Berbagi Berita Merangkai Cerita

Kader PDIP Wajib Membumikan Pancasila di Pilkada Serentak

0 6

MATARAM, DS – Seluruh kader PDIP NTB diharapkan berani mengambil peran sebagai duta Pancasila. Langkah membumikan ideologi tersebut sejatinya dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif.

Apalagi, NTB akan menghadapi Pilkada Serentak tahun 2020 di tujuh kabupaten/kota. Oleh karena itu, membumikan Pancasila dengan mengenalkan ajaran Bung Karno sebagai bapak Bangsa menjadi pekerjaan wajib yang harus dilakukan oleh kader PDIP di semua tingkatan.

“Kobarkan semangat Pancasila dengan terus membumikannya lewat bathin, pemikiran dan gerakan. Insya Allah, jika konsep dan pemikiran Bung Karno kita teladani secara utuh, maka target memenangi Pilkada, Pileg dan Pilpres itu adalah hal yang mudah kita lakukan,” tegas Wakil Ketua DPP PDIP H. Ahmad Basarah saat saat membuka Rakerda I DPD PDIP NTB di kantor PDIP NTB di Jalan Lingkar Selatan, Kota Mataram, Sabtu (7/3).

Wakil Ketua MPR itu mengatakan, Pancasila merupakan pemersatu atas keberagaman di Tanah Air. Oleh karena itu, pengelolaan terhadap kemajemukan yang ada juga tetap memerlukan partisipasi semua komponen. Intinya, jangan sampai negara ini hancur seperti beberapa negara di Timur Tengah.

Menurut Basarah, tidak ada bangsa yang menjadi besar dengan menjiplak ideologi atau falsafah bangsa lain yang tidak sesuai dengan akar budaya dan adat istiadatnya.

“Paling sederhana saja. Keluarga, di rumah, punya falsafah keluarganya masing-masing, dengan nilai, dan sebagainya. Di situlah, keluarga tumbuh dan besar,” kata dia.

Sama juga dengan keluarga, Basarah menjelaskan bahwa bangsa Indonesia tidak akan mungkin menjadi bangsa yang besar kalau menjiplak falsafah bangsa lain.

“Karena budaya bangsa lain belum tentu sama dengan sejarah bangsa Indonesia, dengan budayanya, adat istiadatnya. Sebuah bangsa di dunia hanya akan menjadi bangsa yang besar ketika berpegang teguh dengan falsafahnya sendiri,” jelasnya.

Basarah menuturkan, Pancasila bukan hanya membebaskan bangsa Indonesia dari kolonialisme, tetapi juga mempersatukan bangsa.

“Apakah kemudian kita mau bereksperimen dengan mencoba ideologi-ideologi milik bangsa lain? Dalam catatan saya, tidak ada bangsa yang menjadi besar ketika bangsa itu menjiplak falsafah bangsa lain,” ucapnya.

Amerika, kata Basarah, menjadi besar karena memegang teguh falsafah bangsanya, China yang kini menuju sebagai raksasa ekonomi dunia karena berpegang teguh pada falsafah bangsanya sendiri, demikian pula Jerman, maupun Jepang.

“Bangsa Indonesia enggak akan jadi bangsa besar kalau kita menjiplak bangsa Arab, Amerika, atau China. Kita bisa besar kalau bisa pedomani ideologi sendiri, yakni Pancasila,” tandasnya.

“Pokoknya, khusus kader itu kita wajib dan tunduk dengan ikut aturan main partai. Karena, demokrasi Pancasila itu mengenal pimpinan yang harus kita pedomi tutur kata dan geraknya, yakni ketua partai,” sambung Ahmad Basarah. RUL.

Leave A Reply