Berbagi Berita Merangkai Cerita

Kasus Pernikahan Dini Tinggi, DPRD Godok Raperda Pencegahan Perkawinan Anak

30

Akhdiansyah
Mataram,DS – DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah menggodok rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang pencegahan perkawinan anak. Ketua Pansus Rapeda Pencegahan Perkawinan Usia Anak DPRD NTB, Akhdiansyah, menyebut angka pernikahan anak di NTB tinggi.


“Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, untuk usia pernikahan anak di bawah umur tingkat SMA/SMK sederajat tahun 2020 mencapai 874 kasus, artinya sudah sangat mengkhawatirkan,” kata Akhdiansyah kepada media Jumat (15/1/2021).


Untuk mematangkan raperda tersebut, pansus sudah menggelar rapat bersama Dinas Sosial, Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB), Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, BKKBN, Kemenag, serta perwakilan NGO yang berfokus pada isu perempuan dan anak. Rapat yang digelar pada Kamis (14/1) itu membahas mengenai komitmen semua pihak untuk melakukan pencegahan pernikahan anak.


“Yaitu komitmen, kolaborasi, partisipasi seluruh pihak yang memiliki keberpihakan sama. Di sisi lain, karena raperda inisiatif DPRD ini adalah yang pertama di Indonesia, maka sangat penting model sanksi yang akan diformulasikan dalam raperda,” ucapnya.


Akhdiansyah mengatakan, dalam raperda tersebut, nantinya ada sanksi kepada siapa saja yang terlibat dalam pernikahan anak. Sanksi pidana juga akan dimasukkan dalam raperda tersebut.


“Di sisi lain muncul juga ide tentang reward bagi yang berhasil menurunkan atau mencegah angka perkawinan usia anak,” katanya.

Menurutnya, raperda diharapkan mampu mencegah pernikahan anak di NTB. Akhdiansyah menyebut pernikahan di bawah umur dapat berdampak buruk, salah satunya dapat melahirkan generasi tidak sehat.


“Pernikahan di bawah umur terbukti berdampak besar bagi kehidupan dan masa depan anak, menghambat pendidikan, melahirkan generasi tidak sehat, karena minim pemahaman kesehatan reproduksi. Angka kematian ibu hamil yang sempat tinggi di NTB, gizi buruk dan stunting salah satunya sebagai dampak dari pernikahan usia anak. Termasuk dampak sosial ekonomi berupa kemiskinan,” katanya.ais

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.