Membangun Masyarakat Cerdas dan Berwawasan Luas

Lima PKSAI Terbentuk di Lombok, Ari Berharap Anak-anak Kedepan Lebih Baik

0 10

MATARAM,DS-Sebanyak lima Pusat Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (PKSAI) sudah dibentuk di lima kabupaten/kota masing-masing Kota Mataram, Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur. Lembaga serupa juga terdapat di tingkat provinsi.

Dalam Pertemuan Koordinasi Stakeholder Pelaksanaan Kegiatan Kemitraan LPA NTB dengan Unicef yang berlangsung di Hotel Lombok Raya. Kamis (13/2), Ketua LPA NTB, H.Sahan, SH, dalam sambutannya mengurai tiga subprogram yang tengah ditangani seperti PKSAI, Adminduk dan Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). Hadir dalam acara tesebut Perwakilan unicef Jakarta Astrid. Wakil Kepala Bappeda NTB dan OD terkait dari kabupaten/kota.

Sahan mengatakan program LPA NTB dengan Unicef tahun ini merupakan periode kedua setelah sebelumnya berlangsung ditahun 2019. Pada tahun ini melakukan pembentukan PKSAI se pulau Lombok termasuk di provinsi, PUP dan Adminduk. Pertemuan itu sendiri dalam rangka memantapkan program kegiatan menjadi lebih baik.

PKSAI yang dibentuk tidak sebatas pembentukan sekratariat, melainkan juga pembuatan Perbup yan diperkuat dengan SOP. Dalam wadah PKSAI, kata dia, lima OPD terkait seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Bappeda, dan Dinsos, perlu disinergikan karena akan jadi modal utama dalam perlindungan anak.

Terkait PUP, Sahan memaparkan perkawinan anak di Lombok cukup tinggi. Khususnya di KLU pendampingan tahun 2020 dilakukan di 10 anak. Sebelumnya, dalam program lain, LPA sudah melakukan pendampingan pembentukan Perdes PUP di 22 desa. Pemprov NTB sendiri sudah mengeluarkan surat edaran terkait PUP dengan usia kawin 21 tahun. Menyangkut adminduk, Sahan mengemukakan pencatatan akta kelahiran yang difasilitasi LPA sudah diperkuat pula dengan Perbup.

Sementara itu, Sekretaris Bappeda NTB, Ari Purwanti, mengakui LPA sudah berpengalaman melakukan kegiatan sejak 2002. Bagi dia, anak menjadi problem sejak lahir hingga keluar dari status anak.”Permasalahan anak tak hanya di lingkungan masyarakat terbelakang. melainkan akibat perkembangan teknologi, mengancam juga anak anak lainnnya,” ujarnya seraya menambahkan, dahulu ada sesuatu yang tidak boleh diketahui anak, kini terbuka dan menjadi resiko yang memerlukan kontrol.

Disisi lain, orangtua banyak tersita waktunya sehingga perhatian untuk anak berkurang yang berdampak pelarian anak pada sesuatu yang lain. Karena itu Ari berharap kegiatan bisa menjadi wadah yang baik bagi masyarakat.

Ari menuturkan ketika terjadi gempa bumi beberapa waktu lalu, anak-anak banyak menerima pendampingan lewat trauma healing. Persoalannya, bagaimana keberlanjutannya setelah itu mengingat upaya memulihkan kondisi psikis anak memerlukan waktu lama sampai pada mereka bisa menikmati kenyamanan.

“Pernikahan dini juga masih jadi masalah sehingga perlu dilakukan perlindungan agar generasi mendatang bisa menjadi lebih baik. Ini menjadi tanggung jawab semua. Generasi mendatang tergantung pada bagaimana merencanakan mereka kedepan,” katanya.

Ia menegaskan Bappeda NTB akan memantau stakeholder lain yang terkait agar program yang dilakukan LPA NTB bisa berjalan. “Walau sekarang sudah banyak yang dilakukan (LPA) tetap berharap kedepan menjadi lebih baik,” katanya. ian

Leave A Reply