Berbagi Berita Merangkai Cerita

Kelola Sampah, Pemkot Bandung Bentuk BUMD Sampah

0 16

BANDUNG, DS – Tata kelola sampah masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi banyak daerah di Indonesia. Salah satunya Pemprov NTB. Pasalnya, dari total produksi sampah sebesar 3,388,76 ton per hari yang tersebar di 10 kabupaten dan kota di NTB, hanya 631,92 ton atau 20 persen yang sampai ke 10 tempat pembuangan akhir (TPA) perharinya.

Jumlah sampah yang tidak sampai ke TPA atau tidak terkelola dan beredar di sekitar masyarakat mencapai 2,695,63 ton atau setara 80 persen. “Sedangkan sampah yang berhasil didaur ulang baru sekitar 51,21 ton per harinya di NTB,” ujar Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov NTB, Najamuddin Amy, saat memimpin rombongan pres trip belasan Jurnalis Parlemen di Pemkot Bandung, Kamis (25/4) sore.

Ia menyatakan, produksi sampah terbesar berada di Kabupaten Lombok Timur sebanyak 801,74 ton per hari, di mana hanya 15,40 ton saja yang sampai ke TPA, sementara 786,26 atau 98 persen tidak sampai ke TPA atau tidak terkelola dengan baik. Urutan kedua ada di Lombok Tengah dengan 645,73 ton sampah per hari, di mana hanya 12,25 persen yang ke TPA, sedangkan 627,64 ton sampah atau 97 persen tidak sampai ke TPA. Untuk ibu kota NTB, Kota Mataram, memiliki produksi sampah 314,30 ton sampah per hari dengan 273 ton yang sampai ke TPA dan 15,71 ton didaur ulang sehingga hanya 15,59 ton sampah atau 5 persen yang belum dikelola dengan baik.

Menurut dia, NTB perlu mencontoh sejumlah daerah yang sudah lebih dahulu mengelola sampah seperti Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung. “Kita berharap sepulang dari sini, bisa menyampaikan informasi betapa pentingnya mengelola sampah,” kata Najamuddin seraya menyebut pengelolaan secara baik mampu mengubah sampah menjadi berkah. Pun sebaliknya jika tidak terurus secara maksimal justru akan mendatangkan malapetaka dan bencana.

NTB, kata dia, kini sedang menggencarkan program NTB zero waste atau bebas sampah. Oleh karenanya, menurut Najamuddin, penting bagi NTB melihat apa yang sudah dilakukan daerah lain, salah satunya di Kota Bandung.

“NTB bisa melakukan ATM (amati, tiru dan modifikasi) program pengelolaan sampah yang dilakukan Bandung,” ucap Najamuddin.

Sementara itu, Seksi Edukasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, Syahriani, menyatakan, pada dasarnya Pemkot Bandung juga sedang mencari formula dalam menangani persoalan sampah. Menurut dia, provinsi Jawa Barat masih memiliki ingatan kelam akibat tragedi longsoran di TPA Leuwigajah yang mengakibatkan 157 jiwa meninggal dunia pada 2005. Pun dengan Sungai Citarum yang kerap dipandang sebagai tong sampah terbesar di dunia.

Syahriani menjelaskan, produksi sampah warga Kota Bandung berkisar 1.500 ton hingga 1.600 ton per hari, dan 1.200 ton hingga 1.300 ton diangkut ke TPA Sarimukti. TPA Sarimukti yang merupakan milik Pemprov Jawa Barat diperkirakan akan mencapai daya tampung maksimal pada 2020.

“Ini mengapa kita harus benar-benar mengurangi sampah yang dikirim (ke TPA) berkurang,” ungkapnya. Pemkot Bandung, kata Syahriani, telah memiliki peraturan daerah (perda) Nomor 9 tahun 2018 tentang pengelolan sampah.

Syahriani menyampaikan, Wali Kota Oded Muhammad Danial ingin penanganan sampah dilakukan lebih maksimal. Salah satunya dengan program “Kang Pisman” yang merupakan akronim dari Kang (kurangi sampah makanan), Pis (pilah sampah) dan Man (manfaatkan sampah menjadi nilai jual) sejak Oktober 2018. “Secara regulasi wajib menangani sampah rumah tangga menjadi program unggulan,” ucapnya.

Syahriani menuturkan Pemkot Bandung memiliki perusahan daerah (PD) Kebersihan yang memiliki tugas khusus pengelolaan sampah rumah tangga dan komersial. Dalam pengelolaan sampah, PD Kebersihan mengangkat 95 orang yang berasal dari komunitas lingkungan hidup sebagai pegawai harian lepas.

Para PHL ini terjun di lapangan guna mendampingi masyarakat dalam memilah sampah rumah tangga. Ditargetkan, satu RW di satu kecamatan dapat menjadi contoh pengelolaan sampah.

Di tempat sama, Pranata Humas Dinas Pendidikan Pemkot Bandung, Irvianti, mengatakan edukasi pemilahan sampah juga dilakukan sejak dini dari tingkat SD dan SMP. “Bank sampah diwajibkan di seluruh SD dan SMP,” tegasnya.

Irvianti menjelaskan, Pemkot Bandung juga memiliki regulasi yang mengatur tentang hal ini, termasuk sosialisasi kepada siswa untuk menggunakan tumbler dan kantin di SMP untuk tidak menggunakan bahan sekali pakai seperti sterofom.

Sementara untuk bank sampah saat ini sudah terdapat sebanyak 100 bank sampah di SMP di Kota Bandung. Keberadaan bank sampah merupakan salah satu upaya mengedukasi masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah rumah tangga. Hasil sampah yang dikumpulkan nantinya dapat ditukar dengan sembako. Salah satunya, beras

“Ada juga kegiatan setiap Sabtu di Cikapundung riverspot, para siswa, prabu junior bersama komunitas membersihkan sampah, prabu junior mengngatkan orang dewasa untuk tidak buang sampah di sungai,” tandas Irvianti. RUL.

Leave A Reply