Berbagi Berita Merangkai Cerita

Kereta Gantung Lombok Tengah Ditaget Beroperasi Sebelum Event MotoGP

0 14

MATARAM, DS – Polemik terkait keberadaan kereta gantung yang berpotensi memberi dampak lingkungan terhadap Gunung Rinjani menuai reaksi Gubernur Zulkieflimansyah. Menurut Zul, rencana investasi kereta gantung di Gunung Rinjani telah berproses selama lima tahun lamanya di Pemkab Lombok Tengah.

Kajian kelayakan dan analisa studinya sudah berjalan dengan baik. “Wajarlah, kami ingin prosesnya lebih cepat di Provinsi. Karena kewenangan hutan ada di kami maka kami tidak ingin membuat sesuatu itu dipersulit lagi jika masuk ke provinsi,” tegas Gubernur menjawab wartawan, Minggu (26/1) petang.

Ia menyatakan, adanya sikap pro dan kontra itu adalah hal yang biasa. Salah satunya, dari pegiat pecinta lingkungan NTB yang tergabung Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) NTB yang menolak rencana investasi Kereta gantung itu.

Menurut Zul, penolakan itu lebih pada agar bagaimana keberlanjutan ekosistem lingkungan di sekitar Gunung Rinjani bisa terjaga. Termasuk, para tracking dan porter yang bekerja lama di gunung tertinggi di NTB tersebut.

“Bagi saya, sah-sah saja ada penolakan itu. Tapi kita enggak fair jika tidak melihat aspek positif kedepannya bagi daerah. Maka, berikanlah investor melengkapi persyaratannya,” ujar Gubernur seraya menilai di beberapa wilayah di negara lainnya di dunia program Kereta gantung itu justru bisa bersinergi dengan alam. Bahkan dengan masyarakat sekitar.

“Kalau masuk ke kawasan hutan dan merusak jelas kita tolak. Tapi, ini lebih pada pilihan investor yang melihat pangsa pasar di Loteng yang bakal kedatangan ratusan ribu orang untuk menonton MotoGP Mandalika pada tahun 2021. Sehingga, memang perlu pilihan untuk berwisata sambil menintong ajang balapan kelas dunia itu,” jelas Gubernur.

Namun, sejauh ini Feasibility Study (FS) belum disampaikan oleh investor pada Pemprov NTB. Nantinya, pada saat penyusunan FS bakal diundang semua pihak untuk menyampaikan pendapatnya.

Dana pembangunan proyek tu sendiri murni berasal dari investor dan bukan dari dana APBD. “Tugas kita hanya memasilitasi kemauan investor. Nanti, ada FS dimana tempat dan lokasi proyek ini boleh dimulai pengerjaanya. Termasuk, kita menginisiasi agar semua stake holder diundang yang banyak dalam melengkapi dokumen FS dan kajian analisis lingkungannya,” kata Gubernur.

Ia menargetkan, proyek pembangunan Kereta gantung ini bisa tuntas sebelum pelaksanaan MotoGP tahun 2021 mendatang. Hanya saja, sebelum pembangunannya dimulai, segala persiapan diantaranya kajian lingkungan dan lokasi yang dipergunakan tidak merusak kawasan hutan.

“Yang pasti, kami mendukung investor itu masuk. Tapi, tetap sebelum semua berkas persyaratan terkait perijinannya dilengkapi, maka kita berikan lah investirnya kesempatan untuk melengkapi persyaratannya. Ini penting agar ada wing-wing solution bagi masyarakat, pelaku wisata, juga pemda setempat,” tandas Zulkieflimansyah.

Rusak Rinjani
Terpisah, Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) NTB, Murdani, mengakui program pembangunan Kereta gantung berpotensi memberi dampak lingkungan terhadap Gunung Rinjani. Investasi tersebut memerlukan kajian kelayakan yang matang dan analisis lingkungan yang mendalam. Rinjani jangan dipandang sebagai obyek eksploitasi komersil.

“Gunung Rinjani sumber kehidupan masyarakat Lombok. Kereta gantung akan memberi dampak perusakan lingkungan,” ujarnya menjawab wartawan, Sabtu (25/1).

Kondisi saat ini saja, sambung dia, sedang mengalami kerusakan yang sangat parah. Perambahan hutan, pembalakan liar, alih fungsi lahan sudah berimplikasi pada munculnya berbagai bencana seperti banjir bandang, kekeringan.

“Pengembangan fasilitas komersil kereta gantung jelas akan memberi dampak perubahan bentang alam yang signifikan. Apalagi luasan lahan yang diminta izinnya lebih dari 500 hektare,” jelasnya.

Murdani menilai, proyek kereta gantung Rinjani merupakan kebijakan tergesa-gesa. Menurutnya, sampai saat ini belum ada studi kelayakan, kajian lingkungan hidup strategis, dan analisis mengenai dampak lingkungan.

“Terganggunya ekosistem TNGR dan Terganggunya habitat flora dan fauna di sepanjang jalur kabel tiang pancang kereta gantung, dan intensitas beroperasinya fasilitas ini akan merubah perilaku dan pergerakan fauna yang bisa menyebabkan kepunahan,” urainya

Selain itu, dia melihat kereta gantung akan merusak bentang alam dari perubahan fasilitas berupa eksploitasi. Kontraproduktif dengan visi pengembangan global geopark UNESCO. Nilai-nilai kultur yang melekat seharusnya dijaga.

“Jumlah kunjungan yang akan terus meningkat berbanding lurus dengan persoalan sampah. Pengendalian sampah akan semakin sulit,” sebut Murdani.

Dampak sosialnya tidak kalah mengkhawatirkan. Pendakian Rinjani selama ini menghidupi masyarakat yang membuka jasa porter. Kereta gantung hanya akan mengalihkan potensi kapital dari masyarakat kepada pemodal.

“Kereta gantung aliran uangnya kembali ke investor. Rakyat akan kembali menjadi penonton. Kereta gantung mencederai upaya konservasi dan perlindungan lingkungan,” ucapnya.

Dari sisi sumber daya air pun demikian. Debit air di Lombok Tengah, kata Murdani, hanya tersisa 40-70 liter per detik. Menipisnya sumber air ini seharusnya yang menjadi perhatian pemerintah.

“Walhi menolak kereta gantung Rinjani karena itu bentuk eksploitasi alam yang mengatasnamakan kesejahteraan. Sebaliknya, justru akan menimbulkan kemiskinan dan bencana,” tegasnya.

Murdani mendesak Gubernur NTB untuk menghentikan rencana pembangunan kereta gantung tersebut. “Rakyat tidak butuh Kereta Gantung karena kehidupan rakyat tergantung pada kelestarian alam Rinjani sebagai sumber kehidupan,” tandasnya.RUL

Leave A Reply