Rabu , 11 Desember 2019
Home / Kesehatan / 11.000 Penderita Pneumonia di NTB, Jangan Takut Imunisasi
Orientasi dalam Rangka Program Demonstrasi Imunisasi Pneumokokus (PCV) di Hotel Lombok Raya Mataram

11.000 Penderita Pneumonia di NTB, Jangan Takut Imunisasi

MATARAM,DS-Pneumonia atau dikenal juga dengan istilah paru-paru basah adalah infeksi yang mengakibatkan peradangan  paru-paru sehingga penderitanya mengalami sesak napas, batuk berdahak, demam, atau menggigil yang bisa berujung pada  kematian. Penyebab dari Pneumonia tersebut, umumnya  paling banyak karena bakteri, virus, dan jamur.

Cara pencegahan paling efektif untuk penyakit ini selain dengan menjaga kebersihan dan kebugaran tubuh, juga dengan imunisasi pneumokokus conjugasi vaccin (PCV) secara rutin dan berkelanjutan sesuai standar.

“Jangan takut diimunisasi, agar bayi dan para balita tumbuh sehat dan cerdas. Lagi pula vaksin PCV yang digunakan sudah lulus uji dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga sangat aman dan halal untuk digunakan,” ujar Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah menghimbau masyarakat NTB  baru-baru ini di Mataram.

Dengan imunisasi secara teratur, kata istri Gubernur Dr.Zulkieflimansyah itu maka angka kematian bayi dan ibu dapat diturunkan. Sekaligus target NTB sehat dan cerdas menuju generasi NTB Emas dapat diwujudkan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A., MPH, mengatakan pemberian imunisasi merupakan upaya kesehatan masyarakat yang terbukti paling berdampak positif untuk mewujudkan derajat kesehatan ibu dan anak di Indonesia

Saat membuka Orientasi dalam Rangka Program Demonstrasi Imunisasi Pneumokokus (PCV) di Hotel Lombok Raya Mataram – NTB, Rabu (18/9/2019), ia menegaskan pelayanan imunisasi PCV dengan mudah dapat diakses di fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan seperti Posyandu, Puskesmas, Puskesmas pembantu, dan fasilitas-fasilitas  pelayanan  kesehatan lainnya yang memberikan layanan imunisasi.

“Vaksin ini diberikan gratis. Vaksin yang digunakan juga aman dan telah direkomendasikan oleh WHO serta lulus uji di BPOM, ” kata dokter Eka didepan 154 peserta dari Dikes, Pusksesmas dan pengelola program imunisasi dan Ispa se- Kabupaten Sumbawa dan KSB.  “Polemik tentang imunisasi di beberapa daerah karena penolakan orang tua untuk melarang anaknya diberikan imunisasi harus dihentikan. Maka dibutuhkan pendekatan kesabaran dan pemahaman petugas dalam menghadapi dan melayani masyarakat,” lanjutnya.

Di lapangan, kata dokter Eka sapaan akrabnya, petugas harus terus meningkatkan pengetahuannya  dalam pemberian imunisasi PCV pada bayi dan imunisasi lanjutan PCV pada anak balita. Terlebih berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, diketahui pada tahun 2015 angka kasus pneumonia di NTB  mencapai 6,38%. Angka kasus tersebut merupakan tertinggi di Indonesia, sehingga pada tahun 2017 yang lalu Kemenkes mengeluarkan kebijakan pemberian program imunisasi vaksin PCV.

Menurut dr. Nurhandini Eka Dewi , data penderita pneumonia di NTB pada tahun 2016 ada sekira 18.000 orang anak. Namun berikutnya pada tahun 2017 melalui program imunisasi yang dilaksanakan di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Timur. Dengan jumlah sasaran mencapai 14.392 anak di Lobar dan 25.894 anak di Kabupaten Lombok Timur, penderita pneumonia tersebut dapat diturunkan  menjadi sekitar 11.000 orang anak.

Sementara itu,  pada tahun 2018,  data penderita pneumonia di NTB diindikasikan naik kembali menjadi sebanyak 18.000 orang anak. Ia menduga kenaikan tersebut lebih disebabkan oleh faktor kondisi lingkungan akibat gempa bumi yang melanda NTB. Karena itu, pemberian imunisasi terus diperluas, hingga tahun 2019 seluruh Kabupaten/Kota di NTB diharapkan tersentuh pelayanan imunisasi PCV.

Selain melalui imunisasi, Pencegahan pneumonia dapat dilakukan dengan langkah-langkah sederhana. Diantaranya dengan menjalankan pola hidup sehat, seperti cukup beristirahat, mengonsumsi makanan bergizi, dan rutin berolahraga. Menjaga kebersihan. Contoh paling sederhana adalah sering mencuci tangan agar terhindar dari penyebaran virus atau bakteri penyebab pneumonia.

Berhenti merokok juga merupakan langkah preventif Asap rokok dapat merusak paru-paru, sehingga paru-paru lebih mudah mengalami infeksi. Hindari konsumsi minuman beralkohol. Kebiasaan ini akan menurunkan daya tahan paru-paru, sehingga lebih rentan terkena pneumonia beserta komplikasinya.hm

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Hj. Niken: Stop Penggunaan Pewarna & Bahan Berbahaya Dalam Makanan.

MATARAM,DS-Jajanan yang mengandung zat-zat kimia dan pewarna berbahaya, jika dikonsumsi oleh anak-anak, memang tidak semuanya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: