BSK Samawa

Kasus Pneoumonia pada Anak Terdeteksi di Lombok Timur Turun dari 99 Kasus Kini Jadi 70 Kasus

Foto : Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Pathurrahman.

Selong,DS –  Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Timur mencatat periode November-Desember 2023 ini kasus penyakit Pneoumonia pada anak mencapai 70 kasus. Angka itu mengalami penurunan sejak 4 Minggu lalu yang sebelumnya mencapai 99 kasus.

“Dari data pada minggu ke-4 Berarti itu sekitar November ya awal-awal November itu dari angka 99 kasus turun menjadi 70 kasus di Minggu sekarang ini di minggu ke 48 atau minggu pertama Desember,” ucap Kepala Dinas Dikes Lombok Timur, Pathurrahman, Selasa (13/12/2023).

Dijelaskannya, jika melihat tren penurunan angka penyakit pneoumonia pada anak semakin hari semakin menurun. Ini menunjukkan penanganan terhadap penyakit itu telah berjalan optimal.

Namun, kata dia, tren penurunan tersebut lantas tidak membuat pihaknya lalai. Dikes dalam hal ini tetap memberikan pengawasan dan rutin mengecek kondisi balita yang sekiranya berpotensi atau positif terjangkit penyakit pneoumonia tersebut.

Karna itu, dia mengimbau kepada seluruh masyarakat jika balita atau anak mengalami gejala-gejala pneoumonia seperti susah bernafas, batuk, hingga keringat dingin untuk secepat mungkin membawanya ke Fasilitas Kesehatan (Faskes) terdekat.

Lebih lanjut Pathurrahman menyampaikan, pneoumonia pada balita berbeda dengan pneoumonia meycoplasma yang mulai menyebar di sejumlah wilayah di Indonesia.

Berdasarkan informasi atau data yang di terima Dikes Lombok Timur dari Provinsi Bali, Lombok Timur ataupun di NTB belum ada yang terindikasi terjangkit pneumoni mycoplasma.

“Sebenarnya gejalannya sama dengan pneumoni yang biasa itu cuman dia mungkin lebih cepatlah penularannya atau daya serangnya lebih cepat terjadi di Indonesia,” jelasnya.

Meski begitu, dia mengimbau bagi setiap masyarakat untuk lebih tenang menghadapu penyakit tersebut, lantaran pneomonia sendiri bukan penyakit baru yang terjadi di Indonesia.

“Sebenarnya peneoumonia ini kalau kita di Lombok Timur ataupun di NTB itu dia beradu dengan penyakit diare, kita di Lombok Timur kalau nggak diare yang terbanyak ya pneoumoni,” ungkapnya.

Ditekankannya, untuk menghindari penyakit tersebut masyarakat diminta untuk lebih memperhatikan lingkungan sekitar, mengingat penyakit itu berbasis lingkungan dan berbasis perilaku .

“Oleh karenanya pencegahannya itu pun juga harus memperhatikan aspek-aspek perilaku, tapi yang terpenting adalah tindakan-tindakan pencegahan,”paparnya.

“Utamanya juga kebersihan individu tangan pada saat memberikan makan bayi, dan usahakan penuhi asupan gizi seimbang bayi dan balita,” Imbuh Pathurrahman.li

Facebook Comments Box

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.