Berbagi Berita Merangkai Cerita

Ini Tiga Kasus Anak di NTB yang Kian Marak Ditengah Pandemi Covid 19

133

Foto Pertemuan evaluasi dampak pandemic Covid – 19 pada anak yang berlangsung dikantor DP3AP2KB Provinsi NTB

Mataram,DS – – Persoalan dan kasus anak ditengah pandemi Covid – 19 menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi NTB. Melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB), Pemerintah mengajak berbagai stakeholder untuk bergerak bersama menghadapi berbagai ancaman berbagai jenis kasus anak yang semakin mengkhawatirkan.

Kepala Dinas DP3AP2KB Ir. Husnanidiaty Nurdin, M.M menjelaskan, berbagai kasus yang terjadi pada anak ditengah Pandemi Covid – 19, diantaranya banyaknya anak – anak yang terdampak positif Covid – 19, kasus perkawinan diusia anak dan kasus kekerasan terhadap anak.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi NTB terdapat sebanyak 549 atau 17,4% kasus positif Covid – 19 pada anak di Provinsi NTB. Maraknya perkawinan usia anak mencapai sebanyak 608 kasus di Prov. NTB berdasarkan data pengajuan Dispensasi Pernikahan yang bersumber dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) dan data dari aplikasi SIMFONI sebanyak 141 kasus kekerasan anak sampai dengan bulan September 2020.

“Dampak dari Pandemi sangat besar sekali pada anak, sehingga perlunya diadakan pertemuan untuk diskusi perihal yang terjadi dilapangan dan sama – sama untuk mencarikan upayanya” tutur mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTB pada pertemuan evaluasi dampak pandemic Covid – 19 pada anak yang berlangsung dikantor DP3AP2KB Prov NTB, Kamis (24/09).

Jumlah kasus perkawinan anak semakin mengkhawatirkan itu, menurut Ibu Eni, utama disebabkan salahnya pola asuh ditengah keluarga. “Adalah pola asuh yang kita harapkan dari orang tua yang masih belum didapatkan. Tidak adanya kehangatan dikeluarga juga menjadi masalah” jelasnya.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, melihat kondisi anak bersama dengan orang tua ditengah pandemi semakin senggang, dikarenakan tingkat aktivitas anak terhadap gadget lebih tinggi, sehingga banyak anak – anak semakin susah diatur.

“Seharusnya di tengah pandemi kelekatan anak dan orang tua semakin intens, tetapi di lapangan banyak orang tua yang mengeluh dengan anaknya dikarenakan kebanyakan anak – anak bermain game,” tuturnya.

Dr. Rusnawi faisal, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Daerah Provinsi NTB, menjelaskan bahwa efek dari pernikahan anak bagi kesehatan begitu banyak, Bagi perempuan sebagian besar terkena penyakit kanker rahim dan bagi laki – laki terkena penyakit kanker prostat.

“Sebagaian besar penderita penyakit kanker rahim jika ditelusuri ternyata menikah diusia muda, sedangkan bagi laki – laki dipaksa untuk mengeluarkan sperma dan semen diusia muda itu tidak baik,” jelasnya.

Hadir dalam kesempatan tersebut, berbagai perwakilan perangkat daerah provinsi NTB dan stakeholders terkait lainnya. sherli/fjr

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.