apa yang dilakukan Kapolres NTB itu merupakan persitiwa menarik, dan patut mendapat apresiasi positif,” ungkap Sidratahta.

Pria asal Bima NTB itu menuturkan, masyarakat Bima adalah suku bangsa yang religius, mengalami beberapa ratus tahun penerapan syariah Islam dimasa Kesultanan hingga daerah Bima bergabung ke NKRI awal tahun 1940an.

“Ada mahasiswa kami S3 PTIK asal Bima, Dr. Ikhwanuddin pernah meneliti tentang budaya kekerasan dan pendekatan penanganannya. Ia berkesimpulan, potret budaya Bima sangat inklusif, mudah menerima budaya luar dan ada semangat maskulin dalam tradisi masyarakat khususnya dikalangan anak muda,” jelasnya.

Karena itu, menurut penilaiannya, maka letak baiknya pendekatan yang dilakukan oleh Kapolres Bima, yang rela tidur ditenda demi menjaga Bima tetap aman dan bebas konflik. Padahal bisa saja dia langsung perintahkan personilnya untuk bertindak dengan hard approach, cara-cara represif.

“Tapi saya tidak tahu berapa lama dia bertugas di Bima untuk cepat mengerti kondisi sosial budaya dan keislaman masyarakat Bima yang insklusif itu,” ucapnya

Sikap Kapolres Bima itu, menurut Sidratahta adalah sebuah keteladanan agar setiap muncul konflik dapat cepat diatasi, sebelum konflik menjadi budaya baru masyarakat khususnya pasca panen dan saat kontestasi politik Pilkada dimulai.

“Pada dasarnya PR (pekerjaan rumah) yang perlu terus dikembangkan dalam reformasi Polri adalah tentang reformasi budaya agar Polri benar-benar sebagai bagian dari sipil, civil in uniform agar pengedepankan pelayanan publik, keteladanan dan berorientasi pemecahan masalah,atau meminjam konsep Mendagri M.Tito Karnavian sebagai smart approach,” tandasnya.

*Redam Konflik

Apa yang dilakukan oleh Kapolres Bima, AKBP Gunawan Tri Hatmoyo, S. Ik, bersama dan Dandim 1608 Bima, Lelkol Inf Teuku Mustafa Kamal adalah untuk meredam konflik berkepanjangan antar kelompok warga Desa Waro dan Tangga Baru, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, NTB, pasca kasus penganiayaan yang menewaskan Candra Irawan, warga Desa Waro, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, Kamis (30/7) lalu.

Aparat terus bekerja keras siang dan malam. Menggalang solidaritas agar kedua kelompok desa tidak saling serang. Kerja keras aparat patut mendapatkan apresiasi, siang malam bersiaga dan lakukan penggalangan terhadap masyarakat dua desa yang bentrok.

Dandim Bima mengajak seluruh masyarakat desa Waro, untuk ikhlas menerima musibah yang telah terjadi, sebab manusia telah digariskan untuk menghadap sang khaliq. Bahkan, pria asal Aceh ini mengatakan, tidak ada gunanya menyimpan dendam dan melampiaskannya ke orang yang tidak bersalah. Apalagi merusak dan membakar rumah-rumah.

“Kita harus menerima kenyataan dengan hati yang lapang dan tabah, doakan semoga almarhum diterima disisi Allah, jangan menciptakan masalah baru,” ungkapnya. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.