Berbagi Berita Merangkai Cerita

Lelaki Pesepeda Ini Tempuh Ribuan Kilometer Hanya untuk Sebuah Lagu

0 12

Suatu kali, Wing Sentot Irawan melihat penampakan sepeda warna hijau tua di Pasar Cakranegara Kota Mataram, NTB. Sepeda itu sudah lusuh dengan ban belakang kempes. Seorang laki-laki bertopi, berpakaian rapi, bercelana jeans coklat berdiri di sebelahnya. Rada kontras dengan barang dagangannya, namun ia seperti setia menunggu seorang pembeli. Dari sanalah muncul inspirasi untuk memiliki sepeda sekaligus berkeliling Indonesia dan negeri jiran.

“Dijual, Pak?”
“Iya! Sepeda ini saya jual, Pak!”
“Berapa?”
“Seratus tujuh puluh lima ribu saja!”
“Kemahalan!” Seloroh Sentot melihat penampakan sepeda yang tak layak pakai itu.
“Seratus lima belas ribu, ya?” tawarnya.

Nampak tak masuk akal menjual sepeda tak layak di antara pedagang sepeda loak lain. Tapi tak ada cukup ruang dan waktu untuk tawar-menawar. Apalagi menunggu sampai toko sepeda di sekitarnya buka. “Okelah, kalau gitu seratus dua puluh lima ribu!”

Sepeda langsung dituntun menuju toko dan bengkel terdekat. Ganti ban depan dan belakang, stang, perbaikan rem, pasang ring bel dan rak belakang. Berikutnya melengkapi dengan tas. Ia membuka dompet. Tinggal satu juta setengah. Sentot berfikir, cukuplah buat bekal perjalanan.

Petama kali ia kayuh sepeda kelilingi Lombok. Kurang lebih selama 4 hari menempuh perjalanan dari Mataram menuju Mongkey Forest, Pemenang, Gangga, Tanjung, Sambelia sampai Labuhan Lombok, Selong ke Labuhan Haji arah ke Praya dan balik lagi ke Mataram. Perjalanan bersepeda itu adalah yang pertama kali. Penginapannya di masjid-masjid.

Perjalanan pertama yang mengesankan membuatnya yakin untuk mengayuh sepeda menuju daerah lain. Petualangan barunya pun dimulai, yaitu menuju Aceh. Berbekal kawan-kawannya yang tergabung di Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Sentot yakin tidak ada persoalan menyangkut biaya. Hal itu berlangsung mulai 22 April 2006 bertepatan dengan Peringatan Hari Bumi.

Ternyata, perjalanan bersepeda ke Aceh menelan waktu hingga 6 bulan. Namun, setelah sejanak istirahat di Lombok, keinginan itu kembali membuncah dan tepatnya 22 April 2008 Sentot memutuskan melakukan perjalanan menuju Merauke.

Berat perjuangan yang ditempuh. Salah satunya kapal yang mangkrak di Bitung.
“Akhirnya, perjalanan aku sudahi di Sorong dan kembali ke Makassar. Dari Makassar menuju ke Kendari menyeberang ke Kalimantan. Dan, dari Banjarmasin menuju Semarang lalu kembali ke Lombok. Itu semua kulakukan selama setahun,” urainya.

Perjalanan tidak berhenti di sana. Setiap tahun Sentot memiliki agenda perjalanan seperti ditahun 2010 berkeliling Indonesia Timur. Kemudian dilanjutkan dengan berkeliling Asia Tenggara. Ribuan kilometer ditempuh, Sentot yang juga seorang musisi daerah ini tidak untuk mendapatkan harta. Namun, sesuatu yang sangat berharga itu adalah bisa menciptakan sejumlah lagu yang sering dimainkan dimana saja tempat ia mampir.

Mantan Guru

Wing Sentot Irawan yang lahir di Magelang 8 Agustus 1965 merupakan siswa SDN Magersari Magelang –dan SMP sampai kelas 2 di SMP Pendowo-Magelang. Hijrah ke SMP 2 Mataram, setematnya melanjutkan ke SMA I Mataram dan kemudian ke UNRAM (Universitas Mataram) mengambil jurusan D2 Bahasa dan Sastra.

Ia kemudian mengajar di SMP Bagik Payung Lombok Timur dan di SMP 6 Tanjung Teros Lombok Timur. Setelah mengajar selama kurang lebih 7 tahun, Wing Sentot memutuskan berhenti menjadi PNS dengan golongan terakhir IIB. Namun, pengunduran dirinya sebagai PNS tak membuatnya galau. Selalu ada kreasi. Pasalnya, sejak SMA kelas 3, ia sudah mengenal teater yang melatihnya banyak hal tentang kehidupan.

Dalam dunia teater itu sendiri Wing Sentot bergabung bersama komunitas ‘BENGKEL AKTOR MATARAM’, pimpinan Kongso Sukoco. Mementaskan banyak naskah teater baik tradisional maupun naskah modern. Naskah-naskah yang pernah dipentaskan antara lain: BYAR karya Putu Wijaya (naskah modern), Mandalika (naskah tradisional Lombok) garapan Max Arifin (almarhum). Dokter Gandungan karya Mollier, Rampok karya Sciller, Salah Paham Naskah Samuel Becket garapan Epol Sapturi. Bocor naskah Wing Sentot Irawan – sebuah naskah garapan sutradara Wing Sentot Irawan. Opera Kecoa (naskah modern) – Sutradara Kongso Sukoco.

Pada tahun 2000, membentuk komunitas Musikalisasi Puisi menggarap beberapa Repertoar sendiri diantaranya; BALON EMAS, PENTAS DEWEK, NYANYIAN PRENJAK, GAIB, DARI TITIK NOL, TELUR SETENGAH MATANG, BOLA LANGITAN, REPORTOAR SEMBILAN – SEMBILAN dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ciptakan Lagu

Bagi Sentot, bersepeda merupakan ruang ekspresi bagi jiwa kesenimanannya. Karena itu, setiap melintasi daerah tertentu muncul inspirasi membuat lagu. Setiap kayuhan laksana irama yang landai dan kadang menghentak. Tidaklah mengherankan, lagu-lagu yang ia ciptakan sudah sangat banyak. Lahir, hilang dan lahir lagi karena lagu itu kadang bertahan sesaat saja walau ada yang terus lekat.

Sedangkan panggung yang ia gunakan adalah kelompok-kelompok kecil seperti Komunitas Musikalisasi Puisi Habitat Capung Mataram. Pun kelompok-kelompok seniman di daerah tempatnya singgah yang senantiasa menerimanya dengan lapang dada.

Salah satu lagunya yang sering dinyangikan berjudul “SATU FEDERAL SEJUTA DOA”.
Basah keringat pengayuh sepeda
bercerita …
Jalan menanjak berkelok panjang jauh
terasa indah
Untuk Indonesia
satu federal sejuta doa sahabat
Kayuh …
Ayo kayuh ayo kayuh
Untuk lembah, ngarai dan biru laut seduhkan secangkir kopi hitam
Biar senyum panas terik dan hujan
riang, hatimu kawan
Untuk Indonesia
Satu federal Sejuta doa Sahabat

ian

Leave A Reply