Berbagi Berita Merangkai Cerita

Komisi III DPRD NTB Belajar Tata Kelola Majukan BUMD ke DKI Jakarta

20

Studi komparatif tata kelola BUMD ke Pemprov DKI Jakarta

MATARAM, DS – Komisi III DPRD NTB yang membidangi urusan Keuangan, Perbankan dan BUMD melakukan studi komparatif tata kelola BUMD ke Pemprov DKI Jakarta, yakni PT Food Station (FS) Tjipinang Jaya, Rabu (28/4). Kedatangan rombongan Komisi III diterima langsung dengan hangat oleh Budi Santoso-Direktur Keuangan dan Umum PT FS Tijipinang Jaya.

Kepada wartawan, Sambirang Ahmadi-Ketua Komisi III DPRD Provinsi NTB, menjelaskan mengapa pihaknya harus belajar ke Pemprov DKI Jakarta terkait dengan tata kelola BUMD. Karena, DKI Jakarta merupakan salah satu yang memiliki banyak BUMD yang maju. “PT Food Station merupakan salah satu BUMD yang tersukses di DKI Jakarta. Pada tahun 2020 berhasil menyabet tiga penghargaan sekaligus atas kinerja bisnis, layanan serta kontribusinya terhadap perekonomian daerah,” ungkapnya.

Politisi PKS itu juga menerangkan beberapa penghargaan yang diraih PT Food Station, antara lainnya sebagai TOP of the TOP BUMD, TOP BUMD Award (sektor aneka usaha) dan TOP CEO BUMD. Perusahaan yang bergerak di bidang pangan tersebut meraih penghargaan karena dinilai sangat berkontribusi pada perekonomian daerah, terutama karena PT Food Station mampu menjamin ketersediaan suplay beras DKI Jakarta dengan harga terjangkau masyarakat.

“PT Food Station mampu menjadi instrumen untuk pengendalian inflasi melalui kontrol harga beras di DKI Jakarta dan menjadi acuan bagi pasar beras nasional. PT. Food Station juga sukses menjadi pusat perdagangan beras dan pangan pokok DKI Jakarta yang mencakup antar daerah dan antar pulau,” kata Anggota DPRD NTB asal Dapil Sumbawa-Sumbawa Barat.

Dari sederet prestasi yang diraih oleh BUMD milik Pemprov DKI Jakarta itu, banyak hal yang dapat dipelajari oleh Pemprov NTB untuk menata BUMD. Disebutkan pria yang kerap disapa Ustadz Sam ini, ada beberapa hal pelajaran yang dapat dipetik oleh Pemprov NTB.

“Yang ingin dipelajari dari PT FS ini, pertama relasi konstruktif antara Pemda-DPRD dan BUMD terutama terkait kekuatan asetnya, penyertaan modal daerah (PMD) dan devidennya. Kedua proses bisnisnya dan cara mereka bertumbuh dan berkembang sebagai role model atau cermin bagi BUMD kita di NTB seperti PT GNE,” tuturnya.

Menurut dia, bisnis PT Food Station tumbuh dan berkembang dengan baik karena banyak membangun pola kerjasama strategis dgn daerah-daerah penyangga pangan. Sehingga meskipun di Jakarta tidak ada lahan persawahan, tapi mampu menjalankan proses bisnisnya dengan menggarap rantai pasok mulai dari hulu hingga hilirnya.

“Harapan kami PT GNE (Gerbang NTB Emas) bisa mengadopsi strategi bisnis PT. Food Station, terutama untuk mengembangkan unit usahanya di bidang agro. GNE juga bisa mengajak PT. Food Station membangun kerjasama di NTB. Hal ini ada peluangnya mengingat kapasitas produksi beras kita di NTB mendekati 800 ribu ton, begitu juga jagung produksinya. Kami berharap PT. GNE bisa menjadi the best BUMD di sektor agro karena sumberdaya kita paling besar di sektor pertanian,” tandas Sambirang Ahmadi.RUL

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.