Berbagi Berita Merangkai Cerita

Ketua Komisi III Minta Kadis LH Mataram ‘Jaga Pernyataan’ 

0 91

MATARAM, DS – Pernyataan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, Irwan Rahadi yang menyebut, proyek Osamtu atau alat pemusnah sampah yang dibangun tahun 2015 lalu sebagai proyek gagal, menuai reaksi kalangan DPRD setempat.

Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram I Gde Wiska, menegaskan, tidak patut seorang pejabat mengemukan hal itu. Pasalnya, proyek Osamtu yang dikerjakan oleh Dr. Tedjo, akademisi Universitas Mataram, justru merupakan sebuah program inovasi dan terobosan dari Penjabat Walikota Mataram, Dra. Hj. Putu Selly Andayani guna mengurai persoalan sampah saat itu.

Menurut Wiska, program itu juga dibahas bersama antara DPRD dengan Pemkot Mataram. Apalagi, penerapannya telah dilakukan kajian serta survei terlebih dahulu di lokasi yang telah menerapkan program itu, yakni, Ponpes Nurul Haramain milik TGH. Hasanain di Narmada, Lombok Barat.

“Saat survei, seluruh Asisten dengan Kepala LH waktu itu, yakni pak Dedi juga turut melihat langsung bagaimana mekanisme program Osamtu di Ponpes itu, sehingga dari hasil survei itu, selanjutnya kami diajak berdialog untuk menyetujui usulan proyek ini diterapkan di Kota Mataram,” ujar Wiska menjawab wartawan, Sabtu (26/1).

Dari hasil penilaian pihaknya, justru penanganan sampah dirasa cepat dan dari sisi biaya tidak terlalu besar manakala menggunakan metedologi program Osamtu tersebut. Sehingga, DPRD pun menyetujui penganggaran program itu dengan biaya melalui dana hibah senilai Rp 75 juta.

Menurut Wiska, program yang semangatnya untuk mengatasi persoalan sampah dengan biaya murah namun disisi lain manfaatnya minimal bisa mengurangi volume sampah di seluruh kecamatan di Mataram, sejatinya telah berjalan.   Kata Wiska, jika proyek itu sampai saat ini tidak berjalan lagi, seharusnya tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, Irwan Rahadi untuk mencarikan solusi agar program ini bisa berjalan sesuai harapan.

Sebab, tidak berjalannya program ini, hanya pada aspek teknis, yakni, persoalan gas karbon buangnya yang banyak dikomplain oleh masyarakat.  Sehingga, program ini dihentikan untuk sementara waktu.

Politisi PDIP itu menjelaskan, saat program ini dihentikan, pihaknya memperoleh informasi langsung dari pelaksana programnya, Dr. Tedjo, terkait sudah adanya semacam solusi terobosan untuk pengolahan alatnya guna mengurangi polusi suara maupun gas buang.

“Jika penemunya sudah berani menjamin tidak ada lagi masalah karena gas buangnya tinggal dibuatkan lubang dan dibuang ke tanah serta aman. Maka, seharusnya, program inovasi ini dilanjutkan oleh Kepala LH yang sekarang. Bukan malah ia melakukan praktik mengumbar pernyataan jika proyek ini gagal dan kelinci percobaannya tidak berhasil,” tegas Wiska.

“Jujur, kami sayangkan pernyataan ngawur dari Kepala LH Mataram itu, tanpa melakukan kros chek terlebih dahulu,” lanjutnya.

Wiska menyatakan, lantaran telah ada keberhasilan program serupa yangdilakukan di Ponpes di Lobar, kendati  volume sampahnya tidak seperti di Kota Mataram. Selain itu, program Osamtu ini juga sangat bermanfaat pada sisa pembuangan abu tungkunya yang bisa digunakan untuk bahan membuat batakoseperti di sejumlah ponpes lainnya.

Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban dan tugas Kepala LH saat ini,mempelajari kembali penanganannya, serta tidak melakukan vonis menyebut buru-buru, mengumbar manakala proyek tersebut gagal.

“Yang namanya, gagal itu jika program belum berjalan sama sekali. Ini program sudah jalan, sudah dibahas dan diajukan oleh eksekutif yang mana Kadisnya adalah pak Dedi saat itu, tapi kini oleh pejabat lanjutan disebut gagal. Sangat aneh dan memuakkan pernyataan Kepala LH yang baru menjabat ini,” kata Wiska lantang.

Ia mendesak Kepala LH untuk mencabut kembali pernyataanya itu. Sebab, kinerja Irwan Rahadi sesuai pantauan DPRD, justru sangat buruk. Wiska menyebutkan, penanganan sampah yang awalnya tertib pengangkutan dan ketepatannya, yakni pukul 07.00 Wita sudah terangkut semuanya. Kini, jam buang sampah terus molor, yakni pukul 08.00 Wita malah sampah masih berserakan di berbagai ruas jalan protokoler di Kota Mataram.

Parahnya, TPS liar yang selama ini sudah ditutup. Kini, justru bermunculan lagi. Salah satunya di TPS Sandubaya, Kota Mataram. “Wajarlah, kami nilai, Kadis LH saat ini tidak konsisten kinerjanya, padahal tugasnya di awal-awal baik, tapi lama-kelamaan makin parah bukan malah baik, tapi justru kian menurun,” ungkap Wiska.

Pihaknya tidak sependapat manakala proyek Osamtu itu disebut gagal. Mengingat, dari pantauan DPRD, program ini sudah jalan dan tinggal dilakukan pembenahan dan perbaikannya saja. Apalagi, proyek Osamtu ini sangat ekonomis dengan biaya murah.

“Kami siap menganggarkan program ini untuk bisa berjalan lagi sepanjang kadis LH melakukan kajian ulang untuk menggandeng sang penemu proyek Osamtuuntuk memodifikasi pelaksanaanya,” tandas  I Gde Wiska.  RUL.

Leave A Reply