BSK Samawa

Ketika Ali BD Kumpulkan Lagi Aktifis LSM di NTB

Setelah sangat lama para aktivis LSM sibuk dengan lembaganya masing-masing, pada Sabtu (1/6), perintis LSM di NTB, Ali BD, mengumpulkan mereka dalam silaturrahmi dan urun rembug LSM se NTB, di Prima Park Hotel, Sabtu (1/6). Beberapa tahun sebelumnya, Ali sempat melakukan kegiatan serupa dalam bentuk seminar nasional LSM.

Hadir pada acara itu Pj Gubernur NTB HL Gita Ariadi, Asisten I Pemkot Mataram Lalu Martawang, narasumber Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat. Sedangkan pakar filsafat Rocky Gerung datang di akhir acara dalam waktu singkat.

Sekira 100 aktifis LSM se NTB juga hadir dan merasakan kegiatan itu sebagai ajang menghapus kerinduan setelah bertahun tahun tidak berjumpa dalam satu ruang. “Ini pertemuan yang sangat saya rindukan, ” cetus aktifis LSM asal KLU, Kamardi.

Ali BD dalam pidatonya menuturkan kiprahnya sebagai aktifis sejak tahun 1982 dengan mendirikan Yayasan Swadaya Membangun. Selain itu, ia pun mengalami fase sebagai Bupati Lombok Timur dua periode yang penuh dinamika; didemo dipecat.

Hal yang menarik adalah komitmen Ali BD bahwa pemerintah tidak boleh berhutang dengan siapa pun. Bahkan selama menjadi kepala daerah di Lombok Timur mampu mengalihkan anggaran ratusan miliar yang semula untuk makanan menjadi fasilitas seperti pelabuhan, jalan dan lain lain.

Peristiwa yang menggelitik adalah ketika pada tiga bulan pertama didatangi aparatnya yang menyodorkan duit Rp 30 juta. Ali yang heran dengan pemberian itu menanyakan asal muasal uang tersebut dan dijawab honor sebagai upah pungut (diambil dari pendapatan daerah). Ali pun menimpali bahwa dirinya tidak pernah menjadi tukang pungut untuk kemudian tidak pernah mengambilnya.
Menurutnya, kini sudah banyak aktifis LSM yang menjadi kepala daerah.

Sementara itu, Pj Gubernur NTB, HL Gita Ariadi, memaparkan peran pemerintah dan LSM yang sama sama mulia. Namun ada LSM yang diam diam bekerja dan ada pula yang sering datang mengajukan proposal pendanaan kegiatan.

Menurutnya, antara LSM dan pemerintah punya peran masing-masing. LSM khususnya, lebih banyak berperan di lapangan yang kadang tidak bisa dilakukan pemerintah.

“Pemerintah dan LSM bisa saling melengkapi dalam kegiatan pembangunan masyarakat, karena memiliki tujuan yang sama untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Lalu Gita tidak memungkiri keterbatasan pemerintah dalam melaksanakan tugas dan fungsi, membuat kegiatan pembangunan belum sempurna. Oleh karena itu, aktivis LSM dalam berbagai peran sosial kemasyarakatan maupun lingkungan diharapkan memberikan dukungan dengan berkolaborasi dalam menciptakan terobosan kebijakan.

Dia menyebut salah satu contoh angka pernikahan dini di NTB. Nikah dini, kata dia, ada trend penurunan secara nasional namun di NTB ada anomali peningkatan. Nikah dini terjadi disaat calon keluarga belum memiliki kematangan biologis dan mental spiritual sehingga akan menanggung ekses luar biasa seperti kemiskinan baru.

“Tugas jadi berat di saat bermimpi bagian Indonesia emas adalah NTB emas, ” cetusnya.
Karena itu, Gubernur meminta dukungan bantuan pada LSM perlindungan anak untuk melakukan sesuatu. Kepada LSM yang peduli pada kesejahteraan pekerja migran juga melakukan sesuatu karena banyak diantara mereka menitipkan anak anak diasuh neneknya.
Ia yakin LSM adalah mitra strategis. “Di tengah keterbatasan mari membangun iklim baru. Kita memiliki mimpi yang sama, ” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, berlangsung pula dialog dengan narasumber Jumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan dan Rocky Gerung. Terdapat empat point rekomendasi yang akan ditindaklanjuti dalam revitalisasi dan reorientasi LSM NTB.

Keempatnya masing masing regenerasi aktifis LSM dengan mengedepankan generasi M dan Z, LSM NTB perlu mengembangkan pendekatan digital solidarity, pemberdayaan untuk meningkatkan akses terhadap sumber daya dan berperspekrif ekonomi kerakyatan (kolektif), dan konsolidasi untuk memperkuat posisi LSM. Ian

Facebook Comments Box

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.