BSK Samawa

IPK NTB Melonjak ke Peringkat 15 Nasional

FOTO. Gede Putu Aryadi. (FOTO Rul)

MATARAM, DS – Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan (IPK) Provinsi NTB meningkat tajam. Pada tahun sebelumnya hanya berada di nomor buncit, yakni menempati ranking 34 dari seluruh provinsi di Indonesia, kini menjadi peringkat 15.

Hal itu terjadi setelah melalui terobosan pelatihan dan pemberdayaan tenaga kerja terpadu (Pepadu) plus pendampingan produktivitas wira usaha serta bantuan peralatan yang dilakukan Disnakertrans NTB berkolaborasi dengan lembaga pelatihan kerja, dunia industri serta OPD terkait lainnya.

Bahkan, pada Indikator pelaksanaan pelatihan dan kompetensi tenaga kerja, NTB berhasil menempati posisi terbaik nasional.

“Ini merupakan prestasi luar biasa, karena pada tahun-tahun sebelumnya, ranking IPK NTB selalu saja berada dipapan bawah,” ujar Kepala Disnakertrans NTB Gede Putu Aryadi pada wartawan, Senin Malam (24/1).

Ia mencontohkan tahun 2019 berdasarkan penilaian terhadap kinerja pembangunan ketenagakerjaan NTB dengan menggunakan data indikator capaian tahun 2018, IPK NTB menempati ranking 26 Nasional.

Ditahun-tahun sebelumnya juga belum pernah mencapai 20 besar Nasional. Namun, IPK NTB tahun 2020 berdasarkan penilaian pusat menggunakan data indikator capaian pembangunan ketenegakerjaan tahun 2019, posisinya terjun bebas kejuru kunci ranking 34 dari 34 provinsi.

“Kami targetkan IPK NTB tahun 2022 ini, dengan menggunakan indikator capaian kinerja tahun 2021-2022, Provinsi NTB harus bisa menempati ranking 10 besar nasional,” kata dia.

Gede mengatakan dua program unggulan, yaitu pepadu plus dan zero unprosedural pemberangkatan PMI melalui gerakan edukasi dan sosialisasi terpadu menjadi Pekerja Migran Sukses, akan terus dikebut pihaknya. Program-program tersebut akan bersinergi dengan seluruh stakeholder terkait.

Apalagi, kata dia, dari sisi capaian zero uprosedural PMI, tahun ini Satgas perlindungan PMI NTB mendapatkan anugerah/tropi penghargaan dari Menaker RI sebagai Satgas PPMI terbaik Nasional. Satgas dinilai responsif dan memiliki program pencegahan dan perlindungan PMI yang dinilai sangat produktif.

Gede menegaskan, secara bertahap kegiatan edukasi, sosialisasi dan pencegahan, mulai dari hulu (desa) sudah mulai menampakkan hasil. Tak hanya itu, kasus-kasus PMI bermasalah akan mulai bisa ditangani satu demi satu.

“Termasuk, sindikat/mafia PMI kini sedang berproses dan mendapat dukungan dari TNI dan Polri. Kami optimis dengan kebersamaan dan soliditas yang baik, target tersebut akan bisa direalisasikan,” tandas Gede Putu Aryadi. RUL.

Facebook Comments Box

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.