Membangun Masyarakat Cerdas dan Berwawasan Luas

Kritis, 3000-an Pohon di Pinggir Jalan Lombok Timur Rawan Tumbang

17

Indar Jaya Kusuma

SELONG, DS – Lebih dari 3000 pohon pelindung di pinggir jalan Wilayah Lombok Timur dalam kondisi yang sudah tua dan terkategori sebagai pohon rawan tumbang. Pohon-pohon yang usianya rata-rata diatas 10 tahun tersebut dalam kondisi kritis.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Lombok Timur, H. Marhaban, saat dijumpai wartawan belum lama ini. “Kayu kita yang kritis ini lebih dari 3000-an pohon. Itu yang rawan tumbang,” ungkap Marhaban seraya menyebutkan pohon-pohon tersebut dapat membahayakan karena bisa patah atau tumbang sewaktu-waktu. Oleh sebab itu, dibutuhkan penanganan terhadap pohon-pohon tua tersebut.

Sementara, untuk melakukan pemangkasan ataupun penebangan, DLHK Lombok Timur memiliki kendala keterbatasan personil. Selama ini, pemangkasan hanya bisa dilakukan untuk satu pohon perharinya.

“Pasukannya Kabid Taman hanya mampu satu hari satu pohon. Itupun sampai tiga kali dum truck mengantar sampah pohonnya,” terangnya, sembari menambahkan perlunya penanganan bertahun-tahun untuk menangani ribuan pohon tersebut.

Kepala Bidang Pertamanan dan Ruang Terbuka Hijau (Kabid PRTH), Indar Jaya Kusuma, mengamini pernyataan pimpinannya tersebut. Diakuinya pohon jenis sengon yang ada di sepanjang jalan Lombok Timur merupakan jenis pepohonan yang rawan tumbang.

Namun, sifat sengon yang pertumbuhanya cepat, serta penyerapan CO2 tertinggi disebut sebagai alasan pemerintah menanam pohon sengon sebagai pohon pelindung, pada program penghijauan dimasa lampau. “Memang pernah kita melakukan survey, yang paling rawan itu pohon sengon. Pohon ini kan cepat tumbuhnya, cepet patah rantingnya juga. Rawan tumbang juga,” jelasnya.

Kata Indar Jaya, penanganan terhadap pohon kritis dilakukan dengan menetapkan skala prioritas pada kondisi pohon yang ada. Tentunya, hal tersebut dilakukan karena terkendala keterbatasan personil di DLHK Lombok Timur.

“Personil kami yang ada saat ini hanya 10 orang. Itu kita jadikan satu kelompok saja. Paling tidak kita butuhkan tiga kelompok. Itupun harus dilengkapi sarana dan prasarananya kan,” ujarnya. Keterbatasan personil ini juga menjadi kendala ketika terjadi hujan angin yang menyebabkan pohon tumbang dimana-mana.

Untuk limbah pohon hasil penebangan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir, ataupun dihibahkan kepada masjid ataupun mushola yang meminta. Namun, tidak bisa dijadikan sebagai kayu industri, karena produsen kayu tidak berani membeli kayu pelindung jalan. Dengan alasan banyaknya paku di dalam pohon, karena kerap dijadikan sebagai media pemasangan iklan. Terlebih pada musim kampanye.

“Kalau untuk dipinggir jalan seperti ini, tidak ada yang mau. Apa yang menyebabkan, dari kecil biasanya dipaku untuk iklan. Didalam pohon itu banyak paku,” tuturnya.

Indar Jaya juga menjelaskan, pohon-pohon tua yang akan ditebang tersebut, direncanakan akan digantikan dengan pohon produktif seperti nangka. Serta, pohon yang dapat mempercantik daerah dengan bunga-bunganya.

“Rencana seperti dua tahun belakangan ini, pohon nangka. Ketapang kencana, tabibuya, angsana juga,” sebutnya. Dd

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.