Berbagi Berita Merangkai Cerita

Kader PDIP Didorong jadi Penjaga Budaya Lokal 4.0

37

FOTO. H. Lalu Bayu Windia. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Era revolusi industri 4.0 membutuhkan beberapa pendekatan. Apalagi, dampak dari kemajuan informasi teknologi dan revolusi industri telah mengubah paradigma berpikir masyarakat.

Agar derasnya arus teknologi tidak menggerus tatanan budaya lokal maka kebudayaan lokal harus dilestarikan.

“Disini, saya minta kader PDI Perjuangan Kota Mataram harus menjadi pelopor kebangkitan dan eksistensi budaya lokal. Ini karena PDIP memiliki sosok figur Presiden pertama bangsa Indonesia, yakni Bung Karno sebagai tokoh perekat bangsa. Inilah keuntungan PDIP yang punya bulan Bung Karno,” kata Ketua Harian Majelis Adat Sasak (MAS) NTB H. Lalu Bayu Windia saat menjadi narasumber dalam Webinar nasional Bulan Bung Karno yang diselenggarakan DPC PDI Perjuangan Kota Mataram secara daring, Senin (27/6).

Ia menuturkan dalam dunia kerja beban dan target serta tekanan kerja yang tinggi membuat karyawan mudah stress dan depresi. Selanjutnya, dalam keluarga terjadi kerenggangan hubungan keluarga.

“Terjadi kerengangan hubungan dalam keluarga, dekat terasa jauh dikarenakan sibuk bermain gadget. Inilah efek era revolusi 4.0 itu,” tegas Bayu.

Ia mengatakan, perkembangan revolusi industri 4.0 terjadi pertama pada tahun 1750-1830 ditandai oleh penemuan mesin uap Inggris dan kereta api yang mampu mengantikan tenaga manusia dan hewan sebagai kekuatan produksi, pada era ini tenaga mesin yang digerakkan oleh tenaga uap.

Selanjutnya, revolusi industri kedua, pada tahun 1870-1900 ditandai oleh penemuan listrik, alat komunikasi, bahan-bahan kimia, dan minyak yang berguna untuk produksi massal.

Sementara, revolusi industri ketiga terjadi pada tahun 1960 terjadi perubahan yang diawali oleh penemuan komputer, internet, dan telepon.

Revolusi industri keempat, revolusi 4.0. “Revolusi 4.0 merupakan salah satu pelaksanaan teknologi modern Jerman 2020 melalui peningkatan teknologi manufaktur dan kehadiran robot. Ini yang akan rasakan saat ini,” jelas Bayu

Menurut dia, pembelajaran di era 4.0, sudah terwujud saat ini dengan blended learning. Yakni, pembelajaran berbasis daring.

Sehingga, pesan bahwasanya arus teknologi sudah menjadi sebuah kewajiban sudah mutlak harus diikuti. “Saat saya menjabat Kadis Perhubungan, angkutan online sudah mulai masuk ke NTB. Awalnya, memang banyak yang enggak terima, tapi begitu tahu manfaatnya, semuanya mendukung karena manfaatnya sudah mereka rasakan secara langsung,” ungkap Bayu.

Dalam kesempatan itu. Bayu berpesan agar jajaran PDI Perjuangan Kota Mataram mulai fokus melakukan pembenahan internal, yakni bagaimana sentuhan informasi teknologi bisa masuk ke garis kehidupan partai.

“Sentuhan teknologi informasi itu penting, jika tidak PDIP di NTB akan tinggal nama alias mati. Jadi saya titip agar training khusus terkait teknologi informasi itu bisa jadi agenda pembekalan kader partai kedepannya,” tandas Lalu Bayu Windia. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.