Berbagi Berita Merangkai Cerita

Lobar Jadikan Sesela Desa Siaga TBC

59

FOTO. Asisten II, Anggota DPRD H Faedullah, Kabid Yankes, dan Kapus Sesela serta Kades Sesela H. Abu Bakar saat launching Desa siaga TBC. (FOTO. rul)

MATARAM, DS -Selain kasus Covid-19 dan Demam Berdarah Dengue (DBD), Kabupaten Lobar harus mewaspadai penyebaran kasus Tuberkolosis (TBC). Tiga tahun terakhir capaian penemuan baru (Case Detection Rate (CDR)) kasus TBC di Kabupaten Lombok Barat sangat rendah. Salah satu kasus tertinggi di desa Sesela kecamatan Gunungsari sehingga desa setempat didukung oleh lembaga NGO STPI membentuk desa siaga TBC.

Kades Sesela, Abu Bakar, mengatakan dengan membentuk Desa Siaga TBC penanganan TBC menjadi hal prioritas. Bila tidak segera diselesaikan maka akan menjadi persoalan besar di masa mendatang.

”Kalau ini harus dianggarkan dari desa, kami berharap bisa ada payung hukumnya (berupa Perda),” tutur saat launching desa siaga TBC di Kantor desa Sesela, Jumat (26/3).

Dengan menjadi Desa Siaga TBC, Sesela bersemangat menemukan kasus baru menggandeng masyarakat dan tim satgas untuk aktif turun.

Selain pelacakan juga untuk memberikan edukasi ke masyarakat. ”Kalau kaitan dengan awiq-awiq desa, harus mencoba dahulu sampai sejauh mana kemampuan daripada tim-tim satgas. Kalau memang perlu, ini akan menjadi pendorong menangani ini,” kata dia.

Di tempat yang sama, Kabid Pelayananan Kesehatan (Yankes) Dikes Lobar, H Zulkifli mengakui selama tiga tahun terakhir (2018-2020) capaian penemuan kasus TBC sangat rendah. Tahun 2018 angka CDR 42,84 persen, tahun 2019 angka CDR 43,63 persen, dan tahun 2020 angka CDR 30,36 persen.

Dikatakan, capaian penemuan kasus baru TBC di Lobar jauh dari target nasional. Sebab secara nasional ditargetkan daerah bisa menemukan kasus baru adalah 70 persen.”Salah satunya dikarenakan masih kurangnya alat deteksi TBC di Lobar,” terangnya.

Zul menerangkan Lobar baru memiliki tiga buah alat Tes Cepat Molekuler (TCM) TBC. Ini tersebar di Puskesmas Gunungsari, Puskesmas Sekotong, dan RSUD Tripat.”Tahun ini baru dimasukkan anggaran untuk pengadaan TCM TBC untuk Puskesmas Narmada,” terangnya.

Ia menjelaskan keberhasilan dari penanganan TBC bila capaian penemuan kasus baru TBC tinggi. Jadi semakin banyak yang terdeteksi terkena TBC maka akan maksimal penanganan untuk menekan TBC ini.

”Sedangkan kalau keberhasilan penanganan TBC di Lobar tiga tahun terakhir di atas 90 persen. Ini melebihi target nasional keberhasilan penanganan TBC 90 persen,” jelasnya.

Kepala Puskesmas Sesela Rusman Efendi memberikan contoh di wilayah kerjanya itu, terutama wilayah Midang dan Jatisela terkait kasus TBC. Pada tahun 2020 lalu ada 109 orang yang diestimasi menderita TBC, tapi baru ditemukan empat orang.”Tahun 2021 dari awal Januari hingga Maret, ada enam kasus TBC yang terdeteksi,” jelasnya.

Anggota DPRD Lobar Dapil Gunungsari-Batulayar, H Faedullah mengatakan dalam penanganan ini diperlukan perda. Tujuannya agar bisa lebih maksimal lagi ditangani oleh pemerintah daerah. Baik itu dalam penemuan kasus baru TBC di Lobar dan juga penanganannya di masa akan datang. Penanganan TBC ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

“Akan kami dorong adanya perda inisiatif penanganan TBC ini. Agar ada regulasi hukum untuk menganggarkan itu ada,” tuturnya.

Dijelaskan, penularan penyakit TBC ini sumbernya dari bakteri. Penularannya tidak secepat penularan yang disebabkan virus korona yang menjadi pandemi global saat ini. Penularan TBC ini agak lama, tapi pasti.

“Tetapi, data tingkat kematian akibat TBC ini di Indonesia, kasusnya peringkat kedua setelah kanker,” terangnya. Karena itu , untuk memaksimalkan penanganan TBC ini, ia mendorong agar segera dibuat regulasi berupa Perda khusus Penanganan TBC.

Menurut dia, regulasi ini penting untuk desa sebagai payung hukum menganggarkan dana dari DD. “Kalau tidak Pemda, kami dari DPRD upayakan melalui insiatif,” imbuhnya.

Asisten II Kabupaten Lombok Barat, Rusditah mengaku setuju bila ada pengusulan perda penanganan TBC. Pemerintah bisa siap kalau terkait perda ini.


”Mudah-mudahan inisiatif DPRD lebih cepat, akan kita dorong,” katanya seraya menambahkan dari sisi kebijakan anggaran khusus kesehatan Pemda sudah maksimal termasuk untuk TBC. Namun, aku dia , perlu dipastikan seberapa besar untuk penanganan TBC ini. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.