Minggu , 23 Februari 2020
Home / Hukum / Siap Koperatif kepada Polisi, Owner Metzo Ngaku Tak Pernah Sediakan Paket Penari Striptis
Wolini

Siap Koperatif kepada Polisi, Owner Metzo Ngaku Tak Pernah Sediakan Paket Penari Striptis

MATARAM, DS – Owner Metzo Executive Club & Karaoke, Senggigi, Lombok Barat, Ni Ketut Wolini, mengatakan, penangkapan terhadap dua orang penari telanjang berinisial YM (35), SM (23) dan pria berinisial DA (43) oleh jajaran Polda NTB di luar pengetahuannya.

Menurut Wolini, pihaknya tidak pernah menyajikan ‘partner song’ yang melayani konsumennya dalam paket khusus berupa tarian striptis seperti yang dituduhkan selama ini. “Sebagai owner saya sama sekali tidak tahu karena memang managemen Metzo tidak pernah menyediakan paket seperti itu,” ujarnya menjawab wartawan di kediamannya di Mataram, Kamis (13/2).

Ia menegaskan, dalam mengelola usaha karaoke selama ini, pihaknya telah menyaratkan pada manajer pengelola karaoke agar mematuhi ketentuan dan rambu-rambu yang sudah menjadi ketentuan perusahaan. Diantaranya, tidak boleh memperkejakan pemandu lagu dibawah umur, melakukukan boking online (BO) dan membawa narkoba di ruangan karaoke.

“Jadi, dengan adanya penggerebakan oleh aparat kepolisian itu, maka perusahaan tidak akan pernah memberiian toleransi pada pelakunya. Silahkan mereka mempertangung jawabkan sendiri perbuatannya karena kami tidak akan melakukan pembelaan pada upaya-upaya dan perbuatan yang melanggar hukum,” tegas Wolini menegaskan.

Ia menuturkan, demi nama Tuhan atas ajaran agama yang dianutnya, pihaknya sama sekali tidak mengatahui dengan detail terkait kasus yang menimpa salah satu karyawannya tersebut. Mengingat, selama satu minggu penuh, dirinya tengah berada di Jakarta dalam rangka kegiatan organisasi yang dipimpinya. Yakni, PHRI dan Apindo NTB.

Kata Wolini, jika merujuk rekam jejak perusahaanya, dia mengaku tidak akan sebejat itu menyiapkan paket khusus berupa tarian striptis seperti yang dituduhkan itu.

“Saya tahu itu pas balik kemarin ke Lombok. Kok sangat heboh di berbagai media terkait pemberitaanya. Termasuk, di media sosial. Makanya, selaku owner saya kecolongan dan siap mematuhi proses hukum yang kini masih berjalan di Polda NTB,” jelas Wolini.

Terkait kontrak kerja karyawan, pihaknya melakukannya dengan pengelola karaoke dan bukan dengan partner song (PS). Sehingga, jika ada klausul perjanjian kerja yang telah dilanggar seperti saat ini, maka sudah menjadi kewajiban perusahaan untuk memberikan sangsi tegas yang berujung pemecatan pada karyawannya tersebut.

“Kalau kami menerima setoran dari pengelola tempat karaoke. Yakni, dari hasil orang belanja yang datang. Dan bukan dari pemesanan paket khusus yang dituduhkan itu. Karena memang, management Metzo punya rambu-rambu yang harus dipatuhi,” ucap Wolini

“Saya luruskan di sistem perusahaan kami itu, umumnya PS itu direkrut oleh papinya yang ketangkap itu. Jadi, PS itu bukan karyawan kecuali papinya adalah mitra kerja kami dalam mengelola tempat karaoke,” sambungnya.

Wolini menambahkan, lantaran kasus ini sudah ditangani aparat Polda NTB, maka pihaknya siap kooperatif untuk datang memenuhi panggilan Polda NTB. “Yang pasti jika diperlukan datang kami siap membantu kinerja jajaran Polda NTB untuk memberi keterangan yang sebaik-baiknya kedepannya,” tandas Wolini.

Sebelumnya, jajaran Polda NTB menangkap dua penari telanjang (striptis) yang bekerja di Metzo Executive Club & Karaoke Lombok, kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat.

Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto mengungkapkan dua penari telanjang yang ditangkap berinisial YM (35) dan SM (23). “Jadi dua pelaku ini tertangkap tangan melakukan tarian telanjang atau striptis. Mereka adalah ‘partner song’ yang melayani konsumennya dalam paket khusus berupa tarian striptis,” kata Artanto.

Selain kedua penari telanjang ini, polisi juga menangkap seorang pria yang diduga berperan sebagai mucikari. Pria yang dipanggil “papi” tersebut berinisial DA (43). Apalagi, untuk menikmati tarian stirptis ini, konsumen lebih dulu harus mengirimkan uang Rp 2,5 juta melalui transfer rekening Bank BCA milik DA. Setelah uang diterima, konsumen sudah mendapatkan kamar khusus dengan fasilitas dan pelayanan berkelas.

“Jadi dari paket khusus ini, kedua pelaku (YM dan SM), harus melayani selama tiga jam. Untuk paket plus-nya, ada biaya tambahan Rp3 juta per ‘partner song’,” ungkapnya. RUL.

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Tak Dihadiri Danrem, Kapolda dan Kabinda, Kelanjutan Kontrak Kerjasama Aset Pemprov di Trawangan Mentok

MATARAM, DS – Tim terpadu penyelesaian masalah investasi di Gili Trawangan belum bisa memutuskan kelanjutan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: