Berbagi Berita Merangkai Cerita

LPA Dampingi 148 Kasus Kerentanan Anak Covid 19

27

Salah satu program pendataan berupa home visi para kader LPA NTB dalam menyikapi kasus terdampak Covid di Lombok.

MATARAM, DS-Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB mendampingi sebanyak 148 kasus kerentanan anak Covid 19 selama bulan September hingga Oktober 2020. Kasus ini berasal dari 50 desa/kelurahan yang terdampak Covid 19.

Sejak bulan Agustus, LPA NTB yang bekerjasama dengan Unicef melakukan pemetaan anak-anak terdampak Covid 19 dan kerentanan anak di wilayah-wilayah terdampak. Diperoleh data  terjadinya  stigmatisasi yang menimpa anak-anak terdampak covid. “Data hingga 19 Oktober 2020, ditemukan 148 kasus diantaranya pelecehan dan tak punya adminduk,” kata PO Covid 19 LPA NTB, Dr.Muchammadun, yang didampingi tim data, Eko.

Kasus-kasus tersebut menerima pendampingan ke layanan-layanan sosial yang sebagian besar diantaranya sudah terselesaikan. Rincian kasus itu meliputi stigmatisasi 56 kasus terdampak maupun yang terpapar, pelecehan seksual 4 kasus, 38 tidak memiliki dokumen adminduk baik KK dan akta kelahiran. Terdapat pula kelompok rentan meliputi 50 orang disabilitas serta anak yang mengalami perundungan di lingkungannya.

Dari 148 kasus itu, yang sudah ditangani LPA mencapai 30 orang anak dan 12 orangtua. Baik anak maupun orangtua tidak bisa dipisahkan dalam kasus seperti stigmatisasi dan pelecehan seksual sehingga keduanya menerima pelayanan.  Kata muchammadun, dalam proses pendampingan, ada yang ditangani kader secara langsung dan ada pula yang difasilitasi LPA.

 “Kader hanya pada penanganan psikologi dasar. Ketika tak bisa diselesaikan dan butuh layanan lebih lanjut seperti melalui Yarsi maka harus melalui LPA,” ujarnya seraya menambahkan kasus yang langsung didampingi kader sebanyak 106, sebanyak 38 diantaranya berupa pengurusan dokumen adminduk.

Menurutnya, anak-anak yang terdampak maupun terpapar covid lebih banyak difasilitasi ke layanan psikologi. Mereka mengembalikan kepercayaan diri anak-anak termasuk mengedukasi di keluarga dan bisa diterima kembali masyarakat.

Kasus Covid di NTB sendiri tertinggi berada di Kota Mataram. Karena itu, dari 50 desa, sebanyak 35 kelurahan dampingan berada di Kota Mataram, disusul Lobar 11 desa, Loteng 1 desa, KLU 1 desa, dan Lotim 2 desa. Desa dan kelurahan yang dipilih berdasarkan survey kasus Covid minimal 6 kasus di satu desa.

“Parameter keberhasilan program tersalurkannya kasus-kasus ini ke lembaga layanan. Angka itu berdasarkan wilayah dampingan. Kedua, pemberian layanan konseling dan edukasi dengan makin sering turun ke lapangan mengedukasi masyarakat yang kena covid,” paparnya.

Sementara itu jumlah kader yang diturunkan mencap[ai 98 orang yang merupakan penduduk di desanya masing-masing. Para kader merupakan kader posyandu dan pekerja sosial masyarakat sehingga informasi dari masyarakat  terkait covid 19 cepat diperoleh.

Kontribusi para kader, kata Muchammadun, diantaranya mendorong pemerintahan desa   memasukkan kegiatan-kegiatan terkait protocol kesehatan  dalam kegiatan desa.

 “Kita harapkan fasilitator desa menjadi pelopor dan pelapor di masyarakat supaya masyarakat mendapatkan pelayanan by system. Ketika masyarakat mengurus adminduk mereka jadi penunjuk jalan.  Kader hanya menuntut masyarakat,” tambah Eko.

Hasil yang sementara ini diperoleh menunjukkan stigmatisasi terhadap anak-anak yang tedampak Covid 19 sudah mulai berkurang. Sedangkan kasus lain seperti  pelecehan seksual sudah dibawa ke ranah kepolisian. Terdapat pula kasus nikah dini di Kota Mataram melibatkan 3 orang anak yang akan diarahkan agar yang bersangkutan tidak punya anak dulu.

Salah seorang kader,Siti Rohani, mengatakan menangani kasus pernikahan anak di Presak Timur, Kelurahan Pagutan, kota Mataram yang melibatkan anak berusia 14 tahun. Karena menikah dalam usia anak, yang bersangkutan tidak memiliki buku nikah. “Karena anak itu sudah punya anak maka kita member bimbingan agar tidak punya anak lagi,” kata Rohani seraya menyebut terdapat pula kasus lain yang ditangani seperti anak yang positif Covid dimana yang bersangkutan masih bayi dan tidak bisa ditebus orangtuanya. ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.