Senin , 19 Agustus 2019
Home / Kesehatan / Ada Bayi Tanpa Anus, Hasil Penelitian Nexus3 Foundation, Dampak Mercury di Tambang Rakyat Sekotong dan KSB Mengkhawatirkan
Wakil Ketua Nexus3 Foundation Yuyun Ismawati Drwiega (kanan) saat memaparkan hasil penelitiannya pada lokasi tambang rakyat ilegal di Sekotong, KSB dan wilayah lainnya di NTB

Ada Bayi Tanpa Anus, Hasil Penelitian Nexus3 Foundation, Dampak Mercury di Tambang Rakyat Sekotong dan KSB Mengkhawatirkan

MATARAM, DS – Dampak limbah merkuri yang ditimbulkan dari aktivitas penambangan tradisional di pegunungan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, dinilai masuk taraf mengkhawatirkan.

Hasil survei penelitian yang dilakukan Nexus3 Foundation (sebelumnya dikenal sebagai BaliFokus Foundation) di Wilayah Sekotong, Lombok Barat, pada tahun 2012 lalu, ditemukan kandungan mercury yang jauh di atas ambang normal. Dari sejumlah test terhadap sample beras, ikan, air, udara, dan rambut masyarakat, kandungan mercury di Sekotong melebihi ambang normal.

“Jadi, jangan heran jika saat ini dampaknya juga sudah ditemukan banyak anak lahir cacat, kalau pun normal tumbuhnya tidak sehat di wilayah Sekotong,” ujar Wakil Ketua Nexus3 Foundation, Yuyun Ismawati Drwiega, menjawab wartawan di Mataram, Jumat (24/5).

Menurut dia, kandungan mercury udara khusus di Kecamatan Sekotong, salah satunya di desa Pelangan, sudah mencapai 40-50 kali lipat dari ambang normal. Hal itu setelah pihaknya bersama tim medis dari Fakultas Kedokteran Unram turun mengambil sample rambut, ikan dan beras di wilayah Sekotong.

“Memang, hasilnya mengkhawatirkan karena semua sample mengandung mecury melebihi baku mutu,” kata Yuyun.

Pihaknya sejak tahun 2012 hingga saat ini sudah melakukan survei serupa di 40 lokasi sejenis di Sekotong, Lombok Barat. Kegiatan difokuskan pada pemantauan dampak mercury di kawasan tambang emas kecil dan ilegal. “Situasi di Lombok Barat, Sekotong saat itu dampak (mercury) sudah banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat dari sisi kesehatan,” ucapnya.

Sementara dari pemetaan Nexus2 Foundation, saat ini setidaknya ada sekitar 800 lebih lokasi tambang emas liar, PETI, yang tersebar di 93 kabupaten dan 32 provinsi se-Indonesia.

“Emas yang dihasilkan dari seluruh PETI ini bisa mencapai 60 ton hingga 100 ton pertahun. Namun dampak bahaya mercurynya sangat mengancam bukan hanya kesehatan lingkungan tetapi juga kesehatan masyarakat di sekitar tambang,” jelasnya

Tambang emas berskala kecil bisa dilakukan, namun harus prosedural dan memenuhi persyaratan dan perizinan termasuk izin dampak lingkungan. “AMNT dan kami punya visi yang sama dalam kerjasama ini yaitu bagaimana menghentikan penggunaan mercury dan menghentikan tambang ilegal. Kalau mau lewat legal ada cara dan izinnya, dan kami bisa membantu itu sejauh kawasan ada syarat WPR (Wilayah Pertambangan Rakyat),” ungkap Yuyun.

Terkait kondisi di Sumbawa Barat, Yuyun mengakui saat ini hampir sama dengan Sekotong di tahun 2010 hingga 2012 silam. Sebab, di wilayah KSB terpantau cukup banyak praktik tambang ilegal. Dimana, proses pengolahan bebatuan hasil tambangnya juga menggunakan mercury.

“Lokasi prosesnya kebanyakan dekat pemukiman, di Sumbawa Barat setidaknya ada 4 atau 5 sentranya. Jadi, Sumbawa Barat memang sedang booming seperti Lombok Barat di tahun 2010 sampai 2021,” ungkapnya.

“Home industri ini dampaknya fatal tapi dibiarkan, 1 botol kecil harga merkuri Rp1,5 juta,” sambung Yuyun.

Padahal, kata dia, dampak dari penggunaan zat itu tidak bisa hilang serta merta meski mereka telah beralih dalam penggunaannya. Seperti peristiwa Minamata, Jepang saja membutuhkan waktu 14 tahun untuk bebas dari cairan tersebut. “Kandungan itu ada di laut, di dapur rumah, bayangkan berapa investasi untuk membersihkannya,” katanya.

Karena itu, pihaknya berupaya terus untuk memerangi penggunaan merkuri di PETI.

Bayi Tanpa Anus
Terpisah, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Unram, Dr Hamsu Kadryan, menyatakan telah menemukan bayi tanpa anus sebagai dampak dari penggunaan mercuri di Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) kawasan Sumbawa Barat.

Dampak PETI ini, kelainan bawaan misalnya ada bayi yang tidak ada jari-jarinya di tangan, tidak ada anusnya, bahkan ada yang tidak mendengar. Hal itu, kata dia, akan menjadi masalah kelak ketika mereka sudah menjadi besar khususnya dalam bersosialisasi.

Hamsu yang dikenal sebagai dokter spesialis Tenggorokan, Hidung Telinga (THT) terkenal di NTB itu, mengaku juga menemukan para pelaku PETI usia muda, terganggu pendengarannya akibat bisingnya mesin penambangan tersebut.

“Tapi ini masih merupakan hasil penelitian secara sporadis alias belum dilakukan secara global. Sehingga, perlu lagi dilakukan pendalaman agar lebih komprehesif lagi kedepannya,” tandas Hamsu Kadryan. RUL

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Kakok Club Juara Cabor Basket HUT KLU

Tanjung, DS – Dalam rangka mencari bibit muda pebasket yang ada di Kabupaten Lombok Utara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: