Sabtu , 23 November 2019
Home / Kesehatan / Hj.Niken Ajak Kaum Hawa Sukseskan STBM untuk NTB Sehat Cerdas
Workshop STBM di Mataram

Hj.Niken Ajak Kaum Hawa Sukseskan STBM untuk NTB Sehat Cerdas

MATARAM,DS-Ketua TP.PKK Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah, SE, M. Sc, mengajak dan mendorong semua kaum perempuan dan para kader PKK di NTB untuk aktif dan terlibat langsung dalam menyukseskan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Program tersebut dinilainya memiliki hubungan erat bahkan kunci mewujudkan masyarakat sehat dan generasi cerdas.

Kau perempuan dinilai penting mengingat potensi perempuan di NTB jumlahnya sangat besar. Dari total penduduk NTB yang mencapai 5,6 juta jiwa lebih, keberadaan perempuan usia produktif 14 – 24 tahun dominan.

“Ini merupakan potensi yang perlu diberi ruang dan diberdayakan secara optimal,” ungkap Hj. Niken saat menjadi narasumber pada kegiatan Workshop Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial dalam Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) bersama Yayasan Plan International Indonesia, Rabu (16/10/2019) di Hotel Green Legi Mataram
Dalam praktek kehidupan sehari-hari, kata Istri Gubernur NTB yang lebih akrab disapa Hj. Niken itu, kaum ibu dan perempuan pada umumnya menjadi pemeran kunci mewujudkan lingkungan rumah tangga yang bersih dan sehat. Bahkan pada program Dasa Darma PKK melalui kader-kadernya, kini terus mengampayekan gerakan hidup sehat, termasuk kebersihan lingkungan dan sanitasi. “Ini program rutin ibu-ibu PKK, insya Allah akan dapat mengubah perilaku masyarakat kita menuju perilaku yang bersih dan sehat,” jelasnya.

Namun ia menyadari tantangannya tidaklah kecil. Dalam pantauan Ketua Dekranasda NTB itu, masih banyak masyarakat yang tinggal dilingkungan yang tidak bersih dan fasilitas sanitasinya kurang memadai. Misalnya tidak ada air bersih dan tidak ada jamban. “Kondisi itu ditambah lagi dengan ketidaktahuan mereka bagaimana menjaga kesehatan,” ujarnya.

Karena itu sentuhan edukasi perlu terus digiatkan melalui berbagai pola dan pendekatan agar tumbuh kesadaran dan pemahaman yang memadai tentang Gerakan hidup bersih dan sehat. “Ini tantangan dan tugas kita kedepan untuk terus mengkampanyekan hidup bersih dan sehat,” ungkap Ketua TP PKK NTB ini.

Niken juga mengajak Tim PKK yang ada di wilayah dampingan project YPII untuk memimpin gerakan peningkatan sanitasi di tingkat desa melalui strategi penguatan pengasuhan berbasis keluarga. Keterlibatan aktif perempuan dalam kegiatan sanitasi diharapkannya dapat meningkatkan kesetaraan gender dalam pelaksanaan STBM di Provinsi NTB

Sementara itu, Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Infrastruktur dan Lingkungan,Deputi Kesetaraan Gender, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dra. Lieska Prasetya, M. Sc menjelaskan masih ada kesenjangan yang menimbulkan ketidakadilan gender dalam masyarakat. Ketidakadilan gender itu sendiri merupakan sistem dan struktur yang mengakibatkan salah satu gender, apakah itu perempuan ataupun laki-laki, termasuk yang disabilitas dan lansia, menjadi korban.

Wujud ketidakadilan gender itu, menurutnya, beragam. Diantaranya, marginalisasi atau peminggiran hak-hak, dimana hak salah satu gender terabaikan karena kepentingan gender yang lain ataupun karena kepentingan politis yang lebih besar. Maka Pengarusutamaan Gender (puG) merupakan solusi dan strategi mengintegrasikan perspektif gender dalam pembangunan.

Pengintegrasian perspektif gender tersebut, kata dia, dimulai dari proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi seluruh kebijakan, program dan kegiatan pembangunan.

Sedangkan Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI, dr. Imran Agus Nurali Sp.KO, mengharapkan kegiatan tersebut dapat memberikan pemahaman yang sama kepada para pemangku kepentingan sehingga dapat menciptakan sinergi untuk mencapai kesetaraan gender dan inklusi dalam pelaksanakaan STBM.

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan Undang-undang No 8 Tahun 2016 pasal 74, pemerintah wajib menjamin akses bagi penyandang disabilitas terhadap pelayanan air bersih dan fasilitas sanitasi yang layak. Pembangunan kesehatan yang inklusif tidak hanya berdasarkan kriteria ketimpangan wilayah akan tetapi bahwa kesehatan dipastikan bisa diakses baik oleh semua masyarakat termasuk diantaranya adalah penyandang disabilitas,” ujarnya. (Edy)

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

“Screening” Bibir Sumbing di Lotim

MATARAM,DS-Screening (pemeriksaan) terhadap penderita bibir sumbing (umur 3 bulan s/d 7 tahun) berlangsung di Aula …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: