Menu

Mode Gelap

Lingkungan Hidup · 16 Jan 2022 07:49 WITA ·

KASTA: Proyek Penataan Senggigi Longsor, Jangan Salahkan Alam


					KASTA: Proyek Penataan Senggigi Longsor, Jangan Salahkan Alam Perbesar

FOTO. Inilah proyek penataan Senggigi di Lobar yang ambruk dan kasusnya masih ditangani aparat kepolisian hingga kini. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Kasus proyek penataan Senggigi yang ambruk akibat longsor awal 2021 lalu, kini masih diproses kepolisian.

Hampir setahun kasus tersebut masih ditangani Polres Lombok Barat. Pihak kepolisian pun kini masih melengkapi petunjuk ahli.

Sedikitnya ada empat titik proyek penataan rest area Senggigi ambruk. Padahal proyek tersebut masih sangat baru. Alasan force majeure karena cuaca buruk disebut menjadi penyebab ambruknya proyek fisik Lombok Barat tersebut.

Ketua KASTA NTB, Lalu Munawir Haris, menyesalkan adanya oknum-oknum yang menjadikan alasan alam sebagai pemicu longsornya proyek di Senggigi.

“Ujungnya alam yang disalahkan atas keserakahan manusia,” kata Lalu Wink sapaan akrabnya, Sabtu (15/1).

Dia menilai seharusnya alam tidak menjadi alasan proyek tersebut rubuh. Seharusnya, saat proyek tersebut dikerjakan maka terlebih dahulu sudah disiapkan perencanaan yang matang. Tidak terkesan asal membangun.

“Proyek itu soal profit, kerusakan harusnya jadi tanggung jawab manusia kenapa salahkan alam,” ujarnya.

Lalu Wink mempertanyakan apakah proyek tersebut melalui kajian yang matang, sebelum pengerjaan dimulai.

“Apakah dalam penentuan pengerjaan yang bersumber dari duit rakyat tidak menggunakan kajian?.Siapa yang bertanggung jawab kalau ada kerusakan? Masa alam? Padahal alam gak terima fee,” tandasnya menggerutu kesal.

Proyek penataan rest area di sekitar Alberto dikerjakan oleh CV Alfandi Putra yang beralamat di Kecamatan Kuripan, Lombok Barat.

Sementara proyek di sekitar Hotel Sheraton dikerjakan PT SANUR JAYA UTAMA yang beralamat di Badung, Bali. Terakhir, proyek Dream Point di sekitar Hotel Pasifik dikerjakan CV WANDY DWIPUTRA beralamat di Kota Makassar.

Dari informasi yang dihimpun, proyek di pembatas jalan dan trotoar dekat Hotel Sheraton, nilai proyek Rp 2,6 miliar. Di sekitar Hotel Alberto nilai proyek Rp 1,8 miliar. Terakhir pada Dream Point sekitar Pasific Beach Cottages dengan nilai proyek Rp 1,7 miliar.

Kabar terbaru, proyek yang gagal tersebut akan dilakukan rekonstruksi jelang MotoGP. Pihak kontraktor akan mengerjakan proyek tersebut dan diperkirakan selesai sebelum MotoGP. RUL.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Kebakaran di Nitu Kota Bima, Pemprov Gerak Cepat

14 Mei 2022 - 06:58 WITA

Jaga Kualitas Udara, ULPLTD Paokmotong Galakkan Budidaya Tanaman Hidroponik

10 Mei 2022 - 16:51 WITA

Wagub NTB Apresiasi Penghijauan INTI – JMSI – PINTI, dan DLHK

16 Maret 2022 - 17:22 WITA

Tinjau Pengolahan Sampah Desa Anyar, Begini Respon Wagub

11 Maret 2022 - 15:27 WITA

Pangdam V/Brawijaya Pimpin Penanaman Puluhan Ribu Mangrove di Kabupaten Bangkalan

5 Maret 2022 - 19:53 WITA

Dua Bank Sampah di Bima Berhasil Implementasikan Pemberdayaan

24 Februari 2022 - 07:31 WITA

Trending di Lingkungan Hidup