Berbagi Berita Merangkai Cerita

Kurangi Resiko Bencana, Dinsos NTB Masifkan TMS

21

FOTO. Kadis Sosial NTB H. Ahsanul Khalik (kanan) saat meluncurkan Tagana Masuk Sekolah dan Mobil Edulasi Bencana (MEB). (FOTO. RUL/DS)

MATARAM, DS – Bencana alam sejak beberapa tahun terakhir nyata dirasakan masyarakat. Di NTB secara topografi memendam potensi gempa dan tsunami.

Kepala Dinas Sosial NTB, H Ahsanul Khalik mengatakan, sumber daya manusia yang siap menghadapi bencana perlu disiapkan. Langkah ini penting demi mengurangi risiko bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Salah satu upaya penyiapan itu yakni lewat Tagana Masuk Sekolah (TMS). Gerakan TMS ini sudah diresmikan secara nasional oleh Presiden RI Joko Widodo pada Februari 2019 lalu di Banten.

“Saat ini, gerakan TMS ini sudah sangat massif di berbagai daerah di Indonesia,” ungkapnya, Sabtu (10/10).

Kehadiran TMS, jelasnya, sebagai respon tanggap bencana di sekolah. Dengan demikian, para pelajar dan komponen sekolah lebih siap ketika bencana melanda.

Tak hanya TMS, Dinas Sosial NTB bahkan meluncurkan Mobil Edulasi Bencana (MEB) yang terus berpatroli hingga ke pelosok daerah. MEB ini bertugas mengingatkan setiap warga masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

“Takdir menempatkan Indonesia, termasuk kita NTB berada pada tiga lempeng tektonik sehingga pantas dijuluki super market bencana. Semua jenis bencana ada, bencana alam dan non alam pun menjadi keseharian kita,” ujar Khalik.

Ia mengatakan, MEB dikemas menarik seperti kedai kopi yang menyiapkan produk-produk lokal. Tujuannya tidak lain agar mengundang perhatian.

Selayaknya sebuah kafe berjalan, MEB membuka lapak di keramaian untuk menyasar pengunjung yang akan menikmati kopi. Dari proses itu, pihak yang berkunjung mendapatkan informasi terkait kebencanaan.

“Mobil ini berfungsi sebagai kafe berjalan yang bisa membuka lapak di keramaian lalu pengunjung menikmati kopi asli Lombok dan Sumbawa dengan kue dan jajanan lokal, dan sambil menikmati kopi diisi dengan diskusi kebencanaan, atau sosialisasi  tentang bencana,” jelasnya.

Berangkat dari kondisi ini, semua pihak harus berperan aktif dalam misi kemanusiaan. Guna mengurangi risiko bencana seperti yang pernah terjadi 2 tahun silam di NTB.

“Peran semua pihak termasuk para santri, pelajar, mahasiswa dan semua komponen masyarakat sangat penting dikuatkan mejadi bagian dalam pengurangam risiko bencana. Sehingga kita dapat menyiapkan kesiapsiagaan untuk respon yang efektif untuk bangkit kembali,” kata AKA, panggilan akrabnya.

AKA berpesan agar gerakan sederhana kesiapsiagaan ini menjadi semangat warga masyarakat di NTB khususnya untuk lebih siap dengan cobaan hidup. Sekaligus memupuk kesadaran seluruh pihak untuk tetap menjaga alam tanpa merusaknya dengan kegiatan-kegiatan yang tidak baik.

“Mari kita jadikan sebagai ikhtiar untuk pengurangan risiko bencana menjadi bagian dari investasi peradaban bagi anak cucu kita. Tagana harus menjadi pelopor, motivator dan motor penggerak kesiap siagaan kita dari bencana,” pungkas AKA.

Gerakan Tagana Masuk Sekolah di NTB pada sepanjang bulan Oktober ini, akan menyasar 35 sekolah dan pondok pesantren di 10 kabupaten kota se-NTB. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.