Berbagi Berita Merangkai Cerita

Maju Pilwali Mataram 2020, Rohman Gagas Revitalisasi Cidomo di Mataram

0 7

MATARAM, DS – Bakal Calon Walikota Mataram, H Rohman Farly (HRF), mengatakan, pemanfaatan trotoar sebagai jalur pedestrian atau pejalan kali di Kota Mataram, belum bisa maksimal lantaran penataannya belum serius. Sementara itu maraknya pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di badan trotoar, juga membuat keindahan Kota Mataram berkurang.

Menurutnya, semakin banyak jalur pedestrian dibuat dan digunakan sudah pasti akan mengurangi tingkat penggunaan kendaraan bermotor dan mereduksi potensi kemacetan lalulintas di kota ini.

“Kami lihat kondisi penataan trotoar yang tidak tepat juga membuat masyarakat menjadi malas berjalan kaki. Padahal jalan kaki sangat berguna bagi kesehatan dan mengurangi intensitas berkendara yang memicu kemacetan. Jadi perlu kita tata kembali dan maksimalkan fungsi jalur pedestrian di Kota Mataram ini,” ujar Rohman menjawab wartawan, Senin (16/12).

Merujuk sebuah riset dari Stanford University yang dimuat di The New York Times pada 2017, HRF memaparkan, kondisi penataan trotoar di Indonesia yang buruk membuat orang Indonesia malas berjalan kaki. Apalagi, dari sebanyak 111 negara yang diteliti, orang Indonesia rata-rata hanya berjalan sebanyak 3.513 langkah kaki per hari. “Jumlah tersebut jauh jika dibandingkan dengan Hong Kong yang penduduknya rata-rata berjalan 6.880 langkah per hari atau Cina dengan rata-rata 6.189 langkah per hari,” ungkapnya.

Menurut HRF, penataan trotoar dan jalur-jalur pedestrian yang baik juga akan menambah keindahan Kota Mataram yang saat ini menjadi destinasi wisata MICE. Bukan hanya sentuhan keindahan ornamen saja, tetapi juga kelengkapan penerangan di sepanjang jalur pedestrian.

Para wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung ke Kota ini, bisa lebih merasakan kehangatan warga Kota Mataram, jika berjalan kaki dari hotel tempat mereka menginap ke pusat perbelanjaan atau pusat oleh-oleh di Kota ini.

“Tapi kalau tidak tertata rapi, dan kalau malam terkesan gelap, maka tamu pun akan enggan jalan kaki, walau tujuan mereka dekat dari hotel atau penginapannya,” kata HRF.

Selain soal jalur pedestrian, HRF juga akan melakukan program revitalisasi angkutan tradisional Cidomo yang ada di Kota Mataram. Mulai dari pendataan dan peremajaan Cidomo hingga pengaturan jalur-jalur lintasannya.

Kata HRF, jika dikelola dengan baik, keberadaan Cidomo di Kota Mataram ini bisa menjadi ikon menarik dan khas bagi sektor pariwisata Kota Mataram.

“Saat ini kan Cidomo dianggap sebagai kesan kumuh perkotaan dan penyebab macet lalulintas di jalur tertentu. Tapi kalau ini bisa dikelola sebenarnya Cidomo ini justru kekuatan Kota ini di sektor pariwisata,” tandas Rohman Farly. RUL

Leave A Reply