Menu

Mode Gelap

Dinamika · 4 Okt 2022 15:52 WITA ·

Kesejahteraan Tumbuh dengan Pendekatan Budaya


					DR.H .Moh.Ali Bin Dachlah, SH Perbesar

DR.H .Moh.Ali Bin Dachlah, SH

Selong,DS-Cara berfikir masyarakat yang sederhana semestinya tidak diimbangi dengan pendekatan politik kekuasaan dalam mencapai pembangunan yang menyejahterakan. Pasalnya, kesejahteraan masyarakat hanya akan tumbuh melalui pendekatan budaya.

Hal itu mengemuka dalam percakapan Duta Selaparang dengan Rektor Universitas Gunung Rinjani (UGR),DR.H .Moh.Ali Bin Dachlah, SH, Senin (3/10), menyusul berbagai problem yang terjadi di Tanah Air, mulai dari permusuhan hingga rusuh yang menyebabkan ratusan korban jiwa pada pertandingan sepak bola.

Ali memaparkan cara berfikir sederhana dalam masyarakat itu kadang berkembang pula sikap intoleran. Namun, dalam menyikapi hal itu pemerintah acap kali melihatnya dari aspek politik semata berkaitan dengan kekuasaan.

“Ini terjadi apa di Negara kita? Setiap hari ada permusuhan, bahkan ada ratusan meninggal karena sepak bola,” katanya. “Orang di jalan saling bunuh lantaran hal kecil. Pertumpahan darah di Papua, sementara pemerintah mengatakan dia saudara kita. Terjadi ungkapan kontradiktif. Itu artinya ada sesuatu yang gelap, samar-samar,” lanjutnya.

Praktik berbangsa seperti itu sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai budaya bangsa yang sejak lama dinilai adiluhung.

Gagasan Unggul
“Kebudayaan adalah komplek atau puncak dari gagasan yang unggul. Kalau saling hujat dan dibiarkan saja maka terjadi masalah besar dalam masyarakat,” ujar Ali.

Menurut mantan Bupati Lotim ini, dalam kebudayaan ada mekanisme kotrol atau nilai –nilai yang mengontol manusia, mana baik dan buruk. Ketika mengamati perkembangan terakhir, banyak prilaku yang tidak dibimbing oleh nilai-nilai yang seharusnya dianut. Karena itu terjadi hal seperti ini.,” urai Ali.

Ali menegaskan bahwa ukuran kemajuan sebuah bangsa tidak bisa diukur dengan panjangnya jalan tol dan tingginya gedung yang dibangun. Pembangunan kebudayaan bisa dilihat dari penuntasan kasus-kasus korupsi yang merajalela dan penegakan hukum tanpa intervensi politik.

Ali mencontohkan ketika Gubernur Papua Lukas Enembe yang diduga korupsi jatuh sakt, secara budaya maka kasus itu bisa diserahkan ke kejaksaan. Pasalnya, ditengah kasus itu masih dijumpai korupsi yang melibatkan Harun Masiku yang tidak kunjung ditemukan. Dari aspek budaya, kata Ali, orang sakit tidak akan lari, dan yang sudah menghilang itulah yang mesti dikejar. Dua kenyataan kontradiktif itu membangun asumsi penegakan hukum bersifat politik semata.

Ali mengakui dimasa lalu kebudayaan Indonesia bernilai tinggi. Misal Islam masuk tanpa perang. Karena, pada dasarnya kebudayan menghindari konflik oleh sebab manusia sudah menemukan nilai kemanusiaan dan solidaritas. “Sekarang dalam agama saja perang,” ujarnya seraya menambahkan fenomena ini perlu ditelaah secara kritis karena ada kaitannya dengan politik kekuasaan yang disebut oligarki.
Kini, instrumen politik suatu Negara tentang adanya pembagian tugas antara eksekutif, legislatif dan yudikatif, nyaris tanpa pemisahan. Dampaknya, lebih sulit untuk saling mengotrol karena yang dikontrol berada dalam satu grup.

“Dulu pemilihan KPK dari gerakan independen, sekarang mereka sendiri membentuk lembaga mereka sendiri. Zaman Habibie ada 72 UU yang diciptakan tentang reformasi dan otonom, lama-lama berubah dan mundur. Sebabnya, orang yang berkuasa dimasa lalu masih bercokol dalam instrumen politik kita,” papar aktifis kemanusiaan ini.

Ia menilai pembangunan kebudayan zaman Soekarno masih terbaik karena menanamkan kata-kata berdikari. Tapi, sekarang sifatnya simbolik semata. Untuk membangun potensi tersebut, kebudayaaan harus dimulai dari para pemimpin, dari fikiran-fikiran Bangsa Indonesia sendiri.

“Hal terpenting di Indonesia adalah menguasai pluralisme karena kondissi Indonesia lebih sulit dari negara mana pun di dunia ini.

Menurut Ali, model yang dilakukan Anies Baswedan dalam pembangunan, benar.
“Dia tidak melakukan pendekatan secara keras. Dia bangun trotoar untuk orang berjalan. Cara pedekatan Anies itu budaya. Kalau kepala daerah lain mengikutinya, itu bangus,” cetusnya.ian

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Fathiatulrahmah, Ibu dari Anak-anak Tak Bernama

28 November 2022 - 20:21 WITA

DKD PWI NTB Serahkan Bonus kepada Peraih Perunggu Porwanas XIII

26 November 2022 - 07:57 WITA

DPD GMNI NTB Gelar Diskusi “Strategi Pemuda Dalam Mendukung KTT G20 dan Pemulihan Nasional”

25 November 2022 - 16:33 WITA

Masifkan Penjaringan Atlit Golf Muda

23 November 2022 - 16:35 WITA

Press Trip JMSI NTB Banyuwangi-Malang (5-selesai), Porwanas XIII, Silaturrahmi dalam Laga

22 November 2022 - 06:05 WITA

Press Trip JMSI NTB Banyuwangi-Malang (4), Kota yang Hidup, Kuliner yang Menggoda

20 November 2022 - 22:42 WITA

Trending di Dinamika