Berbagi Berita Merangkai Cerita

ITDC Keluhkan Tradisi “Madak” Rusak Keindahan Mandalika

0 21

MATARAM, DS –  PT Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) selaku pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah, mengaku telah mengirimkan surat kepada Bupati HM. Suhaili FT, agar pemda setempat turun tangan melakukan penertiban pada masyarakat setempat yang biasa melakukan  tradisi budaya “madak” (berkemah di pantai untuk menangkap ikan). ITDC menilai, tradisi yang biasa dillakukan masyarakat Desa Rembitan itu  mengganggu pembangunan proyek mereka.
“Surat permohonan kepada Bupati Lombok Tengah untuk menerbitkan larangan `madak` di dalam kawasan pantai the Mandalika sudah kita layangkan, kerena memang tradisi budaya itu sangat mengganggu,” ujar Deputy Project Director The Mandalika, Adi Sujono menjawab wartawan, Kamis (27/9).
Menurut dia, tradisi menangkap ikan dengan berkemah di pantai merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan September oleh masyarakat Desa Rembitan. Kegiatan tersebut menjadi tantangan dalam pengembangan kawasan pariwisata Mandalika.
“Kegiatan “madak” itu menimbulkan kesan kumuh di area pantai yang telah ditata sebagai destinasi wisata dunia,” kata Adi.
PT ITDC selaku badan usaha milik negara, ungkap dia, sangat mendukung pelestarian budaya masyarakat yang dapat memberikan kontribusi terhadap daya tarik kawasan tersebut.
Meski demikian, lanjut Adi, pelaksanaan kegiatan tradisi tersebut perlu ditata dengan baik agar mempunyai daya tarik seni dan budaya yang patut dilestarikan.
“Selain itu, tidak meninggalkan kesan budaya “madak” identik dengan sampah dan kekumuhan yang dapat merusak citra Kawasan Mandalika,” ucapnya.
Adi menjelaskan, surat permohonan kepada Bupati Lombok Tengah untuk penertiban “Madak” telah pula ditembuskan ke Gubernur NTB selaku Ketua Dewan KEK Provinsi NTB, Kapolda NTB, Kepala Kejaksaan Tinggi NTB, Danrem 162 Wira Bhakti, Kapolres Lombok Tengah, Camat Pujut, Kepala Desa Kuta, dan Kepala Desa Rembitan.
“Semoga ada solusi untuk bisa mengatasi persoalan tradisi budaya masyarakat yang juga tidak mengganggu pelaksanaan proyek kami,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah, Lalu Putria, mengatakan semua pihak harus duduk bersama untuk mencari solusi terbaik karena budaya yang berkembang di masyarakat juga potensi pendukung pariwisata.
Menurut dia, memang tidak elok juga masyarakat Sasak (etnis Lombok) menampilkan kekumuhan di dalam kawasan wisata yang sudah tertata rapi dan indah. Oleh sebab itu, pemerintah daerah juga perlu memikirkan tempat yang layak untuk kegiatan “madak” dan bagaimana mengemas tradisi budaya tersebut sehingga bisa menjadi pendukung kemajuan pariwisata di KEK Mandalika.
“Jadi pariwisata tidak perlu membunuh budaya, tapi harus melestarikan budaya yang lahir dari masyarakat lokal,” tegas Putria. RUL.

Leave A Reply