Berbagi Berita Merangkai Cerita

Latih Perempuan Mapak Dasan Belajar Sekolah Sampah ke Gelisah Selly Ajak Perempuan Mataram Kreatif Kelola Sampah

0 17

MATARAM, DS – Setiap harinya rata-rata volume sampah di Kota Mataram mencapai sekitar 400 ton. Sementara itu, total sampah yang dihasilkan dari 10 kabupaten/kota yang ada di NTB mencapai 3.388 ton per hari
Hanya saja, dari jumlah itu, justru sebanyak 631 ton sampah yang sampai ke 10 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di masing-masing wilayah di NTB.
Sedangkan, baru 51 ton diantaranya yang kini telah dilakukan proses daur ulang. Sehingga, ada sekitar 80 persen atau setara 2.695 ton sampah hingga kini belum terkelola dengan baik.

Kepala Dinas Perdagangan NTB, Hj. Putu Selly Andayani, mengajak perempuan di wilayahnya perlu melakukan upaya mengurangi sampah dari sumbernya. Carannya, sampah harus dipilah terlebih dahulu sejak dari rumah. Hal ini dimaksudkan, supaya memudahkan pihak-pihak terkait untuk mengelompokkan sampah yang akan didaur ulang. “Jadilah perempuan yang punya kreativitas tinggi, apalagi sampah ada didepan kita setiap harinya,” ujarnya menjawab wartawan, Senin (24/2).

Menurut dia, saat memberikan edukasi kepada warga Lingkungan Mapak Dasan Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram pada Minggu (23/2), Selly mengaku sengaja mengajak Ketua Komunitas Gerakan Lingkungan Sampah Nihil (Gelisah) Kampung Banjar Ulfadan Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) NTB, Fitri Nugraha Ningrum menyapa warga di wilayah tersebut.

Kata dia, kedua wanita itu adalah figur yang layak jadi panutan perempuan di Kota Mataram. Pasalnya, ditangan keduanya, limbah plastik dan rumah tangga yang awalnya tidak berharga. Kini, telah menjadi berkah yang mampu mendatangkan nilai ekonomis. “Makanya, saya ajak Mbak Ulfah dan Mbak Fitri agar keduanya dapat memberikan pembelajaran ke masyarakat, khususnya perempuan di Mapak untuk bisa mengolah sampah plastik dan limbah dapur untuk bisa diolah oleh warga disana,” ungkap Selly.

Ia mengatakan, dibalik kekurangan yang dimiliki oleh Fitri. Namun ia mampu memiliki kelebihan mengolah limbah plastik menjadi hiasan bunga yang indah. Sementara Ulfah sendiri, adalah sosok anak muda di wilayah Kampung Banjar yang dulunya selalu wilayahnya banjir lantaran ada sampah kiriman.

Namun berkah kegigihannya, sampah kiriman itu bisa menghasilkan berkah yang menguntungkan warga di wilayahnya. “Ketrampilan dan kemauan untuk merubah sampah menjadi keberkahan ini yang layak dicontoh oleh siapapun. Apalagi, limbah sampah itu sudah mampu menjadi produk kerajinan yang bisa dipasarkan melalui media sosial. Diantaranya, tas, dompet, suvenir pernikahan, piring, serta hiasan bunga dan topi yang mempesona dan indah saat ini,” tegasnya.
Ia bersyukur pascamenghadirkan kedua figur perempuan tangguh yang mampu menyulap sampah menjadi berkah itu. Saat ini, perempuan di wilayah Lingkungan Mapak Dasan, Kecamatan Sekarbela mulai berbondong-bondong berkeinginan mengikuti sekolah sampah di komunitas Gelisah.

Bahkan, lanjut Hajjah Selly, sudah puluhan ibu-ibu di wilayah setempat yang mendaftarkan diri mengikuti sekolah sampah itu. “Insya Allah, saya akan fasilitasi mereka belajar mengelola sampah pada Sabtu pekan depan sekitar pukul 16.00 Wita di Komunitas Gelisah. Teknisnya, kita akan buat perkelompok yang di isi oleh 10 orang mentor ibu-ibu Mapak. Nanti, setelah mereka tahu cara-cara pengelolaanya, mereka akan bisa mengajarkan pada anggotanya,” tandasnya. RUL.

Leave A Reply