Menu

Mode Gelap

Pariwisata · 24 Okt 2019 06:11 WITA ·

Kobaran Api di Hutan Rinjani Meluas


					Aparat TNI dan kepolisan tengah bahu membahu memadamkan api di kawasan hutan Gunung Rinjani yang kian meluas Perbesar

Aparat TNI dan kepolisan tengah bahu membahu memadamkan api di kawasan hutan Gunung Rinjani yang kian meluas

MATARAM, DS – Kebakaran di Kawasan Gunung Rinjan di Wilayah Pulau Lombok dilaporkan kian meluas. Kebakaran lahan kini mencapai luasan 6.055,3 hektare dari awalnya hanya 2.557 hektare.

Kepala Pelaksana Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Dwi Pangestu, yang dikonfirmasi wartawan melalui telepon selulernya membenarkan jika luas areal hutan yang terbakar di gunung berapi tertinggi di Pulau Lombok itu makin bertambah luasannya.

“Perkiraan luas kebakaran hutan di Gunung Rinjani sampai dengan tanggal 22 dan 23 Oktober 2019 dari sumber kompilasi data di lapangan dan Satelit Sentinel-2 adalah 6.055,3 Ha,” ujarnya Rabu (23/10).

Menurut Dwi, saat ini, petugas gabungan terbagi dalam enam tim tengah diturunkan untuk memadamkan titik api yang tersebar. Tim terdiri dari Tim Senaru, Tim Anyar, Tim Santong, Tim Sembalun, Tim Aikmel dan Tim Kembang Kuning.

“Di sebelah bawah puncak Rinjani terdapat tiga hotspot (titik api) baru, antara jalur Sembalun dengan Jalur Pendakian Bawak Nao. Hotspot berhasil dipadamkan,” ungkapnya.

Tim Anyar juga berhasil memadamkan api. Sementara Tim Aikmel juga berhasil memadamkan api di titik kebakaran lain. Sementara Tim Senaru, yang menjadi sumber utama kebakaran mengalami kesulitan melakukan pemadaman karena sulitnya medan di lokasi kebakaran.

“Tim Santong berhasil padamkan kebakaran. Namun, terpantau hotspot baru di sekitar Marung Meniris. Tim sedang melakukan persiapan untuk berangkat ke lokasi hotspot baru,” jelasnya.

Sementara Tim Kembang Kuning yang memadamkan api di jalur pendakian Timbanuh membuat pembatas. Kondisi terakhir, api sangat cepat merambat menuju lokasi wisata Joben di Lombok Timur.

Mengingat banyaknya titik api yang terus membesar, pendaki terus diminta untuk turun, karena sebelumnya telah dikeluarkan larangan mendaki hingga kebakaran berhasil diatasi.

Petugas memiliki kendala memadamkan kebakaran, selain medan yang sulit, angin yang cukup kencang membuat api terus membesar. “Selain itu kurangnya ketersediaan sumber air di lokasi kebakaran, vegetasi mudah terbakar seperti rumput, alang-alang dan kendala lain,” tandas Dwi Pangestu.

Belum Bisa Padam
Danramil 1606-02/Bayan, Kapten Inf Turmuzi, mengatakan pihaknya bersama anggota Polres Lombok Utara terus berupaya melakukan pemadaman di jalur pendakian Senaru Pos 2 dan Pos 3, namun pendakian melalui jalur barat dan jalur timur belum bisa di padamkan.

“Kondisi pendakian di dua tempat tersebut harus ditempu melalui dusun yang berbeda, jalur barat harus melalui Dusun Semokan Desa Sukadana dan jalur pendakian sebelah timur harus naik dari Dusun Torean Desa Loloan Kecamatan Bayan dengan medan yang cukup sulit untuk memadamkan api,” terangnya.

Melihat kondisi tersebut, Komandan Korem 162/WB Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani, menginstruksikan kepada seluruh Dandim jajaran untuk terus berkoordinasi dengan pemda setempat dan Kepolisian untuk mengambil langkah-langkah kongkret dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

“Kondisi saat ini, kita harus bergerak cepat untuk menanggulangi Karhutla yang terjadi dengan mengerahkan personel bersama-sama dengan Pemda dan Kepolisian serta masyakat bersatu padu dalam penanganan Karhutla,” tegasnya.
Menurutnya, musim kemarau saat ini tidak hanya mengenai kebakaran, namun juga berdampak pada menurunnya debet air sehingga beberapa sumber air akan berkurang. “Itu juga perlu menjadi perhatian kita bersama, karena dibeberapa wilayah di NTB sudah mengalami kekeringan,” ujarnya.

Untuk lanjut Alumni Akmil 1993 tersebut, perlu ada penanganan secara terpadu dengan melibatkan seluruh stake holder baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota sehingga masalah Karhutla maupun kebutuhan air bersih bisa ditangani dengan baik. “Butuh sinergitas secara terpadu dalam penanganan musim kemarau yang mengakibatkan kebakaran dan kekeringan,” jelas Danrem.

Selain Danrem juga meminta kepada seluruh masyarakat agar berhati-hati membakar sisa hasil panen (jerami dan sejenisnya) dan sampah, bila perlu di jaga dan disiapkan air untuk mengantisipasi apabila apinya menjalar ketempat lain. “Demikian juga puntungan rokok, pastikan apinya dalam keadaan padam (mati) baru dibuang,” tandasnya. RUL.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Sport Tourism Jalan, Mandalika Terus Menjadi Tuan Rumah Event Otomotif Bergengsi Dunia

13 Mei 2022 - 17:46 WITA

Kadis Yusron Klaim Wisatawan Meningkat ke NTB Selama Libur Lebaran Idul Fitri

10 Mei 2022 - 17:00 WITA

Pilih Tak Jauh Libur Lebaran, Warga Mataram Nikmati Kawasan Pantai Ampenan

7 Mei 2022 - 16:52 WITA

Sirkuit Mandalika jadi Favorit Wisatawan di Libur Lebaran

6 Mei 2022 - 17:35 WITA

Pariwisata NTB Butuh Inovasi PascaMotoGP, Aktifis Pemuda Sayangkan Curhat Kadispar Curhat Soal Dana

9 April 2022 - 14:23 WITA

Ketimbang GOR Mini, Pemkot Lebih Baik Optimalkan Waterpark Mataram

5 April 2022 - 20:15 WITA

Trending di Pariwisata