Berbagi Berita Merangkai Cerita

Larangan Mudik, SJP Minta Pemerintah Antisipasi Kerugian Jasa Angkutan

404

FOTO. Suryadi Jaya Purnama ST. (FOTO.rul)

MATARAM, DS – Larangan mudik yang dimulai pada tanggal 6 hingga 17 Mei 2021 sangat merugikan sektor transportasi, terutama perusahaan otobus.

Diperkirakan, pengusaha otobus akan mengalami kerugian sekitar Rp 18 miliar. Kondisi ini berdampak pada wacana pengusaha bus akan melakukan penyesuaian tarif pada saat sebelum tanggal larangan mudik.

Meihat kecenderungan ini, maka pada akhirnya masyarakat yang akan sangat dirugikan dan menanggung akibat dari pelarangan mudik tersebut.

“Seharusnya Pemerintah dapat belajar dari larangan mudik Lebaran 2020, dimana banyak juga masyarakat yang tetap membandel mudik dengan menggunakan mobil pribadi atau travel gelap yang memanfaatkan situasi, padahal disisi lain perusahaan otobus yang berdiri secara legal dilarang beroperasi. Sehingga tidak mendapatkan pemasukan,” kata Anggota Komisi V DPR RI Suryadi Jaya Purnama ST dalam siaran tertulisnya, Rabu (21/4).

Sebagaimana diketahui larangan mudik lebaran 2021 berlaku untuk seluruh lapisan masyarakat dengan pertimbangan masih tingginya angka penularan virus Corona secara nasional.

Dimana, pada momentum libur panjang beberapa waktu lalu, seperti pada libur Agustus jumlah kasus meningkat 119%, libur Oktober 95%, dan Natal-Tahun Baru 78%.

Sehingga, pelarangan mudik ini dimaksudkan agar upaya vaksinasi yang sedang dilakukan bisa menghasilkan kondisi kesehatan yang semaksimal mungkin sesuai yang diharapkan, mengingat program vaksinasi ini baru akan selesai pada tahun 2022.

Oleh sebab itu, Fraksi PKS berpendapat bahwa Pemerintah harus segera mengundangkan ketentuan teknis yang telah dirancang Kemenhub terkait larangan mudik tersebut yang hingga saat ini tak kunjung disahkan.

“Hal ini dibutuhkan agar dapat memberikan kejelasan terkait teknis pelarangan mudik tersebut bagi masyarakat dan perusahaan otobus agar tidak berimplikasi pada kenaikan harga tiket yang serampangan,” ujar Suryadi.

Politisi asal Lombok Timur itu, mengungkapkan, agar dalam ketentuan tersebut juga diatur terkait pengendalian harga tiket agar masyarakat tidak terbebani harga tiket yang mahal dan memberikan kompensasi pada perusahaan otobus yang berpotensi mengalami kerugian, baik itu dalam bentuk keringanan pajak ataupun subsidi spare part.

“Ketentuan teknis yang akan disahkan seharusnya belajar dari pengalaman dan mengambil esensi dari pelarangan mudik tahun lalu, yaitu bahwa yang seharusnya dicegah adalah adanya penyebaran virus akibat adanya perjalanan orang,” tegas SJP.

Menurut dia, ketentuan teknis tersebut diharapkan lebih mengarah pada pengendalian mudik lebaran secara maksimal melalui penegakkan protokol kesehatan secara ketat di semua wilayah.

“Dengan demikian diharapkan ekonomi dapat tetap berjalan, tidak ada yang dirugikan baik masyarakat maupun perusahaan otobus, tetapi disaat yang sama penyebaran virus juga dapat ditanggulangi,” tandas Suryadi Jaya Purnama. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.