Berbagi Berita Merangkai Cerita

Kegelisahan Melahirkan Produk Jutaan Rupiah

92

Foto bawah. Ketua DPC PDI Perjuangan Ir Made Slamet bersama Sekretarisnya Nyayu Ernawati (kiri) saat bersama Ketua Gelisah Ulfa menunjukkan produk hasil ulang daur sampah. (FOTO. RUL/DS)

MATARAM, DS – Masyarakat Pulau Lombok, khususnya di Pesisir Pantai Kecamatan Ampenan, yakni Lingkungan Banjar, mengambil langkah-langkah vital untuk menciptakan komunitas daur ulang sekaligus mencegah pantai dari sampah plastik.

Lombok telah digadang-gadang pemerintah Indonesia sebagai salah satu “Sepuluh Bali Baru”. Putaran tahunan Kejuaraan Dunia MotoGP juga direncanakan untuk diselenggarakan di pulau itu melalui Proyek Mandalika berbiaya US$3 miliar.

Namun, meski bakal mendatangkan manfaat ekonomi, pembangunan infrastruktur dan kunjungan turis asing juga berpotensi membawa efek samping.

Menurut data pemerintah, Indonesia setiap tahun membuang limbah plastik sebanyak kurang lebih 85 juta kilogram ke lingkungan, sehingga negeri kepulauan ini dikenal sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China.

Statistik dari 2015 menunjukkan bahwa negara ini mendaur ulang hanya 7% dari total limbahnya. Bagaimanapun, ada sejumlah kelompok di Lombok yang bertekad mendongkrak angka tersebut.

Produk dari limbah plastik

Diperkirakan, sampah plastik dalam jumlah ‘mengerikan’ akan mencemari lingkungan pada tahun 2040 mendatang. Khusus, di kota Mataram sebagai ibukota Provinsi NTB, setiap harinya rata-rata volume sampah mencapai sekitar 400 ton.

Sementara itu, total sampah yang dihasilkan dari 10 kabupaten/kota yang ada di NTB mencapai 3.388 ton per hari. Hanya saja, dari jumlah itu, justru sebanyak 631 ton sampah yang sampai ke 10 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di masing-masing wilayah di NTB.

Sedangkan, baru 51 ton diantaranya yang kini telah dilakukan proses daur ulang. Sehingga, ada sekitar 80 persen atau setara 2.695 ton sampah hingga kini belum terkelola dengan baik.

Adalah, Komunitas Gerakan Lingkungan Sampah Nihil (Gelisah) Kampung Banjar dibawah pimpinan Ulfa pada sekitar tahun 2019 lalu, mencoba mengumpulkan sampah di pantai-pantai hingga sepanjang kali di wilayah setempat.

Selang 18 bulan kemudian dan setelah ada gerakan pengumpulan limbah plastik yang dikumpulkan dari setiap kepala keluarga di lingkungan setempat.

Ulfah yang mengajak beberapa remaja sebayanya, mampu mengubah limbah tak terurai menjadi pernak-pernik, mainan, dompet, sampul dan pembatas buku hingga piring.

Dengan menjual barang-barang tersebut melalui pasar media sosial yakni Facebook dan gerai berukuran mini yang disulap sebagai toko artshop, Kelompok Gelisah itu berharap menciptakan ekonomi yang berkesinambungan.

“Jumlah sampah rumah tangga yang berserakan di setiap gang, pantai dan kali Gedur telah merusak lingkungan. Di antaranya, kalau sudah hujan selalu air genangan di saluran lingkungan meluap. Jadi, kami perlu bertindak meski dari lingkungan kecil, namun untuk menanganinya sebelum terlambat dan menghadapi situasi seperti di wilayah lainnya di Indonesia,” kata Ulfah, Ketua Kelompok Gelisah saat menerima kunjungan Ketua dan Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Mataram, Selasa Malam (25/5).

Ia mengaku, gerakan daur ulang sampah harus menjadi sebuah gerakan bersama yang tidak saja menjadi tanggung jawab pihaknya. Namun pemerintah daerah termasuk masyarakat, harus bahu membahu mengatasi persoalan sampah plastik itu.

“Memang Pemprov NTB sudah ada program NTB Zero Waste. Tapi tindak lanjut di Kota Mataram melalui sekolah ramah lingkungan guna menyelenggarakan kelas-kelas untuk membantu penyediaan bantuan, dan mendidik masyarakat akan pentingnya membuang sampah secara bertanggung jawab belum masif dilakukan,” jelas Ulfah.

Aneka barang dari sampah plastik dijual dengan harga bervariasi. Sebuah bangku rias bahkan dijual seharga Rp1,8 juta.

Plastik Kembali membuat aneka barang, mulai dari mangkuk dekoratif hingga tas jinjing hingga tatakan gelas

Melalui cara-cara kreatif mengolah sampah yang tidak berharga seperti ban bekas dan bungkus bahan minuman kemasan menjadi tas tangan, taplak meja, gantungan kunci, sampul buka dan alas piring.

Ulfa bersama beberapa remaja sebayanya telah menciptakan banyak karya di ibu kota provinsi tersebut.

Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Mataram, Made Slamet mengatakan, seharusnya kreatifitas Kelompok Gelisah ini perlu disuport dan dibantu oleh pemerintah. Salah satunya, adanya bantuan mesin penghancur limbah plastik yang representatif.

“Ketimbang dana pemerintah dipakai tidak jelas untuk proyek fisik yang menghamburkan uang daerah cukup besar. Saya mendorong kelompok daur ulang sampah inilah yang dibantu pengembangan hingga pendampingannya,” kata Made.

Menurut dia, dengan ketiadaan TPA di Kota Mataram saat ini, maka pembentukan kelompok di lingkungan di semua wilayah di Kota Mataram yang berfungsi mendaur ulang sampah plastik menjadi vital dilakukan.

Dengan demikian, hal tersebut akan bisa mengurangi tonase sampah yang dikirimkan ke TPA Regional Kebon Kongok.

“Harusnya, gerakan memilih dan memilah sampah dari hulu ini yang difokuskan ketimbang menambah pembelian alatnya. Saya kira, keberadaan kelompok pengurai sampah ini yang bisa terus diberdayakan keberadaannya. Apalagi, dana lingkungan dan kelurahan cukup besar selama ini. Maka, tinggal diarahkan saja kesana. Yakni, diperbanyak kelompok pemilah sampah itu,” jelas Made.

Kalaupun sudah ada dana untuk pengadaan alat yang diprogramkan Pemkot Mataram. Ia menyarankan agar diadakan alat untuk memasang alat penghalau sampah (trashboom) atau pemasang jaring untuk membantu menanggulangi polusi saluran air sekaligus mencegah limbah di sungai sampai ke lautan.

“Disini Pemprov dan Pemkot perlu berkolaborasi bersama karena sampah ini bukan hanya masalah Kota Mataram tapi juga provinsi. Makanya, daur ulang plastik melalui pembentukan kelompoknya ini harus masif dilakukan. Sebab, akan bisa pula menjadi solusi mengatasi pengangguran di lingkungan atau desa yang kian meningkat akibat dampak Covid-19,” tandas Made Slamet. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.