Berbagi Berita Merangkai Cerita

Inspirasi Letusan Tambora dari Desa Terpencil Skotlandia

29

Festival Geopark Tambora dalam rangka memperingati 206 tahun letusan Tambora tahun 2021 di Doro Ncanga Tambora

Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah kembali mengenang perjalananya saat mengunjungi sebuah desa terpencil di Skotlandia bagian paling Utara United Kingdom (Inggris) pada tahun 1996,. Di desa tersebut ada sebuah gua kecil yang membuat orang berbondong-bondong untuk memasukinya bahkan orang banyak yang antri. Sebab, di sudut gua yang dihiasi lampu-lampu indah ada orang yang bercerita tentang dahsyatnya letusan Gunung Tambora lengkap dengan simulasinya.

“Bagi saya yang berasal dari Pulau Sumbawa baru tahu tentang itu. Karena pada masa-masa saya SMA tidak tahu banyak tentang Tambora,” cerita gubernur saat membuka Festival Geopark Tambora dalam rangka memperingati 206 tahun letusan Tambora tahun 2021 di Doro Ncanga Tambora, Selasa (06/04/21).

Menurut gubernur yang akrab disapa Dr. Zul, Tambora bukan sekedar gunung tua yang pernah meletus ratusan tahun lalu dengan segala kedahsyatannya. Tapi bagi mereka yang menghargai peradaban, mereka akan menjadikan Tambora sebagai bahan renungan panjang. Belum pernah terjadi dalam sejarah ummat manusia bahwa dampak dari letusan Tambora menyebabkan negara-negara di Eropa tidak mengalami musim panas tiga tahun berturut-turut. Artinya, banyak orang mati karena kedinginan, banyak orang mati karena kelaparan dan orang mati karena tidak merasakan kehangatan.

Bahkan tentara penguasa Prancis, Jenderal Napoleon Bonaparte, kata Dr. Zul, kalau mereka perang tidak pernah kalah, namun karena adanya letusan Tambora yang dahsyat menyebabkan abu vulkaniknya menutupi langit Eropa dengan waktu yang sangat panjang. Mereka pu kalah dalam perang Waterloo melawan Inggris dan Prusssia pada tahun 1815. Sehebat tentara Napoleon pun tidak tahan dengan kedinginan yang membuat tentaranya banyak yang mati kedinginan. Mereka pun mengatakan bahwa letusan Tambora bukan hanya menyisakan musim dingin yang berkepanjangan tapi telah merubah wajah ummat manusia pada ratusan tahun yang lalu.

“Nah, gua kecil yang ada di desa terpencil itu adalah gua tempat sebagian mereka sembunyi dan selamat ketika abu vulkanik letusan Tambora menutupi langit bangsa Eropa saat itu,” ungkap Gubernur dihadapan siswa SMA/SMK se-pulau Sumbawa yang hadir dalam festival tersebut.

Dengan demikian, Dr. Zul berharap bahwa situs Geopark Tambora harus dijaga dengan penuh kesakralan dengan segala situs dan keunikannya. Bahkan event di Tambora jangan terlampu sering diadakan cukup hanya satu kali dalam setahun, tapi mampu mengundang orang-orang di seluruh penjuru dunia akan datang bersimpuh merenungi hidup di Tambora.

“Dari renungan panjang tentang Tambora, kita juga tidak berharap bahwa Tambora akan meletus lagi. Tapi adik-adik yang hadir di sini bisa menangkap inspirasi itu, kalau Tambora 206 tahun lalu mampu mengguncang dunia. Siapa tahu generasi Dompu yang duduk bersimpuh di kaki Tambora ini akan mampu merubah peradaban dunia,” kata Dr. Zul.

Oleh karenanya, menurutnya, Tambora merupakan harta yang luar biasa yang harus dijaga dan dikembangkan dengan baik. Kalau disebuah gua kecil yang sangat jauh di Skotlandia mampu membuat orang antri untuk mendengarkan cerita bagaimana Gunung Tambora meletus, lalu kenapa di Gunung Tambora tempat ia berdiri kokoh tidak mampu menghidangkan cerita apa-apa.

“Saya bisa membayangkan kalau di gerbang Balai Taman Nasional Tambora atau di Kota Dompu dibangun sebuah momentum yang membuat orang mengenang cerita letusan Tambora dan seakan-akan mereka bisa merasakannya. Semoga event festival Tambora setiap tahunnya mampu menghimpun ummat manusia untuk menapaktilasi jejak sejarah letusan Tambora,” tutup Gubernur.

Tambora Ditargetkan Untuk Pengembangan Budidaya Porang

Dalam kesempatan itu, Bupati Dompu, Kader Jailani mengungkapkan bahwa Gunung Tambora merupakan salah satu potensi warisan alam yang melimpah bagi masyarakat Dompu untuk dikelola dan dikembangkan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Menurut bupati, dalam pengembangan geopark Tambora pemerintah daerah bekerja sama dengan pengelola geopark Tambora akan terus menginisiasi pola pembangunan ekonomi masyarakat melalui sektor industri pariwisata yang dikemas dalam konsep pariwisata yang berkelanjutan. Sehingga membantu pemanfaatan keunikan geologi budaya dan alam secara masif.

“Pemerintah Dompu akan terus mengawal berbagai program pembangunan yang diarahkan pemerintah Provinsi NTB untuk menjaga kelestarian hutan. Khususnya kawasan hutan di lereng gunung Tambora yang menjadi kawasan Taman Nasional Geopark Tambora,” ungkapnya.

Oleh karena itu, katanya, melalui program unggulan Jara Pasaka (Jagung, Padi, Sapi dan Ikan) diyakini akan mampu mengembalikan fungsi hutan dimana dalam pengembangan komoditi khusunya Porang yang mengharuskan adanya tanaman pelindung bagi tumbuh suburnya tanaman Porang.

“Sehingga tanaman pelindung dalam hal ini pohon-pohon besar yang melindungi tanaman Porang. Di samping kita melestarikan hutan, kita juga dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat melalui Komoditi Porang,” jelas bupati.

Menurutnya, program Porang tentu menjadi penopang dalam upaya melestarikan fungsi hutan di Kabupaten Dompu. Sehingga bencana banjir yang melanda di beberapa wilayah di Kabupaten Dompu dapat diminimalisir dengan hadirnya prgogram penanaman Porang ke depannya.

Dalam pembukaan event festival geopark Tambora tersebut turut dihadiri oleh Kepala Balai Taman Nasional Tambora, Yuniadi. MG Geopark Tambora, Hadi Santoso, beberapa kepala OPD Lingkup pemerintah Provinsi NTB serta ratusan siswa-siswi SMA/SMK se- Pulau Sumbawa. Dalam pembukaan festival Geopark Tambira juga dimeriahkan oleh tari Wura Bongi Monca persembahan dari SMAN 1 Dompu, Tari Nangi Doro Tambora dari SMK 1 Pekat dan senam Gemar Gatra dari Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Provinsi MTB. Manikp

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.