Berbagi Berita Merangkai Cerita

Jasad Raja Selaparang Diduga Menghilang

280

Situs Cagar Budaya Makam Selaparang

SELONG, DS -Bangunan tempat berhalwat Raja Selaparang (yang satu komplek dengan Masjid Pusaka dan Gedeng Raja/rumah raja) di Desa Ketangga saat ini dijadikan sebagai tempat menyimpan benda pusaka peninggalan Raja Selaparang, diantaranya berupa Al-Qur’an tua tulis tangan, Sabuk Pusaka, Sajadah Raja, Selendang Raja, Keris, Tombak, Baju perang (Baju Zirah), Tangiang (Perisai), Kendi, dan teks khotbah zaman Raja Selaparang. Selain dari situs Masjid Pusaka, Gedeng dan benda pusaka, juga ada Gua Jagat.

Tokoh masyarakat setempat yang mengetahui banyak tentang sejarah Kerajaan Selaparang (secara turun temurun), Jaelani, S.Pt., Sabtu (4/9/2021), menyampaikan banyak hal terkait dengan situs-situs bersejarah di Desa Ketangga. Bahkan pihaknya sudah mengantongi sejumlah situs hasil penelusurannya di Desa Ketangga, termasuk makam mamiq (ayah) dari Raja Selaparang (Sayyid Zulkarnain) yaitu Makam Ghaus Abdurrazaq yang ada di Reban Loang Desa Ketangga.

Bahkan, kata dia, hasil penelitian para ahli sejarah dan arkeolog dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Proyek Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Jakarta, 2004 di Desa Ketangga terkait dengan Kerajaan Selaparang, sudah dibukukan dengan judul KHAZANAH NASKAH DESA KETANGGA KECAMATAN SUELA KABUPATEN LOMBOK TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT, oleh Mujib dan Ahmad Cholid Sodrie.

,Jaelani yang juga pengabdi pada Ponpes Miftaul Faidzin NW Ketangga Kecamatan Suela menuturkan Gua Jagat sebagai bagian penting pertahanan Kerajaan Selaparang yang sangat strategis dan sulit dilacak lawan/musuh. Dari Gua Jagat prajurit Kerajaan Selaparang bisa memantau para musuh/penjajah dari arah darat, laut dan udara (ketinggian).

“Konon Gua Jagat digunakan sebagai jalan Telik Sandi ke Jantung Kota Selaparang. Dalam Gua Jagat terdapat empat jalur atau empat cabang yaitu Cabang pertama menuju pesisir, cabang kedua mengarah ke Gunung Rinjani, cabang ketiga mengarah Seruni Mumbul, cabang keempat mengarah ke jantung Kota Selaparang (Ketangga),” ungkap Ketua Kerama Adat Desa Ketangga ini.

Terkait dengan Makam Selaparang, Jaelani mengamati arsitektur makam itu penuh makna. Menurutnya, makam (petilsan) Raja Selaparang, bentuk makam dengan nisan biasa dan paling bawah (hampir rata dengan tanah) dibandingkan yang lain. Kemudian ada makam arsitek paling tinggi dengan nisan yang indah dan tinggi, diperkirakan makam Penghulu Gading dengan jabatan sebagai Perdana Menteri Kerajaan Selaparang.

Raja Selaparang (Sayyid Zulkarnain) memiliki keimanan yang dinllainya setingkat haqeqat dan makripat. Ia pun menduga masuk sebagai satu dari kalangjan Wali Allah, jauh dari kesombongan dan urusan dunia.

“Manusia haruslah saling menghormati dan menghargai. Menghargai sesama, menghargai tingkat keilmuan seseorang. Dan, Raja Selaparang dengan menghilang dalam menuju sang Khaliq, sehingga makamnya berupa petilasan (tanda di situ dia berada terakhir kalinya),” terang Jaelani (Kusmiardi/bersambung).

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.