Berbagi Berita Merangkai Cerita

Kolaborasi PKSAI Provinsi, Mataram dan Lobar, Beri Jalan Keluar Kerentanan Janda Lima Anak

25

Foto Tim Gabungan PKSAI NTB, Mataram dan Lobar ketika melakukan penjangkauan ke “kediaman” janda lima anak untuk mengatasi kerentanannya.

Dia tinggal di sebuah sekenem milik umum selama dua tahun. Namun, “MN”, janda lima anak itu merasa sudah nyaman. Padahal, PKSAI Gabungan justru mau membantu diri dan anak-anaknya.

Pada hari Rabu (30/9) 2020, Tim PKSAI (Pusat Kesejahteraan Anak Integratif) Provinsi NTB (Dinas Sosial), Tim PKSAI Kota Mataram (Dinas Sosial dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil) dan Tim PKSAI Kabupaten Lombok Barat (Dinas Sosial dan DP2KBP3A) melakukan penjangkauan secara bersama-sama ke “tempat tinggal” orang terlantar berinisial “MN” (44 th). Ibu ini tinggal bersama anaklaki-lakinya berinsial “AAR” (7 tahun) dan “RAP”  laki-laki (2 tahun), di sebuah berugak sekenem di Dusun Sukamaju, Desa Midang, Kabupaten Lombok Barat.

“Penjangkauan ini dilakukan secara bersama dikarenakan orang terlantar tersebut berasal dari Kota Mataram sesuai KK dan KTP yang dimiliki. Namun, dia tinggal di Kabupaten Lombok Barat dan diatensi oleh PKSAI Provinsi NTB,” kata Kasie Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Anak dan Usia Lanjut Disos Kota Mataram, Lalu M. Aulia Husnurrido, Senin (5/10) .

“MN” sendiri telah menikah sebanyak dua kali. Suami pertama, “S”, bekerja sebagai buruh harian lepas. Dahulu mereka tinggal di rumah “S” di Kelurahan Monjok Barat, Kecamatan Selaparang. Pernikahan dilakukan tercatat sehingga mereka memiliki akta nikah. Keempat anaknya pun sudah memiliki akta kelahiran, masing-masing : “ZF” laki-laki (23 tahun),  “LA” perempuan (21 tahun), “STA” perempuan (12 tahun) kelas 4 SD, dan “AAR” Laki-laki (7 tahun). Namun, “AAR” tidak sekolah karena tidak ada biaya untuk menyekolahkannya.

Pada tahun 2016 “MN” bercerai dan pada tahun 2017 menikah dengan “M” (50 tahun) yang bekerja sebagai buruh harian lepas.  Mereka tinggal di rumah “M” di Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram dan memiliki satu orang anak laki-laki bernama “RAP” (2 tahun). Ironisnya, mereka bercerai sekira satu bulan setelah “RAP” lahir pada tahun 2018.

Setelah dicerai, “MN” membawa kedua anaknya dari suami yang berbeda, yaitu “AAR” dan “RAP” tinggal di sebuah Sekenem atau gazebo yang berdekatan dengan rumah saudaranya. Sekenem tersebut tidak dilengkapi dengan dinding dan pintu sebagai pelindung dari dinginnya malam dan panasnya siang. Tentu saja tidak layak menjadi tempat tinggal. Apalagi untuk anak-anak dibawah lima tahun yang masih rentan terkena penyakit yang disebabkan oleh kondisi cuaca. Sekenem itu sendiri milik umum yang diapit oleh tiga buah bangunan rumah. Terdapat gang/jalan umum di dekatnya tempat orang lalu lalang.

Saat ini, “MN” bekerja membantu saudaranya berjualan kue serabi di sekitar tempat tinggalnya. Dari pekerjaan itu dia membiayai kebutuhan rumah tangganya selama ini.

Karena kondisi tempat tinggal yang tidak layak untuk anak-anak dan keadaan ekonomi yang tidak menentu “MN” tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi, nutrisi dan vitamin anaknya. Menurut hasil pemeriksaan tenaga kesehatan melalui posyandu di Desa Midang, “RAP” didiagnosa kategori BGM = Bawah Garis Merah yang tercatat di buku kontrol KIA.  Tampilan fisiknya lebih kurus dan kecil dibandingkan dengan anak seusianya. Bila hal ini tidak segera ditangani maka dikhawatirkan “RAP” akan mengidap gizi buruk.

Setelah diadakan penjangkauan sekaligus asesmen, Tim PKSAI Gabungan mengadakan Case Conference langsung di lokasi. Hadir Tim PKSAI Kota Mataram yang diwakili oleh Kasie Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Anak dan Usia Lanjut Disos Kota Mataram, Lalu M. Aulia Husnurrido dan Kasie Perubahan Status Anak, Pewarganegaraan dan Kematian, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Mataram. Ahmad Zaini. PKSAI Provinsi NTB diwakili Kasie Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Anak dan Usia Lanjut, Dinas Sosial Provinsi NTB. Siti Eny Chaerani, SH. Sedangkan PKSAI Kabupaten Lombok Barat, diwakili Kabid Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial, Dinas Sosial Kabupaten Lombok Barat, Dra. Baiq Zaitun serta Kasie Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Tuna Sosial, Korban Tindak Kekerasan dan Perdagangan Orang, Farida.

Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa Dinas Sosial Provinsi NTB akan memfasilitasi anak-anak “MN” untuk prioritas mendapatkan bantuan anak terlantar dari dana APBD I dan APBN.  

Dinas Sosial dan DP2KBP3A Kabupaten Lombok Barat siap berkoordinasi dengan Kepala Desa Midang untuk membantu dan memfasilitasi “MN” dan anak-anaknya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan atau kebutuhan lainnya sebelum bantuan dan fasilitasi dari PKSAI Kota Mataram masih dalam proses.

“MN” pun akan difasilitasi untuk tinggal di Rumah Susun Sewa (RUSUNAWA) di Kota Mataram dengan biaya gratis. Tim PKSAI Kota Mataram akan berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Mataram

Pun difasilitasi untuk mendapatkan bantuan usaha untuk berdagang dalam bentuk barang, yaitu etalase/rombong sekaligus barang dagangannya berupa paket sembako untuk siap dijual dari Dinas Sosial Kota Mataram

Difasilitasi untuk pembuatan KK dan KTP baru untuk “MN” dan akte kelahiran bagi anaknya atas nama “RAP” dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Mataram

Difasilitasi oleh Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Kota Mataram untuk mendapatkan BPJS tanggungan Pemerintah Kota Mataram untuk pelayanan kesehatan untuk  anaknya “RAP”

Difasilitasi untuk menyekolahkan anaknya atas nama “AAR” di SD sekitar Rusunawa dengan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan atau Kemenag Kota Mataram. Dan, difasilitasi oleh DP3A Kota Mataram untuk perlindungan dan pemberdayaan ibu “MN” 

Kendati solusi telah ditawarkan oleh Tim PKSAI Gabungan, MN masih pikir-pikir karena mengaku sudah merasa nyaman tinggal di sekenem tersebut. Padahal, saudara dan keluarga  ‘MN” sangat mendukung solusi yang ditawarkan oleh Tim PKSAI Gabungan demi kepentingan masa depan  “MN” dan anak-anaknya.

Pihak PKSAI membiarkannya berfikir hingga akhirnya “MN” bersedia pindah.

Menurut Lalu M. Aulia Husnurrido, informasi berkenaan dengan “MN” diketahui dari laporan kader di desa tempat “MN” tinggal. Karena ber KTP di ibukota provinsi, PKSAI Kota Mataram akhirnya melakukan penjangkauan bersama.

“Ini pertama kali kami melakukan penjangkauan secara gabungan melibatkan pula PKSAI NTB,” cetus pejabat yang akrab dipanggil Ridho ini. Penjangkauan antar daerah juga sempat dilakukan beberapa waktu lalu, yaitu melibatkan Kota Mataram dengan Lombok Tengah. Karena sudah memiliki visi yang sama, langkah mengatasi kerentanan itu pun berjalan dengan baik.ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.