Berbagi Berita Merangkai Cerita

LPA NTB Gulirkan “Gawe Gubuk”, Launching Pertama di Desa Muncan Mampu Bahagiakan Hati Anak Rentan

12

Amaq Rumilah hanya memandang datar ketika berfada di arena Gawe Gubuk yang digelar di Lapangan Futsal. Petani Dusun Sumbek, Desa Muncan, Lombok Tengah itu, membawa serta seorang cucunya bernama Roni (14 th) yang masih duduk di bangku klas II SMP 1 Bodak.

Roni sudah yatim piatu. Karena itu, Amaq Rumilah mengasuhnya. Namun, keluarga ini tidak memiliki KK, akta kelahiran, KTP, apalagi BPJS. Oleh sebab itu, dalam sebuah Gawe Gubuk yang berlangsung di Desa Muncan, Selasa (24/11), semua kebutuhan itu dituntaskan.

“Dulu pernah urus KK KTP dan akta tapi sulit,” akunya. Ia sangat bersyukur dengan Gawe Gubuk yang membuat persoalan yang dihadapinya sedikit demi sedikit teratasi. “Saya senang ada yang menguruskan semua ini,” ujarnya ketika dimintai tanggapan.

Gawe Gubuk  di Kabupaten Lombok Tengah  merupakan yang pertama di NTB sekaligus mengawali hal serupa di Pulau Lombok yang dilakukan Pusat Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (PKSAI). Anak-anak rentan, termasuk orangtuanya yang menerima intervensi pelayanan tersebut sebanyak 94 orang.

Kades Muncan, Lalu Faizin Abdul Kadir, mengaku bersyukur dengan langkah yang dilakukan PKSAI. Hal ini sejalan dengan upayanya untuk terus menuntaskan persoalan pendataan di desanya yang tengah gencar dijalankan.

Suasana pelayanan dalam”Gawe Gubuk” di Desa Muncan Lombok Tengah

“Segala program pembangunan bersumber dari data, karena itu ini menjadi sangat penting bagi desa kami,” ujar  Faizin seraya menyebut jumlah KK di desa itu mencapai 2000 an  dengan 8000 an jiwa. “Saya berterima kasih ditunjuknya Desa Muncan sebagai pilot project yang melibatkan OPD-OPD lain,” sambung Faizin.

Faizin mengemukakan ditunjuknya Desa Muncan sebagai pilot project  karena adanya sinergi yang kuat  antara Pemdes, masyarakat dan berbagai stakeholder. Selama 2 tahun Pemdes disibukkan dengan pengumpulan data penduduk sehingga data Desa.Muncan terupdate setiap bulan dengan melibatkan RT.

Upaya ini dilakukan Pemdes bersamaan dengan perencanaan program pembangunan di masing-masing dusun. Khusus di sektor pendataan penduduk diberi nama “Sambang RT”.

Ada korelasi antara pendataan dan rencana pembangunan. Dalam kaitan ini, pihaknya membagi habis anggaran sekira Rp 1 miliar untuk seluruh dusun dengan menghitung jumlah penduduk. Pembagian yang adil ini melahirkan program. Progam itu memerlukan pendataan penduduk. Sekali jalan, dua tiga pulau terlampaui.

Terdapat sebanyak  53 RT yang tersebar di 13 dusun di Desa Muncan yang harus dikuasai datanya oleh pihak desa untuk keperluan pemban=gunan itu sendiri.

 “Selama 53 hari kami turun ke masyarakat untuk menggali dan menyampaikan aspirasi sehingga tiap bulan fokus pendataan sebagai hal penting. Dari data yang tepat bisa dilakukan perencanaan,” urainya seraya meyakini anak -anak di desa itu menerima perlindungan yang baik sehingga kedepan generasi di Muncan dalam kondisi baik.

Karena itu, kata dia, program PKSAI sangat sejalan  membantu khususnya di sektor bantuan sosial kepada masyarakat. Warganya tidak hanya memiliki KK, KTP dan akta kelahiran yang sudah hampir 100 persen tuntas di desa itu, melainkan juga diikutkan dalam BPJS.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB, H. Sahan SH, dalam sambutanya mengemukakan  PKSAI  yang merupakan program LPA bekerjasama dengan Unicef sudah diperkuat Perbup di 5 kabupaten/kota. Peraturan kepala daerah itu mampu memompakan semangat OPD terlibat aktif melayani warga rentan.

“Mereka yang terlibat mulai dari Disos, Dikes, Dikbud, Bappeda, dan lain-lain,” katanya. “Gawe Gubuk dimaksudkan agar tidak ada warga yang tidak terlayani berbagai macam hak-haknya. Pendekatan ini masyarakat berhubungan dengan desa. Nanti desa yang kemudian mengundang PKSAI dalam memberikan pelayanan,” lanjut Sahan.

Ia menguraikan berbagi jenis kerentanan yang dilayani meliputi kerentanan skala rendah dengan satu sektor pelayanan, sedang dan tinggi dengan lebih dari satu sektor pelayanan. “Dengan adanya Gawe Gubuk ini mudah-mudahan bisa tertular ke desa lain sehingga kesejahteraan sosial bisa terwujud.,” kata Sahan.

Sekira 1000 anak  rentan di Pulau Lombok sudah diidentifikasi PKSAI. diantaranya di Loteng  94 anak. Sedangkan di kabupaten/kota lainnya dalam jumlah yang beragam.

Staf Ahli Bidang Sosial Pemkab Loteng, Drs.Sugono, yang hadir mewakili bupati sangat mengapresiasi langkah PKSAI. Ia mengemukakan bahwa anak anak merupakan harapan semua sehingga Pemkab setempat pun sudah mencanangkan program ramah anak.

“Perintah Allah, jangan tinggalkan anak anak yang lemah,” katanya menutip salah stau ayat Al-Qur’an. Rasululah pun sangat  ramah dengan anak-anak sehingga karena itu pula Loteng bertekad peduli anak. Oleh sebab itu, layanan PKSAI  di Desa Muncan dinilainya  bisa dicontoh untuk dilakukan di desa desa lain.

Persoalan sementara ini, kata Sugono,  bagaimana ikhtiar sebagai pemerintah yang ramah anak berlangsung secara terus-menerus. Pasalnya, masih banyak kejadian menimpa anak-anak. di Loteng. Sebutlah kasus kematian bayi yang masih  tinggi walau sudah berkoar- koar sayang anak.

“Mungkin diantara kita belum peduli terhadap lingkungan sosial,” cetusnya. Dengan

pilot project di Kabupaten Lombok Tengah itu Sugono berharap  bisa menjadi contoh bagi desa lain. Terlebih di Loteng masih terdapat 10 desa stunting.

Mengamati masih banyaknya terjadi kasus-kasus yang menimpa anak, Sugono mengaku siap membantu penganggaran PKSAI sesuai dengan kewenangannya.ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.