Jumat , 15 November 2019
Home / Kesehatan / Stunting di Bayan Capai 1.000 Kasus, Suami-suami Disorot
Peserta Lokakarya Penyusunan Draf Tool Monev dan Strategi Pemantauan Layanan (Colaboratif Monitoring/Jurnalisme Warga) di Kantor Camat Bayan

Stunting di Bayan Capai 1.000 Kasus, Suami-suami Disorot

BAYAN,DS-Kepala Puskesmas Bayan, Hj. Rusniatun, mengemukakan kasus stunting di KLU tertinggi berada di Kecamatan Bayan. “Ini jadi PR bersama. Aparat kesehatan sendiri sudah berjuang keras dalam mengadopsi program luar daerah untuk diterapkan di Bayan,” katanya.

Pada Lokakarya Penyusunan Draf Tool Monev dan Strategi Pemantauan Layanan (Colaboratif Monitoring/Jurnalisme Warga) di Kantor Camat Bayan, Senin (4/11), Rusiatun menguraikan gambaran stunting dimana usia warga tidak sesuai dengan tinggi badan.

Stunting yang menimpa 1.000 orang di Bayan, kata dia, terdapat di beberapa desa terutama di Sukadana. “Desa Sukadana jadi daerah merah baik dari kelahiran, partisipasinya, pun dalam kesehatan yang lain,” katanya seraya menambahkan, hal ini menjadi acuan kedepan membangun berbagai upaya di bidang kesehatan seperti pelatihan petugas dan kader. Terdapat pula stakeholder yang terlibat sebagai penyuport seperti Yayasan Luhur Nurani Masyarakat. “Tugasnya melatih ibu balita, kader dan petugas,” katanya.

Berbagi langkah dilakukan mengatasi stunting. Seperti lewat pemberian ASI eksklusif sebagai pembelajaran kepada ibu hamil. Selama ini, kata Rusmiatun, ibu yang hamil hampir mengurus sendiri semuanya alias tidak dibantu oleh sang suami. Padahal, pola memberi makan anak-anak yang tidak terpantau membuat asupan gizi mereka kurang. “Terlebih anak-anak apapun yang dikasih akan ditelan,” ujarnya. Bagaimana jika pemberian makanan yang keliru dibiarkan?

Persoalannya ketika ibu hamil harus mengurus semuanya menyangkut tumbuh kembang sang anak adalah bagaimana ketika mereka sakit.

“Kalau sakit itu urusan siapa? Jangan sampai bapak menganggap itu urusan istri,” katanya menyesalkan kebiasaan suami-suami membiarkan istri mengurus anaknya sendiri. Ia menegaskan peran orangtua dalam hal ini suami sangat penting dalam mencegah terjadinya stunting. Karena itu, pihaknya mendata dari pintu ke pintu sekaligus bersosialisasi agar kasus stunting tidak meluas.

Beberapa persoalan yang berkenaan dengan penanganan kesehatan dikemukakan Rusmiatun seperti adanya ribuan orang yang belum terkoneksi BPJS disamping banyak peserta BPJS yang ngutang alias belum bayar iuran. Disisi lain Kartu KLU Sehat sementara ini kurang bisa diharapkan karena tidak semua dana boleh menjadi asuransi.

“Pasien mandiri di Puskesmas Bayan disosialisasikan mana karti BPJS, kartu KLU sehat dan BJS Mandiri. Kendala kita di BPJS Mandiri karena (pemiliknya) tidak tahu sistem, tidak tahu aktif tidaknya kartu,” katanya. ian

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

NTB Sudah Miliki 500 Bank Sampah

MATARAM,DS-Wakil Gubernur NTB, Dr.Hj.Siti Rohmi Djalilah saat diberikan kesempatan oleh Gubernur untuk memaparkan program Zero …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: