Berbagi Berita Merangkai Cerita

Kendala Fasilitator Rumah Tahan Gempa Teratasi, Gubernur Optimis Pembangunan Huntap Ada Peningkatan 

0 34

MATARAM, DS – Lambatnya percepatan pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi korban terdampak gempa bumi di NTB yang selama ini menjadi persoalan, diyakini bakal terpecahkan. Aparat TNI dengan dibantu jajaran kepolisian, kini dilibatkan secara penuh pada operasi teritorial untuk mengatasi kurangnya fasilitator dan kendala lainnya pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi pasca musibah gempa saat ini.

Gubernur NTB Zulkieflimansyah mengaku, optimis dengan telah adanya tambahan armada dari aparat TNI, kepolisian serta kalangan sipil menjadi fasilitator, maka banyaknya masalah yang terjadi di lapangan terkait realisasi huntap akan mulai terpecahkan.

“Kalau dulu, kita ragu bisa cepat tuntas, ya karena masalah kita adalah fasilitatornya kurang, tapi sekarang kita punya 1.000 orang fasilitator. Wajarlah, saya optimis progres penanganan gempa di NTB akan mengalami produktivitas yang meningkat,” ujarnya menjawab wartawan usai memimpin apel operasi teritorial TNI dan pemberangkatan fasilitator terpadu di Lapangan Kantor Camat Gunungsari, Selasa (15/1).

Zul mengatakan penanggung jawab pada pelaksanaan penanganan gempa di NTB adalah pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).  Meski demikian, selama ini, masyarakat banyak yang belum mengetahui terkait keberadaan BNPB selaku koordinator utama dalam pelaksanaanya.

Oleh karena itu, Zul memahami  program penanganan pasca gempa terus memunculkan banyak keraguan terhadap penuntasannya. Apalagi, kendala di lapangan terus terjadi. Diantaranya, model rumah tahan gempa yang tepat, tata cara pencairan dana hingga kurangnya fasilitatornya.

“Tapi, setelah penunjukan jendral aktif sebagai kepala BNPB yang baru. Yakni, Letjen Doni Monardo, maka keraguan itu pun sirna. Yang ada, kita lihat akselarasi percepatannya mulai muncul dan menggeliat. Contohnya, kegiatan upacara yang mana fasilitatornya langsung banyak, yakni dari kalangan tentara hingga polisi,” jelas Gubernur.

Zul meminta, karena semua kendala sudah mulai teratasi, maka proses yang selama ini lambat agar bisa dipercepat. Apalagi, pada program rehabilitasi dan rekonstruksi yang titik kegiatannya difokuskan pada pembangunan huntap, seyogyanya marwah seorang kepala negara, yakni Presiden Joko Widodo agar benar-benar dijaga dan dipelihara.

“Ingat, jangan lagi pakai ribet dan berbelit-belit. Yang pasti, jika ada masalah-masalah dilapangan, nanti kita bicarakan. Sekali lagi, pada fase saat ini, nama besar dan marwah Presiden dipertaruhkan dan semua pihak harus benar-benar menjaga hal itu kedepannya,” tegas Gubernur.

Terkait operasi teritorial yang kini digalakkan aparat TNI. Menurut Zul, hal ini akan berdampak pada produktivitas menghasilkan rumah yang akan meningkat signifikan. Sebab, kendala sebelumnya terkait susahnya pencairan dana, bentuk dan rumah yang harus diaprove oleh fasilitator, dipastikan sudah bisa teratasi.

“Kalau sekarang yang utama kita buat dulu, karena kendala sudah teratasi semuanya. Jika misalnya, ada persoalan, nanti kita sempurnakan sambil jalan,” ucapnya.

Menyinggung model rumah. Zul menjelaskan, model dan rumah bagi masyarakat terdampak gempa kini telah mengalami perubahan. Sebab, jika dulu harus dipatok model rumah instan sederhana sehat (risha) namun kini, akan banyak model pilihan rumah tahan gempa lainnya. Diantaranya, Riska, Risbari dan Rika.

Bahkan, pemerintah juga memperbolehkan masyarakat membangun rumah yang disesuaikan dengan kearifan lokal masyarakat. Salah satunya, rumah bedek.

“Jadi, tugas kita di pemda NTB adalah mengawasi proses pembangunanya, termasuk memastikan kesiapan bahan-bahan materialnya. Kalau sekarang, semuanya sudah siap, asal catatanya jangan sampai masyarakat bangun rumah yang dapat merusak hutan, karena jika itu dilakukan, nanti hutan gundul adan berdampak pada kerusakan lingkungan,” jelas Gubernur.

Terkait adanya alergi warga KLU yang tidak berani membangun rumah berbahan beton. Zul menambahkan, pihaknya telah memberikan solusi agar rumah instan baja ringan (Risbari) yang bisa dikedepankan.

“Kalau rumah berbahan kayu di bangun di KLU, pemerintah enggak kasih, karena akan merusak hutan. Tapi, Risba, Risbari dan model lainnya, kami sudah siapkan modelnya di Science Tekno Park di Banyumulek. Disitu, masyarakat tinggal lihat contohnya, dan bila oke silahkan dibangun di lingkungannya,” tandas Gubernur.

Terpisah, Danrem 162/WB Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani,  mengaku, adanya operasi teritorial, adalah upaya pihaknya untuk mempercepat proses pembangunan huntap tersebut. Menurutnya, pada organisasi fasilitator itu masing-masing timnya terdiri dari Babinsa, Babin Kantimbmas dan delapan orang fasilitator dari kalangan sipil. “Yang pasti, Babinsa yang kita kerahkan adalah mereka yang tugasnya berada di lokasi terdampak gempa,” ujar Rizal.

Danrem menyatakan, kinerja fasilitator saat ini akan difokuskan pada pembangunan rumah warga yang terkatagori rusak ringan dan sedang. Nantinya, jika merujuk tabungan masyarakat, maka ada sekitar 20 ribu unit rumah yang akan dikerjakan pada saat ini. “Sekarang pencairannya tinggal menunggu SK pencairan dari fasilitatornya saja. Insya Allah, Minggu depan sudah akan banyak pencairan, sehingga progres kedepannya akan ada ribuan rumah yang terbangun di NTB,” jelas Rizal. RUL.

Leave A Reply