LPA NTB Padukan Program BERANI II dengan Dikes

Mataram, DS-LPA NTB memperkenalkan program BERANI II yang akan berlangsung mulai Februari di Lombok ke Dinas Kesehatan NTB pada Kamis. Kaitan program dengan Dikes merupakan bentuk kolaborasi dalam memadukan program agar hasil yang dicapai bisa maksimal dan terarah.

Ketua LPA NTB, H. Saham SH, mengatakan program pencegahan perkawinan anak kerjasama LPA-Unicef merupakan bagian dari program utama penghapusan kekerasan terhadap perempuan berbasis gender. Khusus program yang berlangsung di Lombok Tengah, Lombok Utara dan Lombok Timur ini dinilai terbanyak pengaruhnya di sektor kesehatan masyarakat.
Menurut rencana, kata Sahan, pendampingan di 15 desa akan diawali MoU dengan instansi terkait.

Terdapat out put utama yang ingin dicapai, di antaranya sinergi dengan pemerintah, pelayanan perlindungan anak, penguatan orangtua untuk pola asuh, dan penguatan kelompok remaja dan kelompok anak di desa.
Kadis Kesehatan NTB, H. Lalu Hamzi Fikri, mengatakan kolaborasi mutlak diperlukan. Misal dalam mengatasi stunting yang tidak lepas dari kasus perkawinan anak.

Ia mengatakan bahwa NTB diminta melakukan penurunan stunting tiga persen lebih dari 14 persen data saat ini.

“Stunting jadi isu sentral yang ada kaitan dengan nikah muda. Karena mereka cenderung melahirkan anak stunting, ” kata Hamzi Fikri seraya mengakui sudah ada regulasi dari pusat hingga kabupaten seperti di Lombok Barat dengan program Gamaq.

Ia pun merinci kegiatan Dikes terkait stunting seperti pemberian makanan tambahan, peningkatan kapasitas kader untuk memastikan identifikasi data usia muda dan intervensi ke calon anak di posyandu. “Stunting sudah ada by name by address. Tinggal intervensinya, ” tukasnya.

Beberapa kegiatan yang bisa dikaitkan seperti pembukaan sekolah sehat dengan pemeriksaan berkala, pergerakan aksi bergizi. Terdapat juga manajemen menstruasi bagi remaja di sekolah dan wanita usia subur.

Sedangkan kegiatan langsung di masyarakat berupa pembagian telur bagi desa sasaran. Pun pengadaan alat posyandu.

Hamzi Fikri berharap semua berbagi peran dalam kolaborasi. “Perkawinan anak sendiri merupakan determinan dasar,” ujarnya
Ia sepakat perlu validasi data terkait perkawinan anak. Sementara data Dikes berkenaan dengan perempuan sudah menikah yang datang mengakses fasilitas kesehatan. Data ini akan sangat berbeda dengan data DP3AP2KB NTB yang mengambil dari sumber berbeda.

*Kita atasi stunting tapi hulunya banyak di perkawinan anak,” katanya. Ian

Facebook Comments Box

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.