Menu

Mode Gelap

Seni Budaya · 28 Mar 2022 11:33 WITA ·

Kain Tenun NTB, Warisan Budaya Nusantara yang Gambarkan Keseharian Tradisi Lokal


					Kain Tenun NTB, Warisan Budaya Nusantara yang Gambarkan Keseharian Tradisi Lokal Perbesar

FOTO. H. Khaerul Anwar. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Provinsi NTB merupakan satu diantara banyak daerah di Indonesia yang memiliki banyak ragam, corak dan motif kain tenun selama ini.

Kendati, banyak pesan moral yang termaktub pada kain tenun yang masuk menjadi warisan budaya nusantara. Di antaranya, nilai-nilai baik dari kearifan lokal para leluhur yang tertuang dalam beragam motif kainnya.

Namun, upaya menggunakan kain dalam kehidupan sehari-hari, justru masih minim dilakukan. Parahnya, gerakan mencintai kain tenun hanya sebatas untuk di festivalkan saja. Itupun hanya sekali saja. Dan bukan menjadi sebuah gerakan bersama.

“Jadi, penerbitan buku ; “Khazanah Tenun Tradisional NTB” yang sudah saya luncurkan baru-baru ini, adalah upaya saya, untuk dan bagaimana kain tenun itu masuk dalam keseharian warga NTB,” ujar Khaerul Anwar, salah satu jurnalis senior NTB dan penulis bukunya, pada wartawan, Senin (28/3)

Menurut dia, ide dari penulisan buku tersebut, tidak lepas dari keprihatinannya atas minimnya referensi dan literasi terkait kain tenun tersebut.

Padahal, di era kekinian, keindahan motif dan pilihan warnanya, mulai dilirik dalam industri fashion nasional dan juga mancanegara, saat ini.

Khaerul mendaku, dari tiga etnis yang mendiami provinsi NTB, yakni Suku Sasak, Samawa dan Mbojo. Khusus, etnis Sasak, justru ia melihat bahwa etnis ini, menjunjung tinggi keahlian menenun, bahkan sudah mengajarkan kemampuan menenun pada anak-anak perempuan sejak usia dini, lho! Tak heran kalau pada akhirnya mereka menjadi penenun yang piawai.

Konon nama Sasak memang memiliki kaitan erat dengan tenun-menenun yang disebut sebagai sèsèk. Kata sèsèk ini berasal dari kata “sesak” atau “sesek”.

“Menenun khas suku Sasak memang dilakukan dengan cara memasukkan benang satu-persatu yang disebut dengan sak sak. Lalu benang tersebut dirapatkan hingga sesak dan padat. Bahkan alat tenun yang digunakan pun mengeluarkan bunyi, sak…sak…ketika sedang digunakan,” ungkap dia.

Khaerul mengatakan, dari sejumlah penelusuran dan diskusi yang dilakukannya dengan para pengerajin kain tenun. Terlebih, sudah sekitar hampir 30 tahun lamanya ia bertugas di Harian Kompas. Tentunya, story telling yang mengalir bagi setiap pembaca terkait ketajaman dan isi buku Khazanah Tenun Tradisional NTB, bisa dipertanggung jawabkannya.

Apalagi, lanjut dia, buku tersebut berisi banyak tulisan lawas yang sudah dia modifikasi lebih enak dan supel untuk dibaca oleh semua kalangan.

“Semoga lewat buku ini, potensi NTB, karya seni, budaya, dan kearifan lokal yang selama ini banyak yang enggak orang tahu akan bisa dikenal masyarakat secara luas. Utamanya, para generasi muda di NTB untuk bisa lebih mencintai daerah dan budaya lokalnya,” kata Khaerul yang sudah purna tugas pada akhir tahun 2021 sebagai Jurnalis Kompas tersebut.

Dari hasil keliling ke sejumlah sentra perajin kain tenun di semua wilayah NTB. Khaerul mengaku, bangga. Pasalnya, tenun NTB sudah berhasil merebut hati desainer-desainer kondang dalam menciptakan karya fashion berkelas.

“Tenun kita ibarat kearifan lokal yang mampu menembus zaman. Perhatian Pemda NTB dan juga Perbankan dan stakeholders lainnya cukup besar untuk mengantar tenun NTB bersaing di kancah nasional,” tegas dia.

Dalam buku Khazanah Tenun Tradisional NTB, Haerul tak hanya mengupas asal daerah dan corak belaka. Makna filosofis setiap motif tenun dikupas tuntas.

Buku berkualitas dan enak dibaca ini, kini tersedia dan bisa anda dapatkan di gerai Gramedia di Kota anda.

“Buku Kain Tenun Tradisional NTB ini adalah sepercik dari banyak tulisan lawas saya yang insyaallah kelak, satu per satu akan saya rangkai menjadi buku yang dapat berguna bagi para generasi muda kedepannya. Mohon doanya, saya enggak akan berhenti sampai di tulisan Tenun, tapi akan ada yang lainnya lagi,” tandas Khaerul Anwar. RUL.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Kali Aare Swiss Menghanyutkan Puisi H.Dienullah Rayes

9 Juni 2022 - 09:05 WITA

DATANG dan PULANG,Puisi Dienullah Rayes

20 Mei 2022 - 17:39 WITA

Film Sera dan Joan Akan Jadi Kado Spesial JMSI di HUT Kabupaten Seluma

20 Mei 2022 - 07:39 WITA

Eksplorasi Situs Kuno Suku Sasak, Paranormal dan Arkeolog Dilibatkan

16 Mei 2022 - 10:48 WITA

KOTA KATA-KATA LIMA ANAK BENUA, Puisi Dienullah Rayes

27 April 2022 - 19:03 WITA

AKAR SILSILAH INSAN, Puisi Dienullah Rayes

6 April 2022 - 18:21 WITA

Trending di Seni Budaya