BSK Samawa

Kadis Kesehatan NTB Mengaku Tak Nyaman di Hadapan Tamu Akibat Perkawinan Anak

Dr. Dr. HL Hamzi Fikri

Mataram, DS-Kadis Kesehatan NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, merasa tak enak ketika suatu saat mendampingi pejabat pusat. Pasalnya, kala itu IPM NTB bertengger naik tapi perkawinan anak tinggi.

Pernikahan anak yang tinggi itu membuatnya jadi tidak nyaman. Bersama pejabat Pusat ia menyaksikan langsung banyaknya anak lulus SMP menggendong anak. Selain itu, ada temuan langsung di rumah sakit ketika seseorang melahirkan bayi yang berbobot sangat kecil. Ternyata, ibunya baru berusia 16 tahun.

Dalam Pertemuan konsultasi dengan pemangku kepentingan tentang pencegahan perkawinan anak di Kantor DP3AP2KB NTB, Selasa (30/4), Hamzi Fikri, mengakui banyak alasan yang dikemukakan hingga perkawinan anak terjadi, diantaranya agar tak mendekati zinah dan ada kesan untuk menaikkan status ekonomi.

Alasan itu telah membuat perkawinan anak membengkak. Lalu Hamzi menyihir anak remaja yang hamil di tahun 2022 mencapai 5.980 an. Fakta tersebut membuatnya prihatin.

Namun, Lalu Hamzi memiliki formula mengatasinya melalui sebanyak 7.600 posyandu keluarga yang aktif melayani siklus hidup masyarakat di NTB.

“Perkuat kader posyandu agar mengedukasi warga dari pernikahan anak, ” cetusnya seraya memaparkan pernikahan anak telah memberi kontribusi terhadap 70 persen stunting di NTB.

Ketika anak stunting tak diintervensi, kata dia mengutip sebuah jurnal, pendidikan mereka hanya akan sampai tingkat SMP disebabkan stunting memengaruhi IQ dalam posisirendah.

“Karena itu saya berharap pencegahan perkawinan anak bisa masuk melalui Posyandu. Tugas sekarang bagaimana menggerakkan karena kita memiliki kepentingan yang sama, ” katanya. Ian

Facebook Comments Box

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.